-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MATAHARI DI LANGIT PANGANDARAN

Rabu, 27 November 2019 | 17:07 WIB Last Updated 2019-11-27T10:17:14Z
MATAHARI DI LANGIT PANGANDARAN
Ilustrasi diambil dari weneedfun.com

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Di rembang subuh aku berjalan-jalan sendiri, menyusuri kelokan jalan menuju dermaga, di sana langit masih agak gelap, cahaya matahari bertahta di garis langit dan laut, begitu temaram, berpendar berwarna keemasan memberi silhuet yang indah.

Dan aku tertegun menatapnya, di sana ada bayangan wajahmu yang basah mengkristal dari gigil rembang subuh.

Dulu, dulu sekali, di sini, di jembatan bambu tempat para pemancing duduk dan menunggu pancingannya mengenai ikan.

Kami duduk berdua mengongkang kaki, menikmati suasana rembang subuh yang masih gigil dan angin laut mendesir.

Aku dan Reymond menikmati matahari terbit di sebuah pantai Pangandaran Ciamis. Dan momentnya dia potret, dan begitu indah, sinarnya mengambang beriak keemasan. Menambah romantis suasananya.

"Diana, coba lihat sini! Matahari mau naik sebentar lagi, cahayanya seperti wajahmu yang keemasan!" Katanya.
Lalu dia menggamit tanganku mengajak aku ke titian bambu untuk melihat matahari terbit.

Matahari mulai merangkak ke permukaan langit perlahan tapi pasti, dan tak terasa seperti sudah di atas kepala kami.

Semakin lama semakin menyengat panas. Untungnya aku membawa sebuah topi lebar berpita merah muda dan kaca mata hitam pemberian Rey ketika aku merayakan hari ulang tahunku, dan kadonya, Rey membawa aku ke laut Pangandaran.

Pangandaran, di sini kunikmati kado ulang tahunku bersama matahari terbit, berwarna keemasan dan silhuetnya membayang indah, seindah hatiku yang sedang bahagia.

"Diana, selamat ulang tahun ya, semoga di rembang subuh ini kau bertambah cantik ya!" Matanya mengerling padaku.

"Diana, besok aku sekalian pamit akan berangkat tugas ke Lubuk Linggau, dan kutitip hatiku ya, agar kamu selalu ingat aku, dan aku ingin kamu tetap menatap matahari di rembang subuh!" Katanya.

Tiga musim aku menantimu di sini, di dekat sampan Muara 15 yang teronggok membisu, kapalmu mengabarkan kabar duka dari seberang lautan sana, dan aku limbung di antara bebatian di pesisir tempat kita sering bercanda ria dalam gelak tawa.

Kini hatiku telah karam terbawa buih ombak karena kamu telah tidur di keabadian.
Dan aku sendiri menyusuri kelokan yang kian berkabut dalam senyum yang melankolis di pesisir membisu sepanjangnya...

Pangandaran, 27 November 2019

×
Berita Terbaru Update