-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Merinding! Ternyata Bule Yang Ingin Jadikan Aku Istrinya, Penghuni Kota Tua

Sabtu, 23 November 2019 | 18:04 WIB Last Updated 2020-01-30T01:53:04Z
Merinding! Ternyata Bule Yang Ingin Jadikan Aku Istrinya, Penghuni Kota Tua

Karya: Wiwin Herna Ningsih

Pada terik sang mentari di ujung kemarau panjang, di bulan Agustus, dalam perjalanan yang melelahkan, menyusiri sepanjang lorong Kota Tua. Yang membawa kisahku mengembara dalam deru kendaraan roda dua.

Aku dan Hari berkeliling Kota Tua, meresapi indahnya kisah kasih berdua, dalam rasa yang merona, dan penuh kenangan, melenggang di sekitar kota betawi yang panas dan hiruk pikuk.

Kota Tua adalah kota sejuta legenda masa lampau, di masa penjajahan Belanda, dan kunikmati perjalanan ini antara bahagia dan melelahkan.

Hani, yuk kita membeli pepaya dulu, tuh di sana dekat pohon pasti adem!"

Hari mengajakku berhenti, istirahat sejenak, karena perjalanan ke kota betawi dari Bandung memakan waktu empat jam.

Sambil mengunyah sepotong pepaya dingin, aku memandangi kendaraan yang tiada hentinya menderu di jalan aspal.

"Kamu senang ya, berjalan-jalan ke sini yang penduduknya padat, panas lagi!" Katanya, sambil minum air mineral dan diberikan padaku. "Iya," kataku.

Aku ingat sewaktu aku berumur sepuluh tahun, sering diajak oleh ayahku ke Beos tempat ayahku bekerja. Dan tak seramai seperti sekarang ini. Pembangunan begitu pesat, dan modern.

Gedung-gedung bertingkat semakin menjulang, udara semakin panas, tetapi masih ada pepohonan yang meneduhkan. Seperti aku yang duduk di bawah pohon beringin, melelapkan kantukku, namun perjalanan masih satu jam lagi yang akan kutempuh.

"Ayo kita jalan lagi, nanti keburu panas!" Katanya. Sambil mendekati motornya.

Kota Tua, tempatku berpijak mengaliri aroma magis masa lampau, semua wisatawan berkumpul di sini, ada yang berkeliling gedung tua, ada yang bersepada ontel dengan gaya noni noni Belanda, memakai gaun dan topi lebar berenda, ada yang berfoto ria bersama sang idola jagoan yang seperti film kartun di televisi.
Hari senang melihat aku bahagia berkeliling gedung dan berpoto ria.

Hanya aku merasa, aku ini seperti indigo, bisa merasakan kehadiran seorang laki-laki bule dengan balutan putih pada masa penjajahan, dia duduk sendiri dan menatap, aku menoleh padanya.

Karena Hari suka dengan batu akik, dia sibuk memilih-milih batu akik. Aku meminta ijin pada Hari untuk duduk di kursi yang ada payung raksasanya.

"Kamu berani duduk di sana sendiri, kan tak ada orang di sana?" Katanya. Lho, kan ada laki-laki Belanda di sana, biar aku ikut berbincang siapa tahu aku bisa diajak ke Belanda, pikirku. Tetapi Hari tak melihat siapapun. Aku diam saja, takut menimbulkan curiga.

"Iya, tak apa-apa, kakiku sakit, aku ingin duduk dulu dan istirahat sejenak, boleh kan!" Kataku, setengah memaksa. "Ya sudah silahkan, tetapi janji tak ke mana-mana ya!" Katanya. Aku mengangguk dan melangkah menuju kursi kosong, yang ada orang bulenya.

Ketika aku duduk dia tersenyum padaku, dan mengangguk melepaskan topi putihnya yang bulat, pakaiannya jas putih, di sakunya ada jam bulat berantai kuning emas, ternyata dia bisa berbahasa lndonesia, dia bertanya aku dari mana, aku katakan aku dari Bandung, orang bule itu tahu Bandung itu di masanya di sebut dengan nama Parijs Van Java, aku katakan sekarang juga masih memakai nama Parijs Van Javanya.

Dia mengangguk dan bertanya siapa namaku, dan dia menyebutkan namanya Wihelm Van Brost, katanya dia lahir tahun 1882, waduh, aku kok menjadi merinding, kupikir aku sedang berbincang dengan hantu Belanda, dia tahu jalan pikiranku, dia katakan jangan takut padanya.

Tiba-tiba ada angin mendesau, mataku seperti mengantuk dan terlelap. Dan aku terlempar ke masa lalu, masa penjajahan Belanda.

Tanganku digenggamnya berjalan-jalan di sekitar gedung yang indah bercat putih, semua perempuan memakai gaun panjang dan topi lebar berenda, hanya aku sendiri yang memakai celana Levis biru dan kaos loreng tangan panjang dan menenteng jaket hitam yang kupakai selama perjalanan.

Wihelm katakan, aku beruntung diajak berjalan-jalan dengannya,  kupikir memang aku beruntung bisa berjalan-jalan bersama cowok bule yang ganteng, tanpa Hari tahu, tetapi juga takut kepergok Hari.

Aku diajak ke sebuah Cafe Beer untuk minum, aku menolak untuk minum, untungnya dia baik, tak memaksaku, aku melihat gedung minuman, dan mereka semua berbicara dengan bahasa Belanda. Aku tak mengerti bahasanya.

Wihelm katakan padaku, maukah aku menjadi istrinya, aku terkejut, aku ingat Hari, dia kekasihku, aku kasihan padanya.

Aku katakan aku ingin pulang, karena pasti Hari lama menungguku, untung bagiku, cowok bule itu hatinya baik, aku diijinkan pulang. Dan diantarkan lagi ke kursi tempat kami duduk .

"Honey, terima kasih sudah menemaniku berbincang dan berjalan-jalan ya!" Katanya, sambil memegang tanganku. "Aku akan merindukanmu selalu!" Katanya. "Sama-sama Mister," kataku, sambil menatap matanya.

Dan tiba-tiba ada pusaran angin di mataku, aku mengantuk sekali dan tertidur, sampai tanganku ada yang mengguncang-guncangkanku.

"Hani, bangun sayang!" Itu suara Hari. "Kamu tertidur ya!" Katanya lagi. Aku bengong, kenapa ada Hari di hadapanku, antara sadar dan tidak aku bergumam "Mana Wilhelm...mana?" "Hey, kamu mengigau sayang, lihat orang-orang pada melihat kita!" Katanya. Aku tak habis pikir, kenapa aku seperti minum obat tidur di siang hari yang terik seperti ini?"

Aku mengingat-ingat, apakah aku bermimpi atau ah...sudahlah, aku bingung sendiri, apa yang terjadi dengan diriku?

Setelah aku di beri minum oleh Hari yang di temani bapak tua yang jemarinya penuh dengan cincin batu akik, beliau mengatakan aku sudah diajak berjalan oleh penghuni gedung tua dari masa lampau.

Bapak itu mengatakan bahwa memang kursi ini tempat duduk orang Belanda itu, hiiyyyy...merinding aku jadinya.

"Makanya, tadi kan sudah kukatakan jangan sendirian di tempat sepi, untung tidak menjadi istrinya, coba kalau jadi istrinya si Wihelm, aku pasti patah hati!" Katanya, sambil tertawa.

Aku berpikir untung Wihelm baik hatinya, kalau tidak , aku pasti disandera dan tak bisa pulang ke dunia nyata lagi.

Ternyata betul kata orang, Kota Tua, kota sejuta misteri, dan aku yang mengalami sendiri kisah misteri ini, dan menjadi pelajaran bagiku yang sangat berharga.

Bahwa sesuatunya jangan suka menyendiri di tempat sepi. Dan Hari berjanji akan selalu menjagaku, selalu dekat denganku, terkadang aku rindu di panggil " HONEY" ....hiiiiyýy....

Bandung Barat, 22 November 2019
×
Berita Terbaru Update