-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mungkin, Rumit, Kelas, Kelabu

Kamis, 21 November 2019 | 18:47 WIB Last Updated 2020-01-30T01:45:36Z
Mungkin, Rumit, Kelas, Kelabu

Oleh: Chris Jata

MUNGKIN

Kau adalah puisi yang
slalu aku tulis dikala
senja bertengger diatap halimun dan
aku adalah sajak yang tak pernah kau baca..

Sajaku masih berhamburan
Diksinya masih kacau, dan
berantakan Tulisan anak bawang, yang
 masih seumuran jagung.
Belum liar dalam meracik kata dan
memungut diksi Setiap kata yang dituangkan dalam
bait-bait aksara sejatinya aku
tumpahkan padamu!
Atas namamu dan segala inginku; biarlah
kau dan aku menjadi kita dalam
menikmati keindahan cinta hingga
usia senja.

R U M I T

Siapakah aku ini..?
apakah seorang yang hanya mengulum sekelumit rumit menujumu
Kendati bisa bersamamu adalah dambaan terbesarku
Aku sadar memilikimu bukanlah hal yang mudah,
malah membuatmu semakin jauh dan pergi.

Siapakah aku ini..?
seorang yang hanya bisa memiliki asa tanpa bisa mengejawantakannya,
meskipun demikian seribu rasa bahkan miliyaran cinta tetap menggenangi hati!
Siapakah aku ini..?
seorang yang bukan kaum borjuis yang tidak selevel denganmu?
Kendati aku putra seorang marhaen, menujumu seakan tabuh.
Siapaka aku ini..?
aku adalah aku, ya sampai kapan aku adalah tetap aku.
Yang tanpa kamu, aku bisa menjadi aku!
Semoga tidak sekedar sajak, yang terkapar menujumu.

K E L A M 

Jatuh terkapar di sudut sepi belantara 
Hanyut, terseret, terselubung dalam luka 
Terlihat hanyalah duka 
Yang menjelma kesedihan. 

Kini... 
Aku terhempas ke tengah pusaran waktu 
Rapuh aku pada sebuah asa 
Entah tanpa ada pasti 
Di tikam harap yang kian memudar 
Terhempas jatuh kedasar samudera. 

Tapi... 
Mencoba bangkit memeluk angan 
Apalah daya kaki terseret, tangan terseok 
Mungkin ada satu solusi Berharap pada ilahi 
Dengan tangan terkatup, 
Berkenan persatukan kita.

K E L A B U 

Senja kini datang lagi 
Menjumpai petang mengabari malam 
Ada sejumput rindu tergores di ujung senja 
Tentang kamu, masih terpatri dalam kalbuku 
Terlalu pagi bagiku untuk melupakanmu! 

Rasa rindu, lebih kuat dari rasa ingin dan 
membuat aku terkapar di ujung pilu 
Senja yang muram di antara langit-langit biru 
Burung-burung berterbangan pulang ke sarang sambil bernyanyi 
Kini aku sadari, senja telah berlalu 
Aku tak lagi memilikinya, 
Senja kini telah berlalu.. 
Sungguh tentangmu menggumpal lewat matahari sore yang sendu! 

Kau yang dikala dulu, datang dan menjumpai lewat senyum tanda cinta 
Berbagi sepi penuh syahdu 
Cerita kita telah menjadi pil pahit yang harus aku telan di tiap jingga. 
Meski kau dan aku bukan lagi kita, 
kulipat seperempat kenangan, 
mencari simetri di setiap sajak-sajak puisi rindu tak bertuan, 
namamu masih kutemukan.

Ilustrasi diambil dari tebuireng.online
×
Berita Terbaru Update