-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUNCAK ASRI

Senin, 18 November 2019 | 21:59 WIB Last Updated 2019-12-04T22:07:24Z
 PUNCAK ASRI
Gambar ini diambil dari villadipuncak.anyerpedia.com
Oleh : Wiwin Herna Ningsih

"Yuk, turun dulu, kita sarapan bubur ayam dulu ya, agar perutmu tak keram!" Katamu. Tanganku menggigil kedinginan, udara berkabut tebal dan rinai hujan tiada hentinya. Jemariku menjadi beku.

Padahal sudah kupakai jaket plus jas hujan, tetap dinginnya terasa menelusup ke tulang sumsumku. "Mau bubur apa mau nasi?" Katanya, sambil menggenggam jemariku. "Aku mau nasi putih dan daging bebek lado ijo!" Kataku.

Aku tahu, bila makan bubur, badanku selalu lemas. Dan Edho senang sekali sarapan bubur ayam. Dan bubur ayamnya di restoran PUNCAK ASRI memang enak, ketika aku mencicipi satu sendok makan di mangkuk Edho.

Hujan bertambah deras, dan kabut bertambah tebal, pandanganku begitu samar, lampu neon yang menggantung hanya temaram, badanku terasa kaku saking dinginnya.

"Dini, kita duduk-duduk dulu di sini ya, nanti kita lanjutkan perjalanan kita!"

Katanya, menatapku begitu sayu, dan bibirnya membiru karena kedinginan, wajahnya mengkristal karena air hujan yang mengembun di wajahnya. Aku tak tega melihat dia begitu kedinginan.

"Dini, seandainya aku tak ada, apakah kamu akan mengenangku?" Tanyanya. Membuat aku terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.

Aku tak bisa menjawabnya, pikiranku kacau, karena hatiku tak bisa membayangkan bila dia meninggalkanku. "Dini, ayolah, kenapa diam?" Katanya lagi. "Aku, tak apa-apa Edho!" Kataku, meyakinkannya.

Kualihkan pandanganku ke jalan raya, semua kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat diam di tempat, keadaannya macet parah, dan kabut bertambah tebal, lampu-lampu di sepanjang trotoar hanya samar cahayanya, mereka semua diam kedinginan.

Aku berbicara dalam hatiku sendiri. "Apakah kaupun akan pergi dan membuat hatiku sedih, selamanya, dan seperti kabut di jalanan akan selalu mengelabu."

"Ah, aku takkan sanggup bila Edho meninggalkanku." "Hey, kenapa melamun?" Katanya, membuatku terkejut. "Oh, aku sedang melihat jalanan yang berkabut, Edho!" Kataku.

Aku mengelak dari pertanyaannya. Dan aku bertambah terkejut melihat wajah Edho membiru.

"Edho, kamu tak apa-apa kan?" Tanyaku. Aku mengkhawatirkan dengan keadaan Edho. "Aku tak apa-apa Dini, sudahlah, jangan mengkhawatirkan aku ya!" Senyum di bibir Edho mengembang.

"Kamu lihat itu pohon-pohon pinus tetap tegak dan kokoh walaupun kabut menyelimutinya, dan hujan mengguyurnya, walau kemarau mengeringkan ranting-rantingnya, pohon itu tetap menjulang, aku ingin hatimu sekokoh pohon pinus, walau apapun yang terjadi di antara kita!"
Katanya, panjang lebar dengan filosofinya.

"Duh, apa yang kamu bicarakan Edho, batinku bicara sendiri. "Iya!" Kataku. Aku mengangguk, walaupun aku tak tahu maksud dari kata-kata Edho.

"Ayo, kita jalan lagi ya, lihat, hujan sudah reda, bukankah kamu ingin ke puncak bukit teh, dan menikmati pemandangan!" Katanya. Sambil menarik tanganku menuju parkiran motornya.

Aku dan Edho menuju jalanan yang masih berkabut walau hujan telah reda, terasa menelusuri sebuah lukisan berwarna kelabu dari barisan lampu neon yang sepanjang perjalanan, pohon-pohon pinus menjulang kokoh dan basah mengembun, aku memegang erat pinggang Edho, karena dingin yang amat sangat.

Pemandangan di atas puncak bukit teh terasa indah dan basah. Aku menikmatinya bersama sekulum senyum Edho. Aku begitu bahagia ada di sampingnya.

"Dini, setelah ini, aku ada pendakian nanti malam, semoga tak hujan, doakan aku ya, selamat sampai puncaknya!" Katanya.

"Iya Edho, kan selalu kudoakan untukmu setiap saat!" Kataku.
Memandang wajah Edho, terasa tak ingin berhenti memandangnya, entah kenapa?

"Dini, aku titip hatiku bersama helaian daun-daun teh ini untukmu ya!" Katanya, berpuitis, dan aku tertawa dengan melihat gayanya yang kocak ketika memegang helai daun teh.

"Lho, ini kan semua untukmu!" Katanya. Membuatku bertambah ceria ada di dekatnya. "Iya Edho!" Kataku, tersenyum bahagia.

Malamnya Edho ikut menyisir bukit teh bersama pendaki yang lain. Aku ikut mendoakannya agar Edho selamat sampai puncak.

Tetapi hatiku tak mau diam, dengan pikiranku yang kacau, entah mengapa aku mengkhawatirkannya.

Pagi, bukit teh tetap berkabut menyelimuti punggung bukit yang asri. Helai-helai daun teh mengembun basah, tanah yang kupijakpun masih basah.
Melihat langit berwarna kelabu seakan-akan menumpahkan tangisan ke dalam tanah.

Begitu juga denganku, aku menangis ketika ada kabar dari temannya Edho sesama pendaki, Edho jatuh tergelincir ke jurang, nyawanya tak tertolong, ternyata Tuhan tak mendengarkan doaku, aku menyalahkan diri sendiri.

Aku menangis dan berteriak pada langit kelabu. "Mengapa kau ambil Edhoku ya Tuhan?" Aku meraung-raung di antara helaian daun teh di atas puncak bukit, ketika akan menaikkan jasad Edho.

Sepeninggal Edho, hatiku masih berkabung. Dari balkon masih terlihat PUNCAK ASRI tempat aku dan Edho makan bubur ayam, masih terlihat gelak tawa kami berdua. Betapa singkatnya pertemuanku dengannya. Dan kata-kata Edho kini kumengerti. Dan itu adalah isyarat untukku.

"Edho, aku tak sekokoh pohon pinus, seperti yang kamu bayangkan, ranting hatiku patah berderak dan meranggas, hatiku tetap berselimut kabut tebal, tirainya pun tak bisa kusibak, maafkan aku Edho." Dan kuusap air mataku untuk yang kesekian kalinya.

Puncak Asri, 9 November 2019

×
Berita Terbaru Update