-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PURNAMA DI MANDALA KITRI

Sabtu, 23 November 2019 | 13:01 WIB Last Updated 2020-01-31T15:36:11Z
PURNAMA DI MANDALA KITRI
Ilustrasi: majalahhinduraditya

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Di sepanjang perjalanan perkebunan teh menghampar indah laksana permadani hijau lumut, indah meneduhkan netra yang gersang, angin menggigilkan badanku, walau sudah kupakai jaketku.

Ditrotoar jalan, pohon-pohon pinus meranggas melambai di tiup angin, seperti berlari menjauh, memanjakan rasaku.

Di sini di Bumi Perkemahan Mandala kitri, kulewati arus Kalimuju yang deras dan airnya sedingin es.

Batu-batu tangga berlumut dan licin sisa hujan semalam masih terasa basah ketika kupijak. Bila sedikit saja tidak hati-hati, mungkin aku terpeleset jatuh.

Dan lihatlah, lapangan rumput yang hijau menghampar laksana karpet tipis yang dihamparkan untuk menyambutku. Aku terpesona dengan keindahan alam yang asri, dan meneduhkan. Aku bagaikan dalam sebuah lukisan hidup, dan terperangkap di dalamnya.

Kabut masih menyelimuti perbukitan teh, karena sinar matahari masih mendekap kabut tebal, seakan tak ingin menampakkan cahayanya.

Aku kedinginan, gigiku gemelutuk, kugerakkan tanganku agar tak beku aliran darahnya.

Kutemukan bangku panjang pinus tua lapuk di dekat serimbunan pohon pinus, aku duduk dan istirahat sebentar untuk melepaskan penat.

Tiba - tiba dari balik kabut ada seorang laki-laki yang berpakaian coklat memakai kacamata hitam menghampiriku sambil membawa gitar.

"Boleh aku duduk di sini?" Katanya.
"Boleh," kataku, sambil menoleh kepada siapa yang datang.
"Yuk kita nyanyi bersama, aku yang main gitar, kamu yang nyanyi, mau tidak?" Katanya.
"Hehehe," kataku.
Karena aku yakin suaraku merdu seperti kaleng kerupuk yang di pukul.
"Ayo, tak apa-apa, suara jelek juga yang penting hati hepi!"

Tanpa aba-aba, aku pun menyanyi lagu Jayanti Mandasari yang berjudul Bukit Hijau dengan irama yang riang, walaupun suaraku serak sember aku senang bisa seriang ini, dan dia melirikku terus tanpa henti, sampai malu dibuatnya.

Rasanya pagi ini indah dan menyenangkan. Seharian aku berbincang dan menyanyi sampai waktunya makan siang, ternyata dia, Raka, baik juga padaku, biasanya dia acuh tak acuh pada setiap teman perempuan, tapi kenapa dia senang berteman denganku, aneh juga nih anak.

Selesai salat ashar dan makan sore, aku kembali lagi duduk di bangku tua pinus yang lapum, sendiri sambil menikmati pemandangan indah.

"Dooorrr...!!!" Katanya, mengejutkanku.
"Hayoo...kamu melamun ya!" Katanya, sambil cengar cengir.
Dia senang melihat aku cemberut dan ketakutan.

"Dari pada duduk melamun, yuk kita jalan -jalan melihat-lihat pemandangan!"
"Di lembah bunga ungu indah sekali pemandangannya!" Katant lagi.
Aku berdiri mengikuti ajakannya, karena peasaran, ingin melihat sampai di lembah, oww..., betapa menakjubkan sampai mulutku melongo.

"Awas ada lalat masuk mulutmu!" Katamu, mengejutkanku.
"Iihhh dasar kamu tuh, suka mengganggu kesenangan orang!" Kataku.
"Dasar tukang jahil!" Kataku, sambil mengambil kerikil kecil dan kulemparkan pada kakinya.
" tuh kan, begitu saja kok marah, hehehe,"
"Ayo kejar aku, jalau berani!"
Dia menantangku.

Aku kejar dia sampai jauh ke hutan pinus tetapi tak kutemukan. Sampai kabut menyergapku. Aku tersesat.

Dan terperangkap kabut tebal, aku ketakutan dan menangis, sambil memanggil-manggil nama Raka, tetapi suaraku menggema di sekitarku. Tak ada tanda-tanda Raka di hadapanku. Aku meraung dan menjerit ketakutan.

Tiba-tiba bahuku ada yang memegang, aku terperanjat sambil berlari, tetapi tanganku ada yang menahanku, dan tubuhku tiba-tiba dipeluknya, sambil berbisik di telingaku.

"Maafkan aku Rani, dari tadi aku ada di belakangmu, tak ke mana-mana!" Aku menangis menahan rasa takut dan marah pada Raka yang menjahiliku, walau begitu aku bersyukur dia ada di hadapanku.

"Ayo kita ke tempat duduk lagi!" Katanya, sambil menuntun tanganku dan yang sebelah kiri membawa senter ukuran saku.

Sampai di tempat duduk bangku panjang pinus lapuk, aku duduk dan menenangkan hatiku yang masih terkejut.

"Rani, aku minta maaf ya, tadi aku ingin melihat, seberapa beraninya kamu di tempat yang asing, sendiri lagi," katanya, sambil mengusap air mataku. Aku terdiam tak mau berkata-kata lagi, aku madih marah dan terkejutku belum hilang.

"Sebetulnya aku sayang kamu sejak kita sekolah SMP, tetapi aku baru betani mengutarakannya sekarang," katamu, membuatku lebih terkejut, mana mungkin dia sayang aku, orangnya acuh tak acuh, dingin dan jahil, bagaimana bisa, seribu pertanyaan ada di kepalaku.

Aku semakin diam, dan kutundukkan kepalaku, menekuri diri. Namun betapa aku terutama hatiku, kutanya diri sendiri, apakah betul dia sayang aku? Aku bingung harus menjawab apa?

"Rani, nanti malam ada pentas seni untuk acara api unggun, kamu mau kan membuatkan aku sebuah puisi?" Katanya, sampai melotot melihatku, dan aku tersenyum, kasihan juga dia, aku diamkan dari tadi.

"Iya, dan kamu yang memberi irama pada puisiku dengan gitarmu, mau ya?" Jataku, setengah memaksa.
"Iya, tetapi ada syaratnya!" Katamu, membuat aku penasaran. "Iya, tetapi apa syaratnya?" Kataku, penuh tanda tanya. "Maukah kamu menjadi pendampingku untuk selamanya?" Katanya.

Yaa Rabb, itu adalah kata-kata sakral yang belum pernah kudengar seumur hidupku dari mulut seorang lelaki, dan kini dia mengutarakannya pada saat yang tepat, ketika aku mulai suka padanya.
Aku tak menjawab, tetapi kepalaku mengangguk.

"Terima kasih Rani, kutitipkan hatiku pada kamu selamanya ya!" Tanganku bergetar, pipiku metona, aku merasa senang juga malu, tak pernah aku sebahagia ini, seumur hidupku.

"Dan ini setangkai pucuk pinus, kamu simpan di buku diarymu, agar kamu selalu ingat tentang kenangan kita di lembah bunga ungu ketika kamu tersesat ya!" Katamu. Dan aku langsung mencubit lengannya, ingat atas kejahilannya padaku.

Selesai salat isya, di Bumi Perkemahan Mandala Kitri, acara puncak yang di tunggu-tunggu yaitu api unggun yang selalu mengalun setiap saat.

Malam semakin larut semakin menggigil walau terang dan hangat oleh api unggun. Namun hatiku kini sehangat api unggun yang diciptakan Raka ke dalam hatiku.

Karena di sepanjang malamgiliran aku membaca puisi dan di iringi gitar Raka semakin syahdu menyelami malam yang penuh warna dari rasa cinta yang pertama terpatri di hatiku dan Raka. Dan inilah puisi buatanku.

PURNAMA DI MANDALA KITRI

Malam berkabut menggigilkan rasa
Ad warna yang merona dari sinar api unggunmu
Yang terpatri dalam jiwa sederas arus Kalimuju
Dalam lembah hati di hamparan semak bunga ungu
Seindah cinta yang menjejak pertama kali
Pada kenangan bangku pinus tua yang lapuk
Tempat kita mendenting rasa pada malam yang purnama
Di kekaburan pucuk pucuk pinus yang tertutup kabut
Setangkai pucuk pinus kan kusimpan pada buku diaryku
Tempat aku mencurahkan kasih sepanjangnya

Di sini cinta pertama menjejak di antara batu batu yang berlumut
Menghiasi hari hariku
Sepanjang kisahlu
Aku dan Raka begitu bahagia, perasaan cinta bertabur bunga ungu di antara rimbunnya jeteduhan pohon pinus.
Seperti purnama di mandala Kitri
Kenangan terindah sepajangnya.

Bandung Barat, 21 November 2019

Ilustrasi diambil dari en.netralnews.com
×
Berita Terbaru Update