-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

REINKARNASI CINTA

Sabtu, 16 November 2019 | 07:37 WIB Last Updated 2020-01-31T15:46:22Z
REINKARNASI CINTA


Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Sore yang berkabut membawa langkahku ke dermaga Situ Cileunca. Dari jauh terlihat Gunung Tilu menjulang samar tertutup kabut.

Sampan-sampan berbaris rapi beraneka warna menarik perhatian. Kunikmati bentangan alam yang begitu indah dan romantis.

Udara terasa sejuk dipadukan dengan lampu-lampu neon sepanjang dermaga begitu kontras dengan air yang beriak biru.

Dan silhuetnya membayang keemasan, menambah kemilau dalam rasa dan tatap mataku.

Tiba-tiba....BUGGG....aku menabrak seseorang yang sedang jongkok membetulkan tali sepatunya.
"Oh maaf ya!" Kataku.

Setengah terkejut, dan merasa bersalah, karena sambil berjalan mataku jelalatan melihat pemandangan yang begitu memesona mataku.

Aku minta maaf padanya, yang kutabrak malah melotot matanya menatapku seperti melihat hantu, dan terlihat gugup memandangku. Tangannya berayun-ayun sepertinya salah tingkah.

"Tak apa-apa!" Katanya.
Tetap mematung memandangku tak berkedip, kulirik matanya  menatapku dari bawah kakiku dan ke atas wajahku, begitu terus tak berhenti.

Aku berbicara dalam hatiku "ko aneh nih orang." Akhirnya aku pamitan setelah minta maaf, dan berlalu meninggalkannya mematung.

Setelah langkahku agak jauh, aku menengok ke belakang, dia masih mematung memandangku.

Ketika malam Minggu, kakakku Raditya mengajakku ke rumah kerabat temannya, untuk reunian, dan aku diajaknya untuk ikut ke pertemuan, dari pada di rumah bengong sendirian.

Di PULO ada rumah peninggalan Belanda, dan dari sana pemandangan malam begitu menakjubkan di sepanjang kelokan jalan, lampu-lampu berkelip, seperti bintang-bintang yang ditaburkan menghampar berpadu dengan kabut kelabu, duh...begitu romantisnya.

Ketika aku dan kakaku Raditya memasuki rumah besar itu, semua orang memandangku dan berbisik-bisik, entah apa yang dibicarakan mereka.

Aku begitu penasaran, namun aku pura-pura tak tahu, kulemparkan senyumku pada teman-temannya kakakku.

Ketika acara bebas, aku pergi ke balkon di tingkat dua, di sana kunikmati pemandangan malam Situ Cileunca. Ternyata di balkon aku tak sendiri, kulihat ada seorang pemuda, yang tadi sore kutabrak di dermaga.

Aku terkejut dia memandangku dengan tatapan yang salah tingkah. Aku mengangguk padanya dan kulemparkan senyumku.

Dia hanya mematung memandangku tak bergeming, dan tatapannya dingin, acuh tak acuh. Dia membalas senyumku sepertinya dengan terpaksa.

"Heyyy....!!! Kalian sudah pada kenal ya!!!" Tiba-tiba kakakku Raditya mengejutkan aku, terasa jantungku seakan berdegup kencang.

"Kucari dari tadi, ternyata kalian mojok di sini ya!" "Ayo Giri, kenalkan ini adikku semata wayang!" Katanya. "Dara, kamu kenal dengan Giri di mana?

Dia temanku sewaktu kuliah dulu!" Katanya. Bicaranya tak memberi peluang untuk aku menjawab. Aku dan Giri hanya mesem saja.

"Giri, aku titip adikku dulu ya, coba bawalah dia jalan-jalan sekitar Situ Cileunca ya, aku mau mengantarkan Soni dan teman-teman ke Bandung dulu ya!" Pintanya.

"Siap Tuan!" Kata Giri, sambil tersenyum.
"Ayo Dara kita jalan-jalan!" Ajaknya.

Aku dan Giri berjalan bersisian, sambil tetap diam tak bicara sepatah katapun, dia duduk aku ikut duduk, dia berjalan aku ikut berjalan, begitu seterusnya, tak bergeming.

Kenapa ketika dia berbincang dengan kakakku dia terlihat gembira. Tetapi di dekatku dia diam seribu bahasa.

Malam semakin beranjak kelam, tepian dermaga bertambah sunyi, kami berdua duduk di bangku panjang, sambil memandang riak air yang keemasan, dan lampu-lampu sekitar dermaga berkelip temaram katena kabut semakin tebal.

"Dara, yuk kita ke rumahku, nanti kamu kedinginan!" Akhirnya dia buka suara, aku agak lega, tak menjadi patung lagi.

Sesekali matanya menatapku dalam diam. Seakan takut kepergok, apa yang dia tatap.

"Dara, silahkan duduk ya, aku buatkan teh manis, agar badanmu tidak kedinginan!"

Katanya, sambil pergi ke ruang makan dan tak lama membawakanku secangkir teh manis hangat. Tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk.

"Dara, sebentar ya!" Katanya, sambil membuka pintu.
"Iya!" Kataku, sambil mengangguk.

"Dara, boleh ya, kamu pindah duduknya di ruang kerjaku ya!" Katanys, sambil mempersilahkan tamu duduk di ruang tamu.

Aku duduk di meja kerja Giri, dan mataku menatap buku diary Giri. Mau tak mau aku membaca huruf-huruf di depan mataku.

Walaupun aku tak mau mengintip apa yang tertera, aku tertarik karena ada persamaannya denganku. Dan membuatku penasaran.

"Seruni, tadi sore aku bertemu dengan gadis yang mirip denganmu, jantungku hampir putus, kukira kamu hidup lagi, dia menabrakku ketika aku sedang membetulkan tali sepatuku”.

Aku tatap dia dari kaki sampai rambutnya, seperti pinang di belah dua dengan wajahmu, aku serasa bermimpi. Dan aku tak kuasa memandang wajahnya, aku takut sekali.

Dan degup di jantungku semakin kencang, serasa hidup lagi, semangatku bangkit lagi dari tidurku yang lama. Mimpiku pun menjadi kenyataan, namun begitu, aku tak tahu siapa dia, aku ingin mengejarnya, tetapi kakiku terasa terpaku, tak bisa dilangkahkan.

Aku tatap dia sampai menghilang dari pandanganku. Aku bahagia sekali sore itu, maafkan aku Seruni.

Aku tak ingin menyakitimu, walau kamu sudah tak ada di dunia ini, kamu sudah tenang di alam sana."

Aku terhenyak, setelah membacanya, kasihan sekali Giri, dia patah hati ditinggalkan kekasihnya yang bernama Seruni.

Aku tak sengaja menatap potret dalam bingkai emas di dinding sebelah kiri tempatku duduk.

Dan wajahnya Yaa Tuhan mirip sekali denganku. Rambutnya ikal panjang, mukanya oval, bibirnya tersenyum manis, dan matanya....semuanya mirip denganku.

Dan ketika kepalaku memutar ke sebelah kanan, aku terkejut, Giri sudah ada di hadapanku, aku seperti pencuri yang ketahuan mencuri. Aku gugup dan salah tingkah.

"Mas Giri, maafkan aku ya!" Kataku, merasa bersalah. Dia juga sama gugupnya denganku. Kami saling memandang dalam diam.

Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Aku merasa kikuk di pandang seperti itu.

"Aku pindah ke ruang tamu, bolehkan?" Tanyaku. Giri hanya mengangguk saja tanda dia setuju.
Perasaanku tak enak, setelah tahu rahasia dirinya.

Pantas saja, rumahnya berdiri di atas bukit, tak ada seorangpun tetangga di kiri kanan dekat rumahnya. Cocok sekali untuk orang yang sedang patah hati dan menyepi sendiri.

Namun begitu, Giri terlihat baik padaku. Dan aku nyaman berada di dekatnya walau belum mengenalnya. Tak heran kakakku Raditya menitipkan aku padanya.

Hari Minggu pagi, kakakku Raditya menitipkan aku lagi ke Giri, aku diajak naik sampan berkeliling Situ Cileunca sampai ke ujung, kami diam seribu bahasa.

Ketika aku sedang melamun sambil memandang riak air yang bergelombang, sampan agak oleng ke kiri.

Aku tak sempat memegang pinggiran sampan, akhirnya tercebur ke air, dan napasku tersengal-sengal, dan aku tak ingat apa-apa lagi. Dan gelap.

Ketika mataku terbuka, jemariku terasa hangat dan basah, telapak tanganku menempel ke wajah seseorang, sepertinya sedang menangis.

Aku perhatikan kepalanya, rambutnya di cukur rapi, aku baru ingat, Giri, ya, Giri. Dan filmku berputar kembali, aku ingat aku sedang bersampan dengan Giri, dan aku tercebur hingga pingsan.

"Mas Giri!" Kataku, lirih memanggilnya, akupun ingin menangis bila ingat  kepedihan hati seorang Giri yang patah hati. "Dara!" Katanya, terkejut mendengar aku memanggilnya.

"Iya mas, aku ada di mana?" Tanyaku.

"Oh, syukurlah, kamu ada di rumah sakit!" Katanya. Terlihat air matanya bercucuran, mungkin dia takut aku mati, sepertinya.

"Maafkan aku Dara, akulah yang bersalah, dan kamu boleh memarahiku sepuasmu ya!" Katanya, tiba-tiba dia berbicara dengan emosional.

"Aku takut kehilanganmu, seperti kehilangan Seruni  yang tercebur sepertimu, dan tak tertolong nyawanya!" Katanya.

Tangannya menggenggam erat jemariku. Aku terharu, akhirnya dia berterus terang tentang Seruni yang bersampan dengannya dan tercebur sepertiku, dan kejadian itu terulang menimpaku.

Oh Giri, betapa sedihnya aku, dan akupun ikut menangis, aku kadihan padanya, betapa menderitanya hatimu selama bertahun-tahun di tinggalkan Seruni. Kepalanya kuusap-usap tanda aku sayang padanya.

"Dara, sekali lagi aku minta maaf ya, akan selalu kujaga dirimu sampai kapanpun, walau maut menjemputku!" Katanya.

Dengan berderaian air mata. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.

"Terima kasih Dara!" Katanya.

Dan diapun tersenyum, senyum yang paling manis sepanjang aku mengenalnya, betapa bahagianya aku berada di sampingnya.

Aku dan Giri begitu bahagia, menata kembali langkah-langkah ke depan menjejak harapan baru.

Seperti kemerlipnya lampu neon yang mengambang di riak air Situ Cileunca, berpendaran indah sepanjang malam.

Kemilaunya takkan hilang, walau siang hari, tetap kemilau karena sinar matahari menyilaukan rasaku dan Giri sepanjangnya sampai maut memisahkan aku dan Giri.

Dan akulah sebuah reinkarnasi untuk Giri selamanya.

Bandung Barat, 15 November 2019

(Ilustrasi dari henkykuntarto.wordpress.com)
×
Berita Terbaru Update