-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rukun Turun-Temurun, Tubuh Api Di Pintu Subuh

Rabu, 20 November 2019 | 13:27 WIB Last Updated 2020-01-30T01:04:51Z
Rukun Turun-Temurun, Tubuh Api Di Pintu Subuh
Ilustrasi: Djarumcoklat

Di sini toleransi telah adat istiadat, demokrasi bisa terawat begitu kuat, muliakan hak asasi sebagai amalan semua agama

Oleh: YS Sunaryo

RUKUN TURUN-TEMURUN

Di lahan telah turun-temurun
tumbuhlah tanaman kerukunan

akar-akarnya hunjam terdalam
saling menguatkan, menyuburkan,
berkembang pohon-pohon rindang
menjadi oksigen bagi kehidupan
merawat bugar persatuan

Lantas lahan kita retak
akibat injakan kaki-kaki
jiwa raga bukan lahir di sini
bertubi-tubi menikami
berjuta-juta mati

Lalu embuskan
ada pohon intoleransi
halangi tumbuh demokrasi
tidak mekarkan hak-hak asasi
sebagai narasi paling buta baca
dalam perlakukan lahan budaya
justru di atasnya kokoh bangsa
pada tanah air: Indonesia
saling cinta, saling jaga

Di sini toleransi telah adat istiadat
demokrasi bisa terawat begitu kuat
muliakan hak asasi sudah terbiasa
sebagai amalan semua agama

pada lahan itu lahir Pancasila
sila dan maknanya kini menjaga
segala serbuan beragam budaya
dan gerogoti jati diri bangsa

Maka harap tepat alamat
mengirim pesan kerukunan
justru sudah turun-temurun
di seluruh jiwa keturunan
para pejuang

Bandung, 18 November 2019

TUBUH API DI PINTU SUBUH

Lelaki itu sudah berhenti
menikmati api yang bakari
dirinya sendiri di deret kursi

Ia memang masih bernyawa
dengan luka bau di dalam dada
katanya, biar tidak disesumbarkan
disyukuri saja sebagai pelajaran

Namun api enggan dilepaskan
kali ini bukan mainan dan dimainkan
melainkan digauli kehangatannya
agar bermanfaat bagi jiwa-jiwa
yang menggigil dimiskinkan
di jalan pembangunan

Hangat api itu ia wadahi
menjadi sulaman warna-warni diksi
lembar-lembar puisi dihamparkan
di senja menjadi alas perjuangan
dan sebagai sajadah pertobatan
sebelum lambai kepulangan

Ini memang bukan jalan kenyang
namun ia bisa berdiri sembahyang
dalam sunyi, dalam pelukan sepi
ia sungguh-sungguh menggali
hilang harga dan jati diri
yang dulu dibakari
oleh api itu

Mau sekuat tubuh
utuh mengetuk pintu subuh
dalam tabuh-tabuh suara beduk
ia masuk sepenuh runduk

Sampai roboh jiwa raga
ada selama-lamanya
dalam rumah-Nya

Bandung, 19 November 2019

BERHAJI DI TEMPAT DEKAT

Ya Ilahi, di negeri ini antri
bertahun-tahun tidak pasti
ada yang disalip kematian
ada  yang tertiup tipuan
hentikan kerinduan
menuju rumah-Mu

Kita sungguh bangsa kaya raya
bangsa betapa besar rasa cinta
sebagaimana dapat terbaca
pada hasrat ibadah haji
begitu tinggi

Bahkan kadang cintanya buta
hingga bisa tertipu suara-suara
yang bisa berangkatkan segera
namun berakhir derai air mata

Cinta menuju Tuhan di tanah suci
bukan satu-satunya cara jumpa Ilahi
di sini, tanpa lakukan jauh terbang
tanpa ditunggangi ketidakpastian
'tak ditabrak angkutan bodong
saling menuding bohong

Sama, di sini juga menangis di depan-Nya
diampuni dosa-dosa dan sungguh surga
tidak antri tetapi serupa ke tanah suci
tidak berhaji tetapi engkau telah haji

Ialah ia, yang tabungan haji dibelanjakan
bagi upaya mengentaskan kemelaratan
dan menolong tentangga kelaparan
dianggap sudah serupa ibadah haji
ia ialah, tetap haji di mata Ilahi

Bahkan disebut tidak berhaji
walau di tanah suci wajib rukun dijalani
tetapi tetangga sekelilingnya dibiarkan
sekumpulan lapar tanpa sentuhan

Bila bisa, berhajilah di sana
bila tidak, berhajilah di sini saja
di tempat dekat dengan mendekap
tetangga yang sedang selarat

Bandung, 19 November 2019

(Ilustrasi; ahlulbaitindonesia.or.id)
×
Berita Terbaru Update