-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SANG LINDUNG MAYAPADA

Jumat, 29 November 2019 | 22:38 WIB Last Updated 2020-01-29T14:21:34Z
SANG LINDUNG MAYAPADA
Ilustrasi: Hamdanierham

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Gunung dan bukit adalah sebuah rimba yang menghampar dan surganya para pendaki. 
Pada kabut yang melingkarinya begitu misteri dalam tatap mata di kejauhan.

Tenda-tenda mematung dalam pertemuan cahaya mentari dengan pucuk-pucuk daun rimba raya.
Begitu hening dari lembah-lembah yang sunyi, ketika kau mendekap sang bukit, menyingkap tirai indraku dari sebuah kesadaran.

Dan mentari begitu khusyu memancarkan cahaya keemasan berupa pendar-pendar hangat merasuk pada jiwaku.

Ketika senja buana alam memerah jingga, dan ayunan bunga Lavender ungu bersenandung, semarak pada hamparan semak bunga Edelweiss putih kemerahan, menambah kecantikan  mayapada.
Dan langit adalah atapku, tempat kubernaung menikmati keindahan alam raya.

Jika kelembutan hilang dari hati, seperti mengotori alun-alun semak belukar perdu cantik yang kian hilang oleh jemari kotor dan jahil, mengurangi rasa dan sesak di dada, ketika sampah-sampah berserak menjadi bukit plastik berhamburan.

Dan kesadaran akan sebuah perlindungan mayapada, seperti luka yang menganga dalam sebuah keindahan.

Batu-batu berlumut membisu dari begitu banyak coretan, adalah sebuah saksi bahwa mereka pernah ada, mematikan hati nurani, dalam ketakberdayaan kemampuan mengisi jiwa oleh kesadaran dalam sikap anti pati.

Cinta kepada alam dan peduli keseimbangan adalah ibarat sebuah tunas yang dibiarkan membumbung mencakar langit dan rimbunnya meneduhkan jiwa para pendaki.

Hidup adalah tak selalu kesenangan mencoret-coret bebatuan, pepohonan dengan sebuah belati.
Dan biarkan tumbuh sewajarnya melindungi keseimbangan alam.

Di sinilah aku, menikmati setiap celah, ceruk, ngarai, lembah, dan kabut dengan sebuah bakti pada negeri, dengan menyapu bersih setiap sampah yang berserak.

Kususuri jalan setapak sunyi belantara di setiap jengkalnya, agar tiada tangan-tangan kotor merusak bunga liar yang indah, jernihnya mata air, batu-batu yang membisu.

Dan malam adalah simfoni yang indah, pada tanah basah dan berlumut, pada sunyinya lembah yang berkabut, dan senandung penghuni  rimba, yang menumbuhkan kecintaan dan kerinduanku ingin kembali dan kembali lagi.

Dan pada temaram lampu di tenda adalah romantisme yang berpendar memberi cahaya pada jiwaku.
Mengisi kelelahan dan air mata di kesunyian dan kedamaian mayapada, sunghuh memberi ruang dalam banyak cerita lewat angin malam dalam guguran dedaunan yang basah mengembun.

Dan akan kutitipkan rindu pada awan melewati musim.
Di suatu saat bila kukembali, dan bila ku tak bisa lagi berjalan menyusuri alam rimba.

Bahwa di sini pernah aku mencumbumu melalui rindangnya serimbun angsana, dan lewat mata tuaku, aku titipkan sunyi lewat percakapan kemerisiknya dedaunan di sana, untukku selamanya.
Dan kutitipkan mayapada kepada tunas-tunas bangsa pencinta alam, agar keseimbangannya harmonis dan dinamis.

JAGALAH....!!!

Bandung Barat, 29 November 2019

(Gambar diambil dari rebanas.com)
×
Berita Terbaru Update