-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SENYUM YANG TERTINGGAL DI MANDEU

Minggu, 24 November 2019 | 17:31 WIB Last Updated 2020-01-29T13:44:48Z
SENYUM YANG TERTINGGAL DI MANDEU
Ilustrasi: Google-peace

Oleh: Gusti Arakat

Suatu malam, angin sepoi  menyelimuti tubuh, aku beranjak keluar kamar menuju kayu yang bertumbukan di depan kos. Ku nyalakan sembari menikmati suasana malam, langit yang telanjang dan awan putih bertaburan menutupi bintang-bintang. 

Malam itu tak seperti biasanya, rupanya musim dingin telah tiba. Suara jangkrik, kodok seakan mereka sedang berpesta pora di keheningan malam. Secangkir kopi yang kuseduh sembari menyedot sebatang rokok surya dan berteman sepi di tengah gelap malam.

Kutengok ke sebelah kamar kos, lampu kamar kawanku telah padam. Mungkin ia sudah terlelap dan sedang bercinta dengan kesenduan malam. Teman seangkatan ini, namanya Wiliam, tubuh kekarnya seperti seorang preman. 

Setiap hari kami selalu bersama, bercerita tentang keindahan masa SMA, masa yang penuh dengan segala romantisme. Wajahnya seperti seorang penjahat dengan jenggot yang berserakan. Namun, ia adalah orang baik, selalu tersenyum menapaki liku-liku hidup, ramah dalam berbagi cerita. 

Malam semakin dewasa, tumpukan kayu telah habis dan gelap gulita di tengah kesepian. Beranjak menuju kamar. Suara Jangkrik, cicak, tokek bernyanyi ria dengan nada halus, kasar, seakan mereka sebagai penjaga malam. 

Lagu nostalgia Leola Drakel yang berjudul Anggur Merah, dentuman nada membuat hayalanku terkapar jauh yang tak tahu ujungnya. Malam itu serasa badanku tercabik-cabik dengan irama musik dan lirik lagu si Anggur Merah. 

Malam semakin dingin, lagu-lagu nostalgia bergantian sebagai pengantar tidurku dan akhirnya aku terlelap bercinta dengan kesunyian malam.

Akhir Masa SMA

Pagi itu, matahari memancarkan sinar dari ufuk timur menyinari jantung bumi, burung-burung bernyanyi riang di atas ranting-ranting pohon. 

Suara motor, mobil terdengar riuh di jalanan. Anak-anak berseragam rapi, merah Putih, Putih Hijau hingga Putih abu-abu berjejeran di pinggir jalan menuju sekolah. Pemuda-pemuda desa, orang tua memikul cangkul di bahu untuk beranjak menuju kebun.

Aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk persiapan menuju sekolah. Pukul 7 pagi, beranjak menuju sekolah mengikuti apel. Jarak sekolahku tak jauh, di seberang dan berhadapan dengan tempat tinggalku. 

Pagi itu adalah hari selasa, apel pagi yang dipimpin oleh Kelapa Sekolah, orang yang bertubuh kekar dengan wajah yang tak pernah senyum. Beliau dikenal orang yang jahat, setiap siswa yang melawan, tidak berpakaian rapi pasti akan dikenakan hukuman. 

Sontak apel pagi itu tak seorang pun yang ribut dan kami semua berdiri tegak, disiplin dalam barisan sembari mendengar arahan dari pimpinan.

Seminggu lagi kelas XII SMA akan menghadapi ujian akhir sebagai penentuan masa berakhirnya putih abu-abu. Penegasan dari kepala Sekolah untuk kelas 3, “jaga diri baik-baik, kurangi labuk jangan lupa belajar dan fokus untuk nasional, harapan untuk anak-anakku semua, jaga nama baik sekolah dan berikan yang terbaik.” 

Diakhir arahannya disambut tepuk tangan yang meriah para siswa.
Aku mulai membayangkan, masa SMA ku akan berakhir, canda-tawa bersama teman-teman akan jadi kenangan yang tak pernah terulang lagi seperti nama yang terukir di bibir pantai dan terhapus oleh desiran ombak. 

Masa SMA adalah bagian dari sejarah kehidupan yang selalu dikenang. Baju dinas SMA, akan ku tanggalkan seminggu lagi, rasa gembira, sedih, terharu seakan aku ingin kembali dari awal dan memulai kisah putih abu-abu. Lembaran sejarah masa remaja di bangku SMA akan jadi cerita.

Hari-hari ku tinggalkan segala kesibukan dengan fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Hati bergetar dag dig dug, jantung berdebar kencang seakan rasa takut muncul menghadapi ujian hari senin nanti. 

Sabtu sore itu, aku bersama teman Wiliam, Yohanes dan Ajitu berada di kos ku, persiapan diri untuk menghadapi ujian. Suasana senja yang teduh, langit nan hijau dan angin sepoi-sepoi , temanku Wiliam membuka percakapan.

“Yohanes, bagaimana perasaanmu menghadapi ujian hari senin?”
“Ya, biasa sa e bro, aku senang. Selesai ujian kita bebas merdeka.” Pungkas Yohanes.

“Betul itu, tapi kita tidak seperti ini lagi, kita pasti akan berpisah, kebersamaan yang kita rajut di setiap sudut sekolah, jalanan, pesta dan sebotol sopi adalah tinggal kenangan.” Sambung Wiliam.

“Ya, betul e kawan, ayo kita cari sopi untuk minum sebelum berpisah nanti!” Ajitu bersuara dengan nada parau sambil memukul lengan Wiliam.

Senja itu, kami berempat bergegas menuju tempat pejualan sopi. Ajitu mengulum air liurnya menahan hasratnya untuk meneguk sopi. Sudah seminggu ini kami tidak berkumpul, melukis kisah dengan sebotol sopi seperti sebelum-sebelumnya. 

Dunia terasa gelap, kadang terasa bersinar ketika ritual berhadapan dengan sebotol sopi selalu kami tunaikan. Begitulah budaya kami orang timor pada umumnya, yang turun-temurun entah berawal dari mana.

Lembayung makin layu, malam membuka mulutnya. Ada yang nyaris tertelan di sana tapi bukan pertemuan kami saat itu. Suasana beroceh makin lama makin panas bahkan cerita-cerita remetemeh seperti berkelahi, mencuri pisang di kebun om Fanus, mencuri mangga di belakang sekolah, pohon asam di samping sekolah sebagai tempat berteduh saat tak ada guru.

Malam minggu itu, kami benar-benar terhayut dengan sebotol sopi dan bernostalgia tentang masa-masa kelam yang kian masih berkecimpung di kepala kami. Suara jangkrik, cicak dan dengung nyamuk serta nyala lampu yang keriput menghantar kami pada tidur yang panjang nafas alam berkisah sendiri.

Senja di Bukit Kakeu Mantenu

Di suatu senja di bukit Kakeu Mantenu, kami melepas rindu yang terpendam. Pertemuan adalah obat untuk mengakhiri kerinduan sekaligus momentum kami mengikrarkan janji sehidup – semati. Suasana senja kala itu, membuat kami betul – betul hanyut dengan romantisme cinta yang dibalut dengan kerinduan.

“Nona, sudah sekian lama kita jalani kisah cinta ini, banyak pengelaman, pelajaran berharga yang kita dapat dan semua rintangan itu kita lewati hingga saat ini kita masih bersama di bukit yang tandus ini,” bisikku sembari mengecupnya.

“Selama ini memang banyak pelajaran yang kita dapat, rasa cinta padamu tak bisa dibendung lagi, aku ingin hidup bersamamu,” jawabnya dengan nada halus.

Senja itu, kami mengikrarkan janji untuk hidup bersama karena jarak bukan penghalang, itu adalah tantangan untuk terus merajut kisah cinta yang telah berumur ini.

“Percayalah padaku, aku selalu menantimu, diriku selalu untukmu dan ingat jangan pernah mengecewakanku,” ungkap gadis desa itu.

 “Kita memang  akan berpisah nanti, tapi hati kita akan tetap menyatui,” jawabku sembari membelai rambutnya.

Kepercayaanku semakin menumpuk pada gadis itu, dirinya sosok yang dikirimkan untuk mewarnai hidupku. Wajahnya selalu terbayang, senyum manisnya, bibir tipis gadis desa itu selalu menghampiri tidur malamku.

Sosok ini hilang dari hari –hariku, entah kemana ia pergi dengan janji manisnya. Mungkin, ia telah bahagia dan kini hanya senyumnya yang tertinggal di bukit Kakeu Mantenu.

(Ilustrasi diambil dari angkisland.com)
×
Berita Terbaru Update