-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DI PERSIMPANGAN

Rabu, 04 Desember 2019 | 21:58 WIB Last Updated 2020-02-08T17:04:31Z
DI PERSIMPANGAN
Ilustrasi: blog bukitgagasan.com

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Terik sang mentari di bulan September, gugurkan dedaunan pinus yang meranggas, kilaunya begitu menyengat.

Ketika ku duduk di serimbun pinus yang kering. Dan aku tak tahu harus berkata apa pada langit biru. Ataukah aku harus meminta setetes embun untuk sebuah penatku? Aku tak tahu, dan aku diam membisu di bangku pinus lapuk.

Aku terhanyut dengan masa laluku yang begitu meretakkan rasaku yang terluka, pada langkahku selanjutnya, ketika kuingat kau meninggalkanku di persimpangan.

Dan aku memandang sayu ketika kulihat langkahmu mengayun meninggalkan selangit luka yang menghunjam tajam dan dalam di kisi -kisi hatiku.

Jiwaku terasa kering dalam kesendirianku yang melelahkan, hampa, tiada tetes embun kesejukan yang membasahi jiwaku.

Tatapku kosong melihat bayanganmu di antara daun daun pinus kering yang di terbangkan angin. Dan angin kemarau telah meruntuhkan jiwaku yang tiada berdaya.

Aku ingat ketika kilauan matamu yang laksana air mancur yang telah menghipnotisku selama beberapa tahun ini, yang telah memudarkan jiwaku sepanjang berdekatan denganmu. Aku jatuh cinta yang tak pernah sedetikpun melupakanmu.

Aku tak tahu mengapa, kau ucapkan selamat tinggal padaku di saat aku membutuhkanmu. Aku menangis memohon padamu, agar tak pergi sejauh ini dan melupakanku. Seperti daun daun kering lepas dari rantingnya, itulah aku.

Dan kini, langkahku terseok, aku ada di persimpangan. Entah harus bagaimana? Untuk melupakannya, antara rindu dan ingin pergi dari bayangannya.

Dan langkahku menepi di sebuah mesjid yang teduh dan tenang. Kubasuh semua kotoran yang melekat pada jiwa dan ragaku dengan air wudhu.

Aku pasrahkan semua lelahku, perasaan resah, pada Sang Pencipta. Karena aku tak berdaya, aku lemah, Yaa Tuhan, mengapa semua pergi meninggalkanku? Di saat hatiku bimbang dan ragu.

Aku tersadar, dengan semua yang telah terjadi. Aku harus bangkit, aku tak boleh memikirkan ciptaan-Nya yang telah pergi berlalu.

Biarkan kini aku mencintai Pencipta-Nya. Tempat bersandar dari sejuta luka yang menganga.

Ku mohon ampunan-Nya, dari segala derita, dan akupun bersimpuh dengan segala sesal yang telah menyesatkanku di sepanjang persimpangan jalan.

Bandung Barat, 4 Desember 2019
×
Berita Terbaru Update