-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DIARY ANAK KOLONG DI PONDOK DI TENGAH SAWAH

Kamis, 05 Desember 2019 | 21:48 WIB Last Updated 2020-01-30T06:45:53Z
DIARY ANAK KOLONG DI PONDOK DI TENGAH SAWAH
Ilustrasi: Tirto

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Kami anak-anak barakan Bintara senang melancong ke berbagai perkampungan, menemukan hal-hal baru yang belum pernah kami temui dan kami rasakan.

Kami pergi kepesawahan, di sana banyak sumber makanan yang tidak akan di marahi bila mengambilnya.

Seperti keong sawah, genjer, lalap-lalapan di sepanjang pematang sawah, keong mas, dan banyak lagi.

Kami mempunyai teman di tengah persawahan, teman sekolah kami dahulunya orang berada, sawahnya banyak hetaran, rumahnya banyak, ayahnya seorang pengusaha, sekarang hidupnya di pondok bilik bambu sederhana, ibunya meninggalkannya, konon katanya setelah bangkrut ibunya menikah lagi dengan orang lain.

Tinggal ayahnya yang pengangguran, ada kakeknya yang sudah renta, kakak laki-lakinya, dan pamannya yang sakit-sakitan.

Teman kami itu perempuan satu-satunya di pondok bambu itu. Hidup teman kami itu sangat mengkhawatirkan. Sekolahnya di bebaskan biayanya oleh pihak sekolah.

Banyak orang yang memberikan beras, sayur mayur, dan lain-lainya, kepada teman kami itu, kasihan sekali.

Tetapi dia semangat sekolahnya. Terkadang bila di kelas dia suka menyendiri, tak ada yang menemani. Terkadang dia suka menangis sendiri di belakang sekolah. Tetapi hatinya baik.dia suka tersenyum. Kami sekelas di kelas lima.

Kami sering berkunjung ke rumahnya, membawa makanan yang kami kumpulkan, dan baju-baju bekas untuk mereka. Kami tak tega melihatnya.

Sebadung-badungnya kami anak-anak bintara, bila melihat teman yang kesusahan, kami ingin mengulurkan tangan membantunya.

Kami selalu patungan uang jajan kami, juga baju-baju yang tidak kami pakai dan layak pakai, kami kumpulkan dalam tas ransel kami, kami bawa dan kami berikan kepada mereka penghuni pondok di tengah sawah.

Sebetulnya mereka orang-orang yang baik hati, itulah, dunia memang aneh, orang-orang yang baik hatinya selalu di zdolimi orang.

Mungkin dunia memang sering terbalik, atau manusianya yang terbalik pikirannya. Itulah kehidupan yang mesti di jalani dan di perjuangkan. Kami anak-anak sebadung kami, tak habis pikir, mengapa?

Bandung Barat, 5 Desember 2019

Gambar diambil dari google
×
Berita Terbaru Update