-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PEMIMPIN DIPUJA-PUJI ATAU DICELA

Senin, 02 Desember 2019 | 21:42 WIB Last Updated 2020-01-30T01:42:47Z
PEMIMPIN DIPUJA-PUJI ATAU DICELA

Dipuja-puji atau dicela, itu bagian dari politik. Kapan pemimpin dipuja-puji dan kapan pemimpin dicela, tergantung dari kelicikannya. 

Dalam sistem demokrasi, seorang pemimpin dipuji bukan karena dia suci, ugahari, taat beragama. Tetapi karena keadilan, kejujuran, kearifan, keberanian, menghormati dan menghargai rakyatnya dan kererendahan hati.  

Jadi, benarlah yang dikatakan Niccolò Machiavelli,  “Aku tahu tiap orang setuju bahwa sungguh terpuji jika pemimpin memiliki semua kualitas yg baik yaitu semua yg telah kusebutkan (adil, jujur, sederhana, arif, tegas, saleh, pemberani, rendah hati, dll.). 

Machiavelli menginginkan supaya pemimpin harus bijaksana. Jikapun ia tidak bijaksana, setidaknya ia harus tahu bagaimana lari dari reputasi jahat yang lekat pada beberapa keburukan, yang karenanya pemimpin bisa kehilangan kuasa. 

Sebisa mungkin pemimpin harus menghindari bahaya yg memicu kehancuran negara. Jika pemimpin tidak bisa, tak perlu terlalu merasa bersalah, jika melakukan keburukan-keburukan demi keselamatan negara. 

Konsep Machiavelli memang mengubah tata filsafat politik. Alasannya, seorang pemimpin tidak boleh merasa bersalah kalau melakukan keburukan, yang perlu untuk menyelamatkan negaranya. 

Justifikasi ini muncul sebagai “bom” yang mengubah konsepsi sebelumnya mengenai politik. Aristoteles mengatakan politik bertujuan mengejar kebaikan tertinggi. 

Sementara Machiavelli, melontarkan bahwasanya perkara politik adalah perkara kekuasaan. Perbuatan pemimpin dipuja-puji atau dicela, harus langsung berhubungan dengan kekuatanya untuk merengkuh dan membela kekuasaan. 

Skema Machiavellian ini menjurus pada logika, jika pemimpin melakukan kebijakan yang jahat, untuk membela kekuasaannya, maka baiknya ia dipuja puji dan dia tak perlu merasa bersalah. 

Dan kita tahu pasti bila berimaji
Beberapa pemimpin pertiwi
Terindikasi dalam sistem ini

Jika  mereka bicara negeri
Tetap saja ada intrik yang ngeri
Jika mereka mengasihi
Hati-hati tercekik pelik

Jururlah, 
Kadang mereka licik
Tuk jadi pelicin dalam politik
Biar kuasanya semakin meraja
Dan jabatan tak kemana mana

Mereka tak pernah lantang bicara nurani
Takut ada yang berani mengintimidasi
Dari baju berdasi yang lain

Sebetulnya mereka berkali-kali menipu anak pertiwi
Apalagi  punya hati menghormati anak negeri
Mungkin cuma buat partai

Tapi….ah.. Tuhan aja mereka tipu
Apalagi kita-kita

Oleh : Rikard Ricky Sehajun

(Gambar diambil dari www.seniberpikir.com)
×
Berita Terbaru Update