-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

GERIMIS DI PENGHUNJUNG BULAN DESEMBER

Jumat, 20 Desember 2019 | 05:54 WIB Last Updated 2019-12-19T22:57:02Z
Gambar diambil dari youtube

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Ketika rintik hujan membelah kabut malam, rasa yang menyelimuti hangatnya sentuhan jemarimu merambat sampai ke palung rindu.

Ada tatap sayu di kaca spion yang samar mengembun, kunikmati senyummu dalam denting gerimis yang menitik.

Kaulah rasaku yang abadi menelusup di antara basah pepohonan  pinus di sepanjang trotoar.

Dan lampu neon kemerlip membiaskan pendar cahaya serupa wajahmu yang romantic yang menghiasi jiwaku sepanjang basah perjalanan.

Dirimu serupa serimbun Akasia, kokoh dan kuat, menancap pada jiwaku, dan aku kau penuhi rasaku dengan kehangatan teduh netramu, dan irama hujan mendenting di antara helm dengan nyanyian smaradana dalam gigil.

Tanganku semakin erat memelukmu, seolah aku aku takut kehilanganmu. Perasaanku tak enak, entah apa yang ada di dalam pikiranku.

Sepanjang perjalanan, gerimis tak henti menitik, jantungku berdegup kencang, entah mengapa.

"Randy, menepi dulu ya, sebentar!" Aku menepuk bahunya, agar berhenti sebentar. "Oh, kamu mau mau minum dulu ya, Ranti?" Tanyanya.

Aku mengangguk, dan Randy memberikan botol  air mineral padaku sambil tersenyum manis sekali.

"Ya sudah, kamu duduk di pondok itu dulu ya, aku menepikan motorku dulu ya!" Katanya sambil memegag erat sekali.

Dan menatapku lama sdkali, aku tercenung dengan tatapannya, tak biasanya begitu dia padaku.

Ketika Randy akan membelokkan motornya, tiba-tiba dari arah belakang Randy ada bus melaju kencang, dan mulutku menganga, badanku kaku tak bisa di gerakkan untuk memberi  isyarat kepada Randy, terlambat sudah, dan mataku gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi.

Rintik gerimis yang ke lima di penghunjung bulan Desember, menyisakan rasa yang trauma, setiap hari aku menyesali diri, seandainya aku tak menepi, mungkin Randy tak akan pergi untuk selamanya.

Oh...rintik itu telah menghunusku merupa pedang-pedang kecil melukai hati dan ragaku, begitu perih sepanjang jalan di trotoar yang memberi kenangan sedih.

"Maafkan aku Randy, bukan itu yang ku mau, kau tahu, aku tak pernah memaafkan diriku selama lima musim ini, terimalah bunga melati putih ini tanda sucinya rasa kasihku untukmu," aku berkata-kata sendiri, seolah bayangan Randy mengikutiku dalam gerimis di penghunjung  bulan Desember yang meruapkan aroma luka sukma, yang tak pernah hilang dari jiwaku.

Dan jiwaku basah, ragaku basah, kubiarkan gerimis menghunusku, meremukkan jiwaku dalam gigil yang menggigit, kuikuti bayangan Randy, sampai badanku kuyup tak terasa.

Dan aku tak ingat apa-apa lagi, gelap di sekelilingku. Dalam gelap tangan Randy mengusap-usap kepalaku.

"Ranti, kamu harus kuat, jalanmu masih panjang, langkahmu, masa depanmu ada dalam genggamanmu, semangat ya, aku tak apa-apa, aku ada selalu untukmu, aku akan selalu tersenyum untukmu, bangkitlah!" Katanya, panjang lebar.

Dan aku terbangun dari mimpi indah bersama Randy. Kutatap sekelilingku, aku mencari suara Randy, tak kutemukan siapapun. Aku sendiri berbaring di ruangan Rumah Sakit.

Tak terasa air mataku menganak sungai, aku sadar Randy telah tiada, dan aku tak bisa memaafkan kesalahanku pada Randy sepanjangnya.

Bandung Barat, 16 Desember 2019
×
Berita Terbaru Update