-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HUJAN DI PUCUK PINUS

Minggu, 01 Desember 2019 | 23:23 WIB Last Updated 2019-12-01T16:23:03Z
HUJAN DI PUCUK PINUS
Ilustrasi diambil dari tribunnews.com

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Ah rindu, menggeletar dalam gigil di basah punggunggmu, hujan di pucuk-pucuk pinus menenggelamkan khayalku dari seribu kisah perjalanan denganmu, dalam kuyup, jemariku kau sentuh, terasa menerbangkan sejuta kenangan di dalam deru roda dua.

Dan mengapa sebuah kenangan masa lampau terulang kembali. Duh, begitu berat meninggalkan sebuah kenangan.

Pada basah jalanan yang tergenang, dan basah jiwaku, meruapkan sebuah rasa yang melankolis. Dan neon-neon sepanjang jalan melingkari netraku dengan segala pendar cahaya yang kemilau, menambah rasa yang syahdu dalam titik air mataku.

Di punggungmu yang basah, kubenamkan segala tangis sedihku akan luka lama yang terus mengikutiku sepanjang perjalanan dalam basah hujan, namun jiwaku sedikit terhibur dengan sentuhan jemarimu yang menghangati jemariku, dan isak tangisku pun terhenti.

Ya, aku harus melupakannya, masa lalu adalah kenangan yang harus kupendam dalam-dalam.
Dan kusimpan dengan rapat. Namun mengapa selalu saja tak bisa kulupakan.

"Kamu tidur ya?" Katamu, membuyarkan lamunanku.

"Ah tidak!" Kataku.

Kuusap air mataku dengan tisu basah yang terkena hujan.
Karena aku tak mau dia tahu akan kesedihanku.

Kurasakan ada hela nafas dari dadamu, lewat jas hujan yang dia kenakan.
Dan aku mengerti, sangat mengerti sesuatu yang ada di dalam dadamu. 
Entahlah, atau mungkin aku salah menerka.

Kualihkan pandanganku dari kaca spion yang mengembun dan berkabut, kutatap pohon-pohon pinus yang basah oleh hujan sepanjang trotoar jalan, yang seakan berlarian meninggalkan pandanganku.

Ada sesuatu yang tertinggal di pucuk-pucuk pinus yang basah itu, sebuah kenangan yang menggenang dan tak pernah kulupakan.
Tersimpan bertahun-tahun kisahnya, di sana dalam rimbunnya.

Di sepanjang perjalananamu dan dia membisu, tak bersuara.
Aku semakin erat memeluknya, karena jemariku semakin kaku, dan dadaku kedinginan, dan terbatuk-batuk.

"Kamu sakit ya?" Katanya.

"Ah aki tak apa-apa, nanti  juga baik lagi!" Kataku.

Sepanjang jalan yang tergenang air meruapkan aroma luka di pucuk-pucuk pinus sepanjang trotoar.
Wajahku kusembunyikan  di belakang punggungmu, dengan derai air mata.

Begitu sedih dan tergambar setiap inci perjalanan di sekitar trotoar yang mengabut dan samar dari pandang mata.
Ternyata aku belum bisa melupakannya, walau musim telah membawa pergi meninggalkan kenangan berabad-abad.

Oh, di manakah aku sejatinya, selalu mengikuti semua bayang-bayangmu ke manapun aku pergi.
Dan jejakmu tak lekang oleh musim, terus membawa hidupku melalui rasa yang selalu melankolis di setiap basahnya pucuk-pucuk pinus.

Dan kubenamkan lebih rapat wajahku di belakang punggungmu.
Aku ingin semua sirna dari bayangan, dan tak ingin kulihat lagi jejak yang membawa hidupku pergi menjauh di duniamu yang kini telah berbeda alam.

Bandung Barat, 1 Desember 2019
×
Berita Terbaru Update