-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KETIKA AYAH TELAH TIADA

Jumat, 20 Desember 2019 | 06:11 WIB Last Updated 2019-12-19T23:11:14Z
KETIKA AYAH TELAH TIADA
Gambar diambil dari google

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Pukul lima sore langit tiba-tiba merintik, seakan menyambut malaikat maut pencaut nyawa datang ke rumah.

Ayah yang berkeringat dingin duduk menekuri dirinya dan diam membisu. Kubaca doa sebisaku untuk meringankan sakit ayahku. Kami semua panik, tidak biasanya ayah sakit seperti itu.

Waktu terus merambat, sang malam semakin mencekam, kami semua gelisah, dan semua merapalkan doa-doa untuk kesembuhan ayah. Akhirnya kami menyerah, aku mencari mobil untuk membawa ayah ke rumah sakit. 

Untungnya tetangga kami baik hatinya. Mas Ato membawa ayah ke rumah sakit PMI Bogor. Di sana kami harap-harap cemas, menunggu hasil dari pemeriksaan dokter jaga.

Satu jam berlalu, akhirnya dokter memberi tahu hasilnya, dengan wajah tenang dokter jaga memberi tahu bahwa nyawa ayah tak tertolong lagi.

Kami semua menjerit dan menangis di lorong rumah sakit, suasana hening menjadi tangisan yang menyayat hati, karena ayah telah berpulang ke pangkuan lllahi Rabbi.

Kami semua sedih di tingvalkan ayah, terutama aku yang terpukul sekali ketika ayah meninggal.

Akhirnya jenasah ayah di bawa pulang ke rumah memakai memakai jasa AMBULANCE. Sepanjang perjalanan pulang kami menangis dan menangis tiada henti, sampai kakiku lemas sekali tak bertenaga.

Aku menangis melolong dalam malam yang sepi. Isak tangis menyambut kedatangan ayah di rumah.

Rasanya langit seperti runtuh menimpa rumah kami, sampai pagi kami menangisi kepergian ayah kami.

Pagi yang mendung seakan langit ikut berkabung dengan kepergian ayah, kami semua menangis sampai kering air mat.

Ketika akan memandikan jenasah kakiku terasa lumph, aku tak bisa ikut memandiman jenasah ayah.

Aku diam terduduk tak kuasa dan tak berdaya. Semua orang ikut memandikan ayah sambil berdoa dan menangis.

Tembakan salvo tujuh kali oleh para pranurit Kujang l Cilodong, mengantarkan jenasah ayahku , kami bertujuh berjalan melangkah di kolong keranda  ayah untuk yang terakhir kalinya, sambil menangis dan berdoa.

Ya Tuhan, kakiku lemas, aku terduduk  dan hatiku terpukul. Dengan sekuat tenaga akupun ikut mengantarkan jenasah  ayah sampai ke makam  yang sudah di gali. Yang mengantarkan ayahku ke tempat yang terakhir, menangis dan berdoa.

Ayah yang begitu baik dan seorang yang teladan di rumah, kini pergi menghadapnya. Kami semua kehilangannya. Begitu banyak kebaikannya semasa hidupnya. Semua kenangan tentang ayah tak akan terlupakan.

Terutama aku, tak ada lagi yang akan menyiapkan air bersih untuk berwudhu aku, tak ada lagi yang akan menyemir sepatuku, tak ada lagi yang akan memberikan buku-buku bacaan untukku, tak ada lagi yang akan mengajakku melancong ke tempat yang teduh dan berpetualang.

Ayah adalah hidupku, tempat curahan hatiku yang paling dalam. Syah yang sayang pada keluarga, dan tak ada lagi yang akan mendongeng sebelum kami tidur. Semoga Tuhan menempatkan ayah di sisi-Nya di tempat yang paling mulya.

Selamat jalan ayah, semoga Tuhan menyayangimu seperti engkau menyayangi kami anak-anaknya. Al-Fatihah....amin yaa robal alamin...

Bandung Barat, 15 Desember 
×
Berita Terbaru Update