-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KISAH DI PENGHUNJUNG BULAN NOVEMBER

Minggu, 01 Desember 2019 | 03:25 WIB Last Updated 2019-11-30T20:31:04Z
KISAH DI PENGHUNJUNG BULAN NOVEMBER
Ilustrasi diambil dari boomee.co

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Hujan merintik sepanjang perjalanan, kian lama kian deras, pohon-pohon pinus basah seperti berlari meninggalkanku di belakang, membawa rasaku entah ke mana berlari dalam kenangan yang melankolis.

Hujan begitu deras, mulutku terkunci membisu, terbawa rindu pada masa silam.
Badanku basah, hatiku basah, dan perjalanankupun basah.
Menderu di atas helmku, seperti detak kenangan yang datang silih berganti.

"Kita makan dulu yuk! Perutku lapar nih!" Kataku.

"Oh, kamu lapar ya, Dian! Mau makan apa?" Katamu.

"Aku ingin nasi uduk dan bebek goreng!" Kataku lagi.

Aku memesan nasi uduk dua porsi dan daging bebek goreng dan dua cangkir teh panas tawar.

Baca juga: CINTA PERTAMA MEMESONA
                   SENYUM YANG TERTINGGAL DI MANDEU

Sambil makan, tak henti-hentinya mulutku berceloteh, karena merasa lucu, dalam sebuah tenda yang banjir sampai ke atas betis kaki, akupun membayangkan makan sambil kebanjiran.
Dan tak terasa menjadi lelucon.

Aku dan Kris makan sambil tertawa, mentertawakan situasi yang lucu, makan dalam banjir.
Dan kucingpun tak mau makan tulang bebek goreng, mungkin sedang galau atau mungkin kedinginan seperti aku.

"Kalau banjir sampai tempat duduk bagaimana ya? Mungkin bisa pindah duduknya di meja makan? 

Bila kamu duduk di meja  mungkin mejanya pasti ambruk, karena badanmu yang besar, kalau aku sih bisa, karena badanku kecil!" Aku berbicara tiada hentinya, dan tertawa terbahak-bahak, karena merasa lucu.
Perjalananpun di lanjutkan, menembus kabut malam, dan hujan tiada hentinya.
Jemariku begitu kaku karena kedinginan.

Ada kehangatan yang merambat dalam jemariku yang tak kusadari, dan kupejamkan mataku dalam gigil yang gemelutuk.
Duh, rasanya hatiku ingin menangis.

Aku mengerti, kasih sayangmu telah lama kurasakan, seperti rasa yang misteri, dan entah mengapa aku menangis di punggungmu seperti juga rinai yang bernyanyi dalam helmku berirama menari menembus ke jiwaku.

Aku tetap diam, diam yang melankolis, entah mengapa aku menangis, akupun tak tahu.

Rasanya seperti mimpi, mimpi yang nyata, dan itu semua membawa kenanganku pada masa silam.
Masa yang tak pernah kulupakan.

Dan aku menangis sepanjang gerimis di ujung malam.
Dia takkan pernah tahu bagaimana rasaku di belakang punggungnya.
Dalam perjalanan di penghunjung bulan November.

Bandung Barat, 30 November 2019
×
Berita Terbaru Update