-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi Terkait Komentar Pedas Netizen Terhadap Tangan Betrand Peto Menyentuh Dada Sarwendah

Minggu, 08 Desember 2019 | 13:51 WIB Last Updated 2020-01-30T01:08:42Z
Refleksi Terkait Komentar Pedas Netizen Terhadap Tangan Betrand Peto Menyentuh Dada Sarwendah
Ilustrasi: Banjarmasin.tribunnews

Perbincangan mengenai para artis selalu menjadi sorotan warganet. Hal senada dialami oleh penyanyi, Putra Onsu, Betrand Peto terkait dengan video yang tak sengaja menyentuh dada istri Ruben Onsu, Sarwendah. 

Dalam video tersebut, ada Ruben, Betrand, dan Sarwendah duduk berjejer di sebuah bioskop.

Ruben bertanya pada Betrand siapa yang menjadi sutradara video musik terbaru berjudul Deritaku yang akan dirilis, penyanyi cilik itu menjawab bunda. 

Pada saat itu, secara tak sengaja, tangan Betrand menunjuk Sarwendah menyentuh dada ibu sambungnya. Namun warganet menjadikan potongan video tersebut sebagai bahan perbincangan yang sangat heboh dan viral di dunia maya. 

Banyak pro dan kontra yang memberikan komentarnya terkait momen tak sengajah tersebut. 

Bagi saya, ekspresi spontaniah yang dilakukan Betrand itu tidak ada maksud lain. Betrand hanya mau menunjukkan kedekatan seorang anak dengan ayah dan ibu. 

Betrand sungguh menyadari kasih dan kesetiaan Ruben Onsu dan sarwendah terhadap dirinya. Dan kasih dan kesetiaan yang sama itu membuat Betrand merasa nyaman sehingga romantika kebahagiaan dan kekeluargaan itu bermekar indah. 

Namun ekspresi spontaniah Betrand dalam potongan video itu dilihat secara "lain" oleh orang-orang tertentu yang barangkali tidak suka atau irihati dengan kualitas bakat dan kemampuan anak angkat Sarwendah tersebut. 

Refleksi

Persoalan terkait dengan potongan video tersebut hanya salah satu contoh fakta kritik-mengkritik, penilaian, dan komentar pedas dalam relasi dan komunikasi sosial.

Persoalan ini seringkali dijumpai baik dalam lingkup sosial, dunia kerja, dan relasi pribadi dengan orang lain.

Pertanyaannya, mengapa "orang tertentu" itu hanya memperhatikan hal-hal yang memang tidak perlu? Apa untungnya bagi orang-orang yang suka memberikan komentar, penilaian dan kritikan  demikian?

Komentar negatif seperti itu merupakan energi negatif yang merobohkan bangunan kekeluargaan dan kebahagiaan orang lain. 

Setiap orang memang memiliki hak dan kebebasan dalam menilai, mengkritik dan memberikan komentar pedas kepada orang lain. Namun, apakah motivasi dan intensi di balik penilaian, kritikan dan komentar pedas tersebut?

Tatkala kita mengkritik dan menilai orang dari sisi negatif, sesungguhnya kita sedang memperlihatkan sisi negatif diri kita sendiri kepada orang lain. Dan hal itu merupakan gambaran ketidakdewasaan diri kita sendiri.  

Apa yang kita lihat pada diri orang lain, itu juga merupakan gambaran diri kita sendiri. Sebab orang lain merupakan cermin untuk diri kita sendiri. 

Hemat saya, kebijaksanaan dalam memberikan kritikan dan penilaian perlu untuk ditumbuhkembangkan dalam relasi dan komunikasi dengan orang lain. 

Pada diri orang lain ada "AKU". AKU merupakan keseluruhan keberadaan diriku. Dalam diriku atau anda ada "AKU" yakni keseluruhan hidupku atau keseluruhan hidupmu. 

Jadi, makna AKU yang merupakan eksistensi diri yang bisa dikenakan padaku, anda atau kita menjadi titik berangkat kesadaran tentang kasih-setia dalam relasi antara saya dengan anda sehingga itu menjadi relasi dan komunikasi antar-kita. 

Jika kesadaran ini ditanam dalam diri kita masing-masing, mengapa kita menilai orang lain dari sisi negatif yang bertujuan untuk merobohkan kebahagiaannya?

Kita memberikan kritikan pedas, komentar negatif atau sebagainya belum tentu kita sempurna. Dan yang sempurna bukanlah anda, bukan juga saya, melainkan Tuhan sendiri. 

Jadi, bagi yang suka mengeritik orang lain, belajarlah untuk berpikir bijak dan berlaku penuh cinta dan rendah hati. 

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update