-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PEREMPUAN TUA DAN KUCINGNYA

Senin, 02 Desember 2019 | 22:14 WIB Last Updated 2020-01-30T01:40:12Z
PEREMPUAN TUA DAN KUCINGNYA

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Ketika kemarau mendatangi musim yang begitu panjang, tanah pun berdebu. Pada sebuah rumah tua yang tak terurus.

Kembang kertas dibiarkannya menutupi pagar rumah dan tanaman yang lain kering tak tersentuh setitik embun.

Rumah tua itu sebentar lagi akan runtuh, karena di sana sini temboknya banyak lubang yang menganga dan sarang laba-laba di mana-mana singgah menghiasi seisi rumah sunyi.

Penghuni rumah itu adalah wanita tua dan kucingnya yang setia menemani kemanapun dia pergi.

Tatapnya begitu sendu dan dingin, senyumnya telah menghilang ketika usianya menjelang lima puluh tahun dan di tinggalkan pergi oleh suaminya bersama perempuan yang menggamit lengan suaminya, dan pergi begitu saja seperti angin yang mendesau lalu angin itu sirna yak berhembus lagi di rumah itu.

Perempuan tua itu hatinya telah mati dan hidupnya sunyi sepanjang hari, hatinya penuh dengan selaut air mata nyeri yang menoreh jantungnya, yang semakin lama semakin menganga lukanya.

Bila malam menjelang, mata lukanya menatap hampa tembok kamar yang membisu, perempuan tua itu diam dalam hening.

Dia bertanya pada malam yang sunyi, di manakah bahagianya? Mungkin takdir telah melukiskan hidupnya sepanjang sisa usianya yang semakin hari semakin renta.

Dia sudah lupa dengan rasa bahagianya, temannya hanya sunyi. Dia sudah lupa kapan terakhir dia tersenyum. 

Dan dia sudah lupa kapan suaminya menyayanginya.
Dan semua hanya sisa-sisa kenangan yang selalu menusukinya dari luka yang terus melukis jiwanya sepanjang hari.

Dan kucingnya menatap sayu mata tuannya.
Seakan dia mengerti apa yang menghimpit perasaannya.

Sejak suaminya pergi meninggalkannya, dia lupa untuk tidur, malam seakan tak berarti untuk hidupnya.

Dan tembok bisu yang lembab adalah curahan jiwanya sepanjang malam.
Yang hanya mengerti dirinya adalah kucingnya yang selalu setia menatap sendu tuannya sepanjang hari dan malam.

Perempuan itu kini tak peduli lagi, ke mana langkah kan menuju, karena semua hidupnya telah usai, dan tak akan kembali lagi seperti dulu.

Seperti senja ini, kemarau masih panjang, tangannya mengelus kucingnya yang setia memandang sayu tuannya.

Dan tatap luka mata perempuan itu telah menjelma menjadi rinai air mata yang membasahi kenangan yang telah usang, dan luka itu tak akan hilang sepanjang hidupnya.

Bandung Barat, 2 Desember 2019

Gambar  www.wowmenariknya.com
×
Berita Terbaru Update