-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SANG ELANG

Rabu, 04 Desember 2019 | 21:47 WIB Last Updated 2020-01-30T00:44:34Z
SANG ELANG
Ilustrasi: Youtube

Karya : Wiwin Herna Ningsih

Kemarau di penghunjung bulan Oktober begitu terik dan berdebu, panasnya menyengat pada jiwaku yang resah dan tatapku sayu memandang rindang pohon Akasia.

Dan daun-daun keringpun gugurannya memenuhi jalan trotoar sepanjang jalan dekat rumahku.

Aku tersentak kaget oleh seruan dering telepon yang selalu menggangguku.
Dan tatap mata elangnya   yang selalu mengganggu tidur malamku.

Aku tahu, jiwamu terlalu sunyi untuk sebuah rindu. Dan aku tahu, jiwamu terlalu angkuh untuk sebuah cinta. Di kedalaman matamu, jiwamu telah kau cabik-cabik sendiri tanpa sisa.

Kai adalah sebuah jiwa yang telah mati, oleh kenangan yang merupa cakar-cakar masa lalu, merejam kejam hidupmu merasuki lorong-lorong hampa jiwamu.

Bagaimana bisa kau mencintaiku, karena hidupmu adalah abu-abu, tak ada hitam ataupun putih dalam jiwamu. Sepahit apapun hidupmu,   adalah jalan yang mesti kau tempuh.

Aku mengerti tentang hidupmu, masa lalumu, di kedalaman mata elangmu yang menghunjam tajam merobek-robek jiwaku yang lemah.

Aku akan tetap bertahan, takkan pernah tersentuh cakarmu. Aku tahu kau adalah milik ibumu seutuhnya.

"Ayolah! Walaupun kau berlari sejauh apapun, kau akan kukejar!" Suara telepon di seberang sana  selalu menggangguku.

Dengan tangan gemetar, kututup gagang telepon itu, dan aku duduk terhenyak. Dia tahu siapa aku, seolah dia akan menerkamku dengan cakarnya. Dan melihat matanyapun aku tak sanggup, apalagi hidup dengannya.

Aku menangisi hidupku yang malang, kenapa aku harus mengenalnya. Sedangkan jiwakupun belum kering luka yang tergores dalam.

Apakah dia akan menambah perih jalan hidupku? Ataukah entah bagaimana kau akan membahagiakanku?

Hidupku seperti mangsa yang akan di kejar terus menerus dengan cakarmu, dan selalu mengganggu tidurku dalam mimpi-mimpiku yang mengerikan dengan kepak sayapmu yang terkadang menukik, terkadang memperlihatkan cakarnya yang tajam.

Yaa Tuhan, apa maunya, apakah dia akan membantaiku dengan kejam untuk melampiaskan amarah masa lalu yang terpendam, dan akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.Dan menghancurkan hidupku sewaktu-waktu.

Sebetulnya aku kasihan padanya, dan aku tak bisa hidup dengannya dalam sebuah amarah yang tersembunyi di matanya.

Kaulah Sang Elang yang siap menerkamku di saat aku lengah.
Dan aku akan tetap menjaga diriku walaupun aku adalah makhluk yang lemah.
Aku takkan pernah mau bertemu denganya.
Walau terkadang dia lembut menyapaku.
Karena kau adalah sebuah mimpi buruk bagiku.

Terkadang aku merasakan di matamu begitu sunyi, dan ada kepedihan yang melankolis di dalam tatap mata Elangnya.
Ah, aku tak peduli.

Bandung Barat, Desember 2019

(Ilustrasi diambil dari www.flickr.com)
×
Berita Terbaru Update