-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BERCINTA DI TENGAH PANASNYA KOTA JAKARTA

Senin, 20 Januari 2020 | 22:54 WIB Last Updated 2020-01-20T16:00:59Z
BERCINTA DI TENGAH PANASNYA KOTA JAKARTA
Foto ini hanya ilustrasi; bbc

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

"Ram, aku ingin sekali berfoto ria dengan ondel-ondel, tapi sayang ya ondel-ondelnya tak ada!" kataku.

"Sudah saja foto-fotonya sama patung ondel-ondel ya, tuh di pojokan Rumah Betawi!" katanya, sambil telunjuknya mengarah ke arah barat.

Aku pergi ke pojokan Rumah Betawi yang sekaligus kantor pusat para pegawainya. Aku berfoto ria bersama patung ondel-ondel, dengan senyum gembira. Rumah Betawi yang bercat hijau daun tertata rapi dan teduh. Karena terik sang mentari begitu menyengat di bulan Agustus. Aku kelelahan, keringat berpeluh di wajah Ram dan aku.

Setelah puas berfoto ria, aku mendekati pedagang kerak telor yang harganya lima belas ribu rupiah. Hangat-hangat di makannya. Ram ingin membahagiakan aku dengan berjalan-jalan ke MONAS, dan berkeliling sepanjang Kota Betawi.

Aku ingat ketika masih kanak-kanak, Jakarta dahulu dengan sekarang berbeda jauh, Jakarta sekarang begitu mentereng dan pesat pembangunannya. Dulu, Jakarta seperti hutan rimba, semua binatang masih berkeliaran, dan kali Ciliwung pun masih bening airnya, bisa untuk berperahu dari hulu ke hilir.

Kali Ciliwung sekarang tempat pembuangan sampah dan limbah pabrik, padahal limbah pabrik tak usah di buang ke kali, masih bisa untuk dimanfaatkan, disuling dan disaring menjadi air bersih dan untuk Pusat Listrik Tenaga Air, mungkin tak akan coklat airnya dan mengandung berbagai macam penyakit. 

Mungkin juga kesadaran membuang sampah sembarangan masih mendarah daging menjadi suatu di lema hidup bermasyarakat, dalam menjaga lingkungan. Aku dan Ram sudah sejauh itu mengamati Kota Jakarta yang semakin hari semakin panas. Terkadang bila hujan deras, Jakarta menjadi langganan banjir yang konon katanya kiriman dari Bogor.

"Rani, ayok kita lanjut ke pantai Muara Baru, mau kan?" Pintanya. Aku mengangguk menuruti ajakan Ram, untuk melanjutkan perjalanan ke Muara Baru.

Pesisir Muara Baru adalah tempat berkumpulnya para nelayan yang mengangkut hasil tangkapan mereka, ombaknya tidak terlalu besar, aku begitu terkesan dengan kapal-kapal yang berbaris rapi dan beraneka warna menyilaukan mata.

Tam membawaku ke dermaga yang di tembok menjadi benteng penyekat antara jalan raya dan laut agar ombal tidak sampai ke jalan raya.

"Kamu suka ya ke sini, lihat, para pemancing berbaris rapi, yuk kita ke batu-batu hitam itu!" Ahak Ram, sambil menarik tanganku naik ke atas benteng, dan aku dengan senang hati, aku pun ikut duduk di batu-batu besar dan hitam, sejajar dengan para pemancing yang membawa pancingannya yang panjang-panjang dan berwarna warni.

Aku begitu takjub melihat kapal besar di ayun-ayunkan ombak dari jauh. Sepanjang pesisir Muara Baru, ramai di kunjungi orang hanya untuk melihat air laut dan para pemancing ikan yang berbaris dari ujung ke ujung.

Aku dan Ram menikmati pemandangan laut yang keperakan terkena sinar matahari yang terik, dam memakan semangkuk bakso ikan yang enak dan gurih. Harga bakso ikan juga terjangkau oleh pembeli, hanya lima belas ribu rupiah per mangkuk. Ram sampai menghabiskan dua mangkuk bakso ikan.

Kami berdua tertawa senang bila ada ombak datang membasahi wajah kami. Juga banyak anak-anak kecil yang bersorak sorai bila pemancing ikan mendapat tangkapan kailnya, mereka begitu gembira dan bahagia.

Aku dan Ram tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka yang lucu dan menggemaskan. Ram senang melihatku begitu bahagia, dengan melihat senyumku saja dia sudah senang.

Aku dan Ram ikut bersorak bila para pemancing bersamaan mendapat ikannya, seperti perlombaan memancing.

Ketika senja tiba, aku dan Ram duduk berdua di bebatuan memandangi matahari tenggelam antara batas laut dan langit. Kami saling memandang begitu romantis.

"Rani, coba kamu hitung bintang-bintang yang ada di langit, indah ya, seperti matamu yang jeli, dan kemerlip di hatiku!" Ram menggodaku sambil memandangi mataku.

"Ah kamu, membuat malu aku saja," kataku, tersipu malu di pandang seperti itu, dan kami pun tergelak.

"Aku tak bisa menghitung bintang, Ram, karena banyaknya!" Kataku, putus asa.

"Tak mengapa Rani, yang penting aku bahagia, kamu tetap bintangku yang selalu kemerlip untukku selamanya," katanya.

Ram menatapku dan merengkuhku dalam pelukannya. Dan aku pun serasa terbang melayang di antara bintang-bintang yang kemerlip dan berpendaran di antara rasa bahagia, yang tak ingin lepas selamanya.

Bandung Barat, 21 Januari 2020
×
Berita Terbaru Update