-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CERPEN AGUSTINUS M. SAMUEL; SUARA SANG PENGEMBARA

Rabu, 15 Januari 2020 | 14:27 WIB Last Updated 2020-01-15T07:33:00Z
CERPEN AGUSTINUS M. SAMUEL; SUARA SANG PENGEMBARA
Ilustrasi; ngakakkocaklol

Oleh: Agustinus M. Samuel

Angin dingin menggigil, berhembus dengan lembutnya menerpa wajahku yang tampak sudah hampir membeku kedinginan. Kutelusuri gang-gang sempit dalam keremangan lampu kota.

Dingin menggigil, sunyi dan sepi, hanya beberapa saja mobil yang lalulalang. Angin dingin menerpa wajahku dan menemaniku berjalan tanpa tujuan.

Di ujung jalan kumelihat seorang Ibu tua dengan cucunya kira-kira masih berumur 9 tahun, dengan pakayan compang-camping, duduk termenung sambil menatap langit malam kota yang dingin. Dari raut wajahnya kumelihat ada kesedihan yang amat dalam.

Antara berjuang mempertahankan hidup di tengah prahara kemiskinan yang melanda kehidupan mereka dan mencari kesejahteraan di tengah porak-poranda dan carut-marutnya kota tua ini. Akupun ikut merasakan kesedihan ini. 

Dalam hati aku berkata andai aku adalah sumber kesejahteraan maka dengan senang hati aku  memberikanya kepada Ibu tua ini bersama cucunya. Apalah daya aku hayalah pencinta dan pencari kesejahteraan.

Setelah satu jam aku tertidur dalam mimpiku. Seorang kakek Tua berjangut putih menyapaku dengan lembutnya. Berkali-kali iya berkata " bagunlah, sekarang bukanlah waktunya untuk bermimpi, bangunlah kejarlah mimpi itu, carilah kesejahteraan, semua orang membutuhkanya".

Akupun terbagun dari tidurku, kuberjalan perlahan menelusuri jalan setapak, dari jauh aku melihat orang banyak berhamburan di tengah keramaian, dari yang kecil sampai yang tua ada di situ.

Kumelihat seorang berpakayan serba hitam jas, celana, dan sepatu. Semua serba hitam, hati, pikiran dan tindakannya serba menghitam.

"Tampang luar dari diri seseorang menggambarkan eksistensi diri yang sesunguhnya" pikirku dalam hati.

Itulah Dia yang aka mejadi Wakil dari Ranyat. Padanyalah kesejahteraan ada dan tumbuh. 

"Kesejateraanku bertumbuh dan berbuah kedamaian dan kehidupan yang layak apabila dibekali dengan hati yang tulus dan jiwa yang sehat. Tulus melayani Rakyat sehat dalam berpikir dan bertindak".

Ahhhh.. ini hanyalah sebuah break dari pencariaan dan perjalananku. Di pingir kota ku melihat sebuah perpustakaan besar, kumasuki perpustakan itu dan mencari sebuah buku kehidupan. Ilmu tentang kesejateraan.

Di sudut ruangann ku melihat sebuah buku besar penuh debu dan sedikit sudah rusak. Kubuka buku itu dan ku baca sebuah pengantar dari buku itu.

"Kembalilah kesejahteraan tidak dapat diraih, sebelum kamu mencintai kesejahteraan. Jika kamu mencintai kesejahteraan saat itu kamu dalam keadaan damai dan sejahtera. Taburilah benih cinta maka akan tubuh sebuah kedamaian dan kesejahteraan".

 Akupun kebali murung dan sedih, Aku harus kembali, menaburi benih cinta adalah tugasku saat pulang nanti.

Ketang, 10-01-2020.
×
Berita Terbaru Update