-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

IMLEK BUKAN SALAH SATU PERAYAAN GEREJA KATOLIK

Jumat, 24 Januari 2020 | 13:02 WIB Last Updated 2020-01-24T06:25:08Z
IMLEK BUKAN SALAH SATU PERAYAAN GEREJA KATOLIK
Ilustrasi: cosmopolitasn

"Adalah tugas kita bersama untuk menjelaskan dan menerangi setiap budaya dengan nilai-nilai Injili dan bukan menerima begitu saja setiap budaya atas nama “inkulturasi” walau secara sadar kita sadari bahwa hal itu adalah merusak nilai-nilai iman kita." ~ Tuan Kopong MSF

Imlek Bukan Salah Satu Perayaan Gereja Katolik

Perayaan Tahun Baru China yang biasa dikenal dengan sebutan perayaan Imlek yang dirayakan dalam bentuk misa sebagai ucapan syukur bersama saudara-saudari kita yang merayakan yang beragama Katolik, kerap menimbulkan perdebatan atau diskusi panjang di kalangan kaum awam yang adalah pegiat liturgi di paroki-paroki.

Perdebatan dan diskusi panjang bukan soal boleh tidak umat Katolik ikut merayakan perayaan Imlek dalam bentuk misa, tapi lebih pada penerapan pedoman liturgi dalam Perayaan Ekaristi atau Misa yang seringkali-berdasarkan pengalaman justru “bertabrakan” dengan pedoman yang mengatur Perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik.

Harus kita akui bahwa setiap kali perayaan syukur misa Imlek, suasana misa mulai dari dekorasi bagian dalam gereja, altar, kain altar sampai dengan pakaian imam dan petugas liturgi lainnya adalah berwarna merah. Bahkan ornamen-ornamen yang tidak memiliki hubungan apapun dengan iman kekatolikan dimasukan juga di dalam gereja ketika misa dilangsungkan.

Sebagai umat Katolik, apalagi imam yang paham betul pedoman liturgi, kita ketahui bahwa warna Merah dalam Gereja Katolik memiliki makna tersendiri yaitu: pengorbanan Kristus dan martiria. Maka dari itu warna merah sebagai warna liturgis seperti kasula imam dan kain altar dikenakan hanya pada hari Minggu Palma, Jumad Agung, Pentekosta, Perayaan-perayaan sengsara Tuhan, pesta para Rasul dan pengarang Injil (kecuali Santo Yohanes yang tidak dimartir dan perayaan-perayaan para martir.

Melalui warna merah, kita diingatkan akan Darah Kudus yang telah tercurah bagi kita di kayu salib. Kita yang telah berdosa melawan Dia, telah ditebus-Nya sehingga semua yang percaya pada-Nya beroleh hidup kekal.

Warna merah darah para martir memberi kita semangat untuk meniru kesaksian mereka dalam mengikuti Kristus sampai mati. Disamping itu warna merah juga mengingatkan kita akan peristiwa turunnya Roh Kudus (Pentekosta) dalam nyala lidah-lidah api yang mengobarkan iman para rasul sehingga mereka berani mewartakan Kristus kepada sahabat maupun musuh. Iman mereka menyala-nyala dan memukau semua yang mendengar kesaksian mereka, sehingga semakin banyaklah jiwa yang dimenangkan bagi Kristus.

Maka ketika merayakan Imlek meski itu pada hari biasa yang seharusnya warna liturginya adalah warnah hijau dan kemudian imam mengenakan kasula warna merah karena warna dalam perayaan Imlek adalah warna merah maka dengan jelas mengaburkan bahkan merendahkan makna iman yang terkandung dalam warna merah itu sendiri dan menjadikan imlek sebagai salah satu perayaan resmi dalam Gereja Katolik. Bagi saya ini adalah sebuah pelecehan sesat dengan alasan apapun.

Gereja Katolik Menghargai Dan Menjernihkan Budaya

Gereja Katolik memperlakukan dan menghargai setiap budaya secara adil dan sama rata. Bagi Gereja Katolik, ragamnya budaya yang mewarnai kehidupan Gereja, juga ikut memperkaya kehidupan umat berimannya. Namun penghargaan di sini lebih pada usaha Gereja untuk menjelaskan, mencerahkan dan memberi nilai baru atas budaya-budaya tersebut dengan nilai-nilai Injili.

Gereja tetap menghargai setiap budaya yang bertumbuh dan berkembang dalam kehidupan umat namun bukan berarti dengan mudah memasukan setiap budaya itu dalam Gereja Katolik, terutama menabrak aturan liturgi dan perayaan ekaristi atas nama inkulturasi atau pastoral. 

Inkulturasi sejatinya adalah Gereja yang memasuki budaya dan menerangi serta menjelaskannya dengan nilai-nilai Injili. Proses menerangi dan menjernihkan ini membutuhkan proses yang panjang artinya bukan asal jadi. Maka inkulturasi bukan memasukan seluruh unsur budaya dalam kebudayaan tertentu ke dalam Gereja meski secara sadar bertabrakan dengan nilai-nilai Injili dan pedoman liturgi (bdk. KGK. 854).

Tugas misi menuntut dialog penuh hormat dengan mereka yang belum menerima Injil.  Orang beriman dapat menarik keuntungan untuk dirinya dari dialog ini, karena mereka akan mengerti lebih baik segala "kebenaran atau rahmat mana pun, yang sudah  terdapat pada para bangsa sebagai kehadiran Allah yang serba rahasia" (AG 9). 

Kalau umat beriman mewartakan berita gembira kepada mereka, yang belum mengenalnya, mereka melakukan, itu, untuk menguatkan, melengkapi, dan meningkatkan yang benar dan yang baik, yang telah Tuhan sebarkan di antara manusia  dan bangsa-bangsa dan supaya manusia-manusia ini dibersihkan dari kekeliruan dan  kejahatan "demi kemuliaan Allah, untuk mempermalukan setan dandemi  kebahagiaan manusia" (AG 9; KGK. 856).

Adalah tugas kita bersama untuk menjelaskan dan menerangi setiap budaya dengan nilai-nilai Injili dan bukan menerima begitu saja setiap budaya atas nama “inkulturasi” walau secara sadar kita sadari bahwa hal itu adalah merusak nilai-nilai iman kita. Semoga.

Manila: Pebrero-20-2019
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update