-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kau, Ruang Dalam Hatiku dan Sandaran Jiwaku

Senin, 20 Januari 2020 | 18:45 WIB Last Updated 2020-01-20T12:05:56Z
Kau, Ruang Dalam Hatiku dan Sandaran Jiwaku
Ilustrasi; Vemale

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Aku terdiam seribu bahasa ketika memandangi wajahmu yang kuyu di atas batu cadas putih Puncak Panyawangan.

Aku ingin menjerit pada lembah lndiana Camp, agar Dee tidak pergi meninggalkanku dalam jangka waktu yang akan memakan waktu lama, mungkin dua tahun atau tiga tahun .

"Dian, sabar ya, ini tugasku untuk negaraku tercinta!" Katanya.

Aku mengangguk, tak bisa bicara sepatah katapun, dan Dee hanya memandang wajahku yang sedih. Matanya berkaca-kaca, ada tersirat kesedihan berpisah denganku.

Dee adalah seorang penembak jitu dengan memakai senjata Pistol AK 24, dia di butuhkan oleh negara untuk pergi bertugas ke Karachi lndia.

Mungkin dalam jangka waktu dua atau tiga tahun, atau mungkin untuk selamanya, atau juga dia akan mengantarkan nyawanya di sana.

Aku tak kuasa menatap matanya yang sayu dan teduh, tempat aku menggantungkan harapan padanya, tempat aku bersandar bila merindukannya.

Kini aku akan berpisah disaksikan batu-batu cadas putih di sekitar Stone Garden. Dan angin pun berlagu lirih, ikut merasakan kesedihan ini, dan senja pun luruh begitu cepat. Seolah-olah begitu sekejap menatapnya, dan pergi menjauh.

Aku dan Dee berpegangan tangan memandang senja yang seakan sebentar lagi berganti malam. Air mataku tak henti berderai di mataku, aku tak kuasa berpisah dengannya. Jemariku di pegang erat-erat, seakan-akan akan pergi selamanya.

"Dian, sabarlah, tunggulah aku, dua atau tiga tahun takkan lama", katanya senatap mataku yang merinai.

"Iya, Dee, aku akan menunggumu di sini setiap hari," kataku. Dee, mengusap air mataku yang tak henti-hentinya .

Dan senjapun berganti malam, waktu begitu kejam menusuki rasa rindu yang kian membuncah. Kupandangi senja di lembah batu-batu cadas yang menjulang, adakah diapun memandang langit yang sama untukku?

Kepergiannya mengguncang jiwaku, aku menangis setiap senja tiba, berdiam diri di batu-batu cadas putih, membunuh waktu dari senja ke senja setiap hari.

Tiga tahun telah berlalu,  Dee belum muncul juga. Aku gelisah setiap saat.
Dan sepucuk surat dari Karachi sampai juga ke tanganku, jemariku gemetar membaca isinya, dan....Dee.....dia telah tiada meninggalkan  aku untuk selamanya.

Dee, aku mencarimu sampai ke ujung langit di Puncak Panyawangan, namun kau tak kutemukan. Kaulah pemilik senjata Pistol AK 24, yang katanya kecepatan pelurumu seperti kereta cepat, di manakah kau berada?

Matamu yang setajam mata Elang, wajahmu yang selalu serius, yang selalu kuminta setiap pagi, kau kupaksa untuk selalu tersenyum, entah di mana kau kini?

Dan aku mencarimu setiap senja tiba, walau jarak antara kau dan aku jauh menembus ruang dan waktu, namun tak menjadikan kita jauh, seperti katamu setiap pagi.

"Kau bagaikan ruang dalam hatiku dan sandaran jiwa ragaku". Oh... Dee, aku menangis bila mengingat semua itu, kau adalah kenanganku sepanjang hayatku. Dan di sini di batu cadas putih ini, namamu abadi di hatiku untuk selamanya.

Selamat jalan Dee...aku tetap di sini untukmu, dan doaku akan selalu tersemai di setiap senja tiba.

Bandung Barat, Januari 2020
×
Berita Terbaru Update