-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KUANTAR KAU SAMPAI PERON KERETA API

Senin, 27 Januari 2020 | 08:05 WIB Last Updated 2020-01-27T01:29:38Z
KUANTAR KAU SAMPAI PERON KERETA API
Foto; id.image

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Kutahan kesedihanku, ketika kutatap mata sunyimu, hatiku tumbang melihatmu, ketika memasuki peron tempat kereta api berhenti.

Di sinilah aku akan kehilanganmu entah untuk berapa musim, aku tak tahu. Baktimu pada negara telah menjauhkan  jarak antara rentang waktu dan rasa yang membuncah.

"Dini, doakan aku cepat kembali ya, ini tigas yang terakhir yang kuemban untuk negaraku, hapuslah air matamu!" Katanya.

Aku tak kuat menahan rasa sedih yang bertalu-talu di dalam dada, aku takut kehilangan Edho dalam tugasnya yang terakhir ini . Aku memeluknya dengan erat, bersama deraian air mata.

Petugas kereta api telah meniup peluit, pertanda kereta segera melaju. Aku tetap tak melepaskan pelukanku pada Edho yang akan berangkat.

"Edho, pergilah, doaku mengiringimu dari kejauhan!" Kataku. Air mata tak henti-hentinya berlinang. Hatiku terasa hampa, kepalaku pusing berputar-putar, terasa ada baling-baling, dan dadaku begitu sesak. Dan Edho pun melepaskan pelukannya padaku, seraya mencium keningku untuk yang terakhir.

Akhirnya perpisahan yang tak ku inginkan, telah melewati garis peron menuju tangga pintu kereta api Express. Kereta pun melaju meninggalkan lambaian tanganku dan tangan Edho. Dan kereta pun menghilang dari pandanganku. Seiring hampanya hatiku yang di tinggalkannya.

Setahun, dua tahun, surat masih mengalir kepadaku, tahun ke tiga surat Edho tak datang lagi memberi kabar. Aku limbung dan kehilangan arah, entah aku harus bagaimana menjalani hidjp yang tak ada tujuannya. Edho tak pernah memberi kabar lagi, mungkin dia di nyatakan hilang entah ke mana.

Setiap senja seminggu sekali aku duduk di bangku peron kereta api, entah berapa senja kulewati.  Tiba-tiba perasaanku seperti ada yang memperhatikanku. Ketika kutoleh ke belakang, ternyata ada seorang laki-laki menggunakan kursi roda sedang menatapku, aku tak mengenalnya.

Wajahnya tertutup oleh jenggot dan cambang, dan rambutnya juga gondrong ikal. Tetapi matanya aku seperti mengenalnya, entah siapa aku lupa. Dia tetap menatapku tak berkedip. Kudekati dirinya, Yaa Tuhan, matanya basah, dia menangis, entah untuk siapa.  Dan kulihat ke jari tangannya ada cincin yang kukenal. Ya...itu cincin yang kuberikan pada Edho, ketika akan berangkat bertugas.

Bibirku kelu, dan mulutku menganga, mataku melotot, aku tatap jemariku dan jemari laki-laki itu, Yaa Tuhan, ini cincin yang sama, kakiku seperti di paku tak bergeming.

Akhirnya bibirku dengan gemetar memanggil namanya. "Kaukah Edho?" Kataku, dalam panik seperti melihat hantu. Laki-laki gonrong itu mengangguk dalam deraian air mata. "Dini!" Katanya, memanghil namaku dengan bibir gemetar.

Aku tak kuat lagi, aku berlari ke pelukannya, dan memeluknya dalam tangisan rindu yang membuncah. "Edho!" Kataku. "Dini!" Katanya

Kami berpelukan erat sekali. Empat tahun aku memendam rindu padanya tanpa kabar berita, dan kini beryemu lagi di sini, seperti dulu sewaktu ku antar dia sampai peron kereta api. Aku menangis di tinggalkannya. Dan kinipun aku menangid di sini di peron kereta api, melepaskan semua rinduku padanya.

Jemari tanganya mengusap-usap kepalaku, aku bertambah erat memeluknya, perasaan sedih dan rindu  menyatu di sini, dalam pangkuannya, aku baru menyadarinya.

Dulu aku memeluknya ketika dia akan melangkah ke pintu kereta api. Kini aku memeluknya ketika dia duduk di kursi roda. "Edho, kenapa? Ada apa denganmu? Katanlah!"  Kataku.

Dalam tangisanku aku bertubi-tubi dengan semua pertanyaanku. Mata Edho semakin deras berlinang air mata.

"Maafkan aku Dini, aku invalid, aku tak ingin melihatmu sedih, padahal aku sudah setahun ini aku melihatmu, menatapmu, tetapi aku tak berdaya, aku bukan laki-laki yang gagah seperti dulu, hidupku sudah hancur, Dini!" Katanya, ada tatap putus asa di matanya.

"Aku tahu, kamu akan malu melihatku seperti ini!" Katanya lagi. "Edho, kenapa? Apa yang terjadi? Katakanlah!" Kataku.

"Lihatlah kakiku Dini, aku sengaja tak kuberi tahu kepulanganku, aku takut kamu tak ingin bertemu lagi denganku, Dini!" Katanya.

Edho membuka kain yang menutup kakinya, dia kira aku akan meninggalkannya, padahal aku tak peduli dia cacat atau tidak aku akan tetap mencintainya sepanjang hidupku.

"Edho aku sayang sama kamu sampai kapan pun, sampai maut memisahkan kita!" Meyakinkannya.

Jemariku di tangkupkan ke dadanya Edho, aku semakin sedih juga bahagia bisa bersama lagi. Aku takkan meninggalkannya selama dia membutuhkan aku. "Edho yakinlah, aku tetap sayang padamu, sampai aku mati!" Kataku, sekali lagi meyakinkannya.

Dua tahun kami bahagia, dalam bentuk pertunangan, bunga-bunga mekar sepanjang taman hati kami, nerekah indah sepanjangnya.

Dan tak terduga, aku begitu terkejut ketika dia tiba-tiba pingsan.setelah dokter memeriksanya, ternyata peluru masih bersarang di kakinya, tak terkontrol.

Dalam dua minggu Edho koma, dan detik-detik teralhir yang aku takutkan kini menjadi kenyayaan, Edho akhirnya tak kuat menanggung rasa sakit, dan aku kehilangan orang yang aku sayang selamanya.

Dan...payung hitam yang memayungi keranda Edho, basah oleh gerimis dan tangisanku di antara tembakan salvo tujuh kali, mengejutkan perasaanku yang kehilangan.
Selamat jalan Edho, semoga kau damai di sisi-Nya. Kuikhlaskan semua yang kumiliki akan di ambil-Nya. Walau langit tetasa runtuh menimpaku, kukuatkan hatiku mengantarmu dan doaku akan tetap menyertaimu sepanjang hidupku....amin....

Bandung Barat, Januari 2020
×
Berita Terbaru Update