-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mengkritisi Sifat Perkawinan Katolik, “Sekali Seumur Hidup dan Tak Terceraikan”

Sabtu, 18 Januari 2020 | 12:03 WIB Last Updated 2020-01-18T05:04:33Z
Mengkritisi Sifat Perkawinan Katolik, “Sekali Seumur Hidup dan Tak Terceraikan”

Di era modern ini, banyak orang terjebak karena pengaruh-pengaruh kemajuan tehnologi. Orang salah memanfaatkan alat-alat komunikasi sehingga ada kemungkinan perselingkuhan. Di tengah persoalan tersebut, ada pertanyaan, masih relevankah sifat perkawinan Katolik, sekali seumur hidup dan tak terceraikan di era ini?

Untuk menjawab persoalan itu, kita kembali ke perkawinan ala umat Kristiani. Bagi orang Katolik, perkawinan merupakan suatu anugerah Tuhan kepada orang-orang yang termeterai dalam janji suci. Allah memerlihatkan kasih-setia-Nya kepada umat manusia melalui hubungan suami-istri. 

Dalam teologi moral, perkawinan merupakan sakramen. Perkawinan merupakan peristiwa cinta personal yang melibatkan misteri cinta ilahi. Tuhan hadir untuk menopang dan menampung penyerahan diri timbal balik kedua mempelai. 

Gaudium et Spes (GS) 47 memahami perkawinan sebagai persekutuan cinta kasih dan mengecam ancaman terhadap perkawinan dan keluarga (poligami, perceraian, free sex). Ajaran-ajaran Gereja tentang perkawinan dan keluarga perlu dijelaskan dan bertujuan melindungi nilai-nilai perkawinan. 

Allah hadir dalam relasi suami-istri yang terikat dengan sakramen perkawinan agar mereka terlibat dalam karya perutusan Allah lewat kata-kata, tindakan, keteladanan hidup atau keseluruhan diri. Selain itu, suami-istri diharapkan meneruskan karya penciptaan Allah yakni keturunan. 

Dasar perkawinan suami-istri yakni cinta. Cinta yang dimaksudkan bukan sekedar cinta erotis yang mengedepankan nafsu birahi dan menomorduakan istri dalam segala aspek kehidupan. 

Tuhan Yesus Kristus sudah mengajarkan dan mewujudkan cinta itu yakni pengorbanan diri. Dia rela menderita dan wafat di kayu salib demi menebus dan menyelamatkan umat manusia. 

Cinta suami-istri juga berlandaskan pada pengorbanan diri sebagaimana cinta Kristus terhadap umat-Nya. Suami mengorbankan diri untuk membahagiakan istri dan anak-anak, demikian sebaliknya. 

Cinta suami istri termeterai abadi apabila keduanya saling mencinta. Suami-istri sepakat mengatakan Ya dalam satu cinta. Kedua belah pihak harus tetap saling mencinta dalam untung dan malang, suka dan duka atau di setiap dinamika kehidupan rumah tangga hingga maut memisahkan mereka. 

Sebab sifat perkawinan Katolik yakni satu kali seumur hidup (monogami), tak terceraikan, tanda cinta Allah (Sakramen) dan punya tujuan. 

Sifat perkawinan Katolik disebut monogami karena dasarnya yakni Cinta Allah yang tak terbagikan. Cinta suami istri harus menyeluruh atau utuh. 

Perkawinan tersebut tak terceraikan dikarenakan cinta Allah tanpa syarat. Kasih Allah terhadap manusia begitu besar hingga mengorbankan Putra-Nya Yesus Kristus. Allah tidak menghendaki hubungan suami-istri “cerai-kawin lagi-cerai lagi-kawin lagi”. Yang dikehendaki Allah yakni perkawinan sekali seumur hidup sebagaimana Allah setia mengasihi umat-Nya. 

Perkawinan Katolik termeterai dalam Sakramen. Hal ini merupakan bukti dan tanda cinta Allah. Sebagai Sakramen, suami-istri mewujudkan kasih Allah baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara. 

Tujuan perkawinan yakni kebahagiaan, keturunan, perkembangan kepribadian, dan Kerajaan Allah. 
Hubungan suami istri bermaksud untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan.Hubungan suami-istri juga bertujuan untuk memperoleh anak. 

Perkawinan dan cintakasih terarah pada prokreasi yang merupakan partisipasi manusia dalam karya penciptaan Allah dan memperbesar keluarga Allah. Meskipun demikian, perkawinan tanpa menghasilkan anak tetap berarti dan bernilai tinggi (GS 51). 

Perkembangan kepribadian dalam hubungan suami-istri sangat penting dengan tujuan untuk saling memberikan keteladanan yang berlandaskan cinta kasih Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah selalu nyata dalam setiap kehidupan keluarga. 

Suami-istri diharapkan mampu mencapai tujuan dalam perkawinan. Hal ini bisa dicapai apabila setiap pribadi mengambil bagian dalam menata kehidupan keluarga. Dan tentunya, suami menjadi montir dalam membawa dan mengendali setir kehidupan keluarga. 

Oleh: Nasarius Fidin
Tulisan ini sudah dipublikasikan di keluargakatolik.com
×
Berita Terbaru Update