-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENUNGGU GERIMIS REDA

Senin, 27 Januari 2020 | 13:33 WIB Last Updated 2020-01-27T06:33:06Z
MENUNGGU GERIMIS REDA

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

"Dea, kita berteduh dulu ya, nanti kita basah kehujanan!" katanya. Aku mengangguk, karena memang hujan semakin deras, dan jalanan tergenang air sebatas mata kaki.

Aku dan Dee berhenti di sebuah Mesjid Agung yang indah dan artistik, terlihat masih baru dari bahan-bahan bangunannya. Aku mengikuti Dee duduk di tangga Mesjid yang basah dan terciprat air hujan sampai ke tangga ke dua.

Sepatuku dan sepatunya basah, dan helm pun basah, ada irama yang mendenting di atas helm yang kusimpan di tangga pertama dan kehujanan, iramanya menghiburku dalam sunyi dan lengang.

Kunikmati denting gerimis sambil ku duduk menekuk lutut, dan menopang dagu, aku diam terpaku di tangga batu yang dingin, memandang sepatuku yang basah dan sepatu Dee yang di hinggapi titik air hujan, hingga terkulai di tangga Mesjid rasanya begitu sunyi dan dingin yang gigil.

Kulirik Dee di sebelahku, laki-laki itu dalam gerimis sunyi diam terpaku, membisu tak mau bicara, sekali-kali matanya tak berkedip memandangi jalanan basah yang tergenang.

Wajahnya serius, terkesan jutek dan acuh tak acuh dengan sekelilingnya, namun begitu bagiku gerimis dalam dentingnya begitu indah seolah ada larik-larik puisi yang berhamburan bersama titik air yang luruh menimpa sepatuku dan sepatu Dee, yang kupindahkan agar tak basah.

"Dea, aku ke dalam ya, sebentar!" katanya. Aku mengangguk, Dee menemui teman-temannya di dalam Mesjid, ternyata semua yang datang ke Mesjid adalah teman-temannya Dee semasa sekolah dulu, dan aku di perkenalkannya.

Sepeninggal Dee, aku tetap menopang dagu, dan tiba-tiba ada seseorang sepertinya seorang tentara yang memakai baju kemeja menyapaku, dia orang seberang Sumatera yang bertugas di kesatuan Cimanggis Depok dari Angkatan Udara, mungkin salah arah rute, dia bertanya padaku arah pulang ke Jakarta.

Tiba-tiba Dee membawakanku dua gelas coklat panas, satu gelas diberikannya padaku, dan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Aku berterima kasih pada Dee, aku begitu terharu, tepat di saat aku menggigil kedinginan.

"Terima kasih ya, Dee!" kataku. Dee hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Itu bagiku sudah cukup untuk merasakan keramahannya padaku, dan tak acuh lagi.

Jemariku terasa hangat menepi pada gelasku, dan kebaikannya padaku takkan kulupakan, di balik wajah yang acuh tak acuh, ada hati yang melankolis dan begitu perhatian, dan dari dinginnya gerimis senja yang gigil, dia tetap tersenyum untukku.

Aku tahu, aku belum bisa meraba perasaannya, dia begitu serius, dan pendiam, berbicara juga seperlunya. Membuat aku terpaku seperti patung bila aku ada di hadapannya, bibirku kelu, tak bisa bicara, seolah aku membatu bila sedang berhadapan dengannya.

Sambil kunikmati segelas coklat panas, mataku tetap memandangi gerimis yang semakin deras, seolah orkestra yang di mainkan semakin meliuk oleh tangan Sang Pemandu. Kakiku pun semakin membeku di tangga batu, karena percikan air semakin naik ke tangga yang ke tiga.

Aku duduk semakin tersudut, walau begitu kunikmati dendang titik air hujan yang menitik sampai ke hati yang sunyi dan hampa, dan gigil yang berkepanjangan.

Di dalam gerimis seperti ada kisah yang berhamburan datang pada tatap mataku, seolah berbicara padaku. Ada kisah yang menderu dan melankolis, begitu samar dan menyapa basah jiwaku, aku begitu kelu dan membatu dalam bisu, dan hening yang lelap.

Gerimis telah mengajarkanku tentang kesabaran, dan keikhlasan menunggu sampai reda. Di dalam gerimis ada jejak dalam kisah perjalanan yang belum jeda, seperti persahabatanku dengan Dee, yang akan tetap seperti itu sepanjangnya, dan aku bersyukur dia begitu baik padaku, perhatiannya, walau dalam diam, Dee mengajarkan aku tentang sisi kehidupan,  tentang menata masa yang akan datang seperti apa.

Kini kunikmati hidupku seiring waltu yang masih misteri, dan persahabatan, tak akan aku lupakan seumur hidupku.

Aku merasa ketergantungan padanya, dan aku akan tetap mendoakannya agar selalu sehat dan semoga  Tuhan memberkahi setiap langkahnya.

Terima kadih untukmu Dee, semua kebaikanmu padaku takkan terbalaskan, biarlah Tuhan saja yang membalas semua kebaikanmu padaku, amin....

Bandung Barat, 27 Januari 2020
×
Berita Terbaru Update