-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekologi Melalui Konservasi (Menjelang Semiloka Burung Indonesia)

Selasa, 28 Januari 2020 | 21:22 WIB Last Updated 2020-01-28T14:22:38Z
Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekologi Melalui Konservasi  (Menjelang Semiloka Burung Indonesia)


"Aspek lingkungan tidak boleh diabaikan jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial", (Burung Indonesia)

LABUAN BAJO-"Inilah alasan utama mengapa pembangunan berbasis ekologi dianggap penting, yang diwujud-nyatakan melalui berbagai macam kegiatan konservasi. Karena itu konservasi harus menjadi bagian integral dari kegiatan pembangunan, yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan konservasi".

Bentang alam Mbeliling di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu lokasi penting untuk kegiatan konservasi. Kegiatan konservasi penting dilalukan di kawasan ini karena memiliki keragaman hayati, juga sebagai penyedia berbagai layanan-layanan alam. Selain itu, kawasan ini juga menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ramai dikunjungi para wisatawan karena keindahan panoramanya.

Bukan itu saja. Bentang alam Mbeliling menjadi daerah tangkapan air karena vegetasi dan kerapatan tutupan lahannya. Alam Mbeliling menyuplai air untuk kebutuhan warga Kota Labuan Bajo maupun untuk pertanian dan rumah tangga. Bentangan alam Mbeliling adalah masa depan kita, sekaligus kunci suksesnya pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.

Jika demikian, bagaimana memastikan bahwa kegiatan konservasi bisa berlangsung di Mbeliling? Apa tantangan? Bagaimana mengatasi tantangan itu agar konservasi alam Mbeliling bisa memastikan ketersediaan dan keberlanjutan nilai-nilai pentingnya? Bagaimana memastikan mekanisme pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di Mbeliling? Bagaimana peran masing-masing pihak yang menerima layanan alam yang disediakan oleh bentang alam Mbeliling?

Guna menjawab semua pertanyaan itulah Burung Indonesia menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertema “Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi; Langkah Menuju Pembiayaan Konservasi Berkelanjutan".

Semiloka ini akan dilaksanakan di Meeting Room Hotel Jayakarta-Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat 31 Januari 2020. Acara Pembukaan Semiloka dijadwalkan mulai pukul 09.00-09.50 Wita. Bupati Mabar, Drs.Agustinus Ch.Dula akan hadir membuka kegiatan Semiloka dan ditutup oleh Direktur Burung Indonesia, Adi Widyanto.

Peserta yang diharapkan hadir dalam kegiatan ini sebanyak 40 orang yaitu para pihak kunci yang terdiri dari unsur Pemerintahan Daerah, Dinas Instansi terkait, perwakilan private sector, unsur pemerintah desa, Pers dan Burung Indonesia.

Ada 4 narasumber siap hadir dalam forum Semiloka ini akan menyajikan materi dengan topik berbeda sesuai kompetensi masing-masing narasumber.

Keempat narasumber itu adalah Joko Tri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional. Joko akan       menyajikan materi tentang Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi, Telaahan Konsep dan Regulasinya.(pukul 10.20 – 10.50).

Pemateri kedua, Drs. Fransiskus Sales Sodo dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Manggarai Barat akan membedah Peluang Implementasi Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi di Kabupaten Manggarai Barat (pukul 10.20 – 10.50).

Pembicara ketiga, Mateus Ngabut, S.H.dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Manggarai Barat. Ia akan fokus mempresentasikan Kebijakan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa untuk program konservasi skala Desa (pukul 11.05 -11.20 Wita )

Narasumber keemoater, Tiburtius Hani          dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia. Tibur Hani akan mengeksplor berbagai Konsep Rencana Tata Guna Lahan sebagai dasar Perencanaan desa mewujudkan desa lestari..(pukul 11.20-11.35

Dalam kerangka acuan kegiatan yang diterima KOMODOPOS.com, Jumat (28/1) Burung Indonesia, menjelaskan tujuan Semiloka ini diselenggarakan antara lain untuk
berbagi informasi tentang konsep perencanaan pembangunan dan penganggaran berbasis ekologi, baik pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat desa.

Selainn itu, membangun pemahaman bersama tentang peran masing-masing pihak dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di bentang alam Mbeliling dan mendiskusikan peluang pengintegrasian konsep perencanaan dan penganggaran berbasis ekologi dalam kegiatan pembangunan tingkat kabupaten dan tingkat desa.

Burung Indonesia berharap kegiatan Semiloka ini menghasilkan setidaknya 3 hal, yakni ada pemahaman tentang konsep perencanaan pembangunan dan penganggaran berbasis ekologi, baik pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat desa. Itu satu.

Kedua, masing-masing pihak memahami peran konkrit mereka dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di bentang alam Mbeliling

Ketiga teridentifikasi peluang pengintegrasian konsep perencanaan dan penganggaran berbasis ekologi dalam kegiatan pembangunan tingkat kabupaten dan tingkat desa.

Landasan Pemikiran

Burung Indonesia menjelaskan, bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini sambil tetap mempertimbangkan kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam hal memenuhi kebutuhan saat ini sembari mempertimbangkan generasi yang akan datang, pembangunan berkelanjutan memiliki 3 pilar utama yang terkait satu terhadap yang lain yakni pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.

Dari 3 pilar utama tersebut,, aspek lingkungan tidak boleh diabaikan jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial.

"Inilah alasan utama mengapa pembangunan berbasis ekologi dianggap penting, yang diwujud-nyatakan melalui berbagai macam kegiatan konservasi. Karena itu konservasi harus menjadi bagian integral dari kegiatan pembangunan, yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan konservasi", kata Burung Indonesia.

Flores Programmer Manager Burung Indonesia, Tiburtius Hani mengungkapkan, dewasa ini, kegiatan konservasi sudah menjadi perhatian banyak orang terutama agen pembangunan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran tentang ketergantungan manusia pada layanan-layanan yang disediakan oleh alam, dimana semua itu merupakan buah dari kegiatan konservasi.

"Layanan alam dinikmati oleh semua orang, oleh semua profesi, oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu kepedulian terhadap ketersediaan, kualitas, dan keberlanjutan layanan alam harus juga menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah, swasta, kalangan dunia usaha, masyarakat, baik di perkotaan maupun masyarakat di pedesaan.", tandas Tibur Hani.

Ia menambahkan, hasil dari Semiloka ini diharapkan bisa berkontribusi dalam menemukan mekanisme yang tepat untuk menggalang pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di Kabupaten Manggarai Barat, khususnya di bentang alam Mbeliling. (Robert Perkasa)

Sumber: Komodopos.com
×
Berita Terbaru Update