-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

RADIKALISME

Selasa, 21 Januari 2020 | 15:22 WIB Last Updated 2020-01-21T08:23:27Z
RADIKALISME
Ilustrasi; google

Adalah cinta. Digaungkan lantang dari mulut-mulut manusia. Atas nama cinta orang bisa menjadi baik. Tak pelak jua menjadi jahat. Lantas, jahat dan buruk berada dalam kolom cinta.  Kolom cinta berada dalam naungan imajinasi dan rasa. 

Sesungguhnya, kolom cinta serentak diyakini sebagai kehendak Allah oleh kaum agamawan. Mereka membahasakannya dengan sebutan kehendak, takdir, atau pun anugerah Allah. Jika logika cinta, ditautkan dengan konstruksi berpikir Nietze, tak ayal lagi semuanya berakhir himne tanpa notasi. 

Sebab, bagaimana mungkin menyebut, cinta adalah kehendak Allah, pada orang yang lantang mengumandangkan kematian Allah? Bukankah itu menjadi perkara nalar yang tak tuntas diulas? Kalaupun diulas dengan teori tanda-penanda dalam  filsafat analitis Ferdinan Sausure, tetap saja menyisakan berbagai akal perbantahan. Belum lagi, didalih oleh argumentasi fisafat eksistensialisme Jhon Paul Sartre.  Cinta, begitulah adanya. Ia selalu misterium.

Gairah misterium cinta, menarik untuk dikaji. Cinta yang dikaji adalah CINTA akan Allah. Jadi, ulasan ini tidak berada pada kolom insan manusia yang saling jatuh cinta. Ia tidak dimengerti dalam ranah cinta antara pria dan wanita. Tetapi cinta antara Manusia dengan Allah. 

Cinta akan Allah bisa memeroduksi radikalisme. Itu sudah dan sedang terjadi. Orang mengklaim, tindakan keji atas nama Allah adalah hal terpuji. Benarkah demikian? Lalu, apakah radikalisme berada pada kepentingan Allah? Menurut saya, tidak. Radikalisme berada pada kolom kepentingan manusia. 

Namun, legalitas perbuatan keji diletakan dalam dalih atas nama Allah. Sungguh kontradiktio interminis. Di satu sisi, manusia cinta akan Allah. Di lain sisi ia membunuh Allah. Nietze benar. Inilah perkara Manusia membunuh Allah-nya. Hakikat Allah sebagai kebaikan tertinggi, kini dicabik-cabik oleh kaum radikalis. 

Reputasi Allah sebagai sumber kebaikan dan cinta, menjadi goyah. Kebaikan Allah yang didengungkan oleh filsuf Thomas Aquinas, mati mengenaskan. Orang Indonesia membunuh haikat Allah dengan tindakan radikalisme. Bagaimanakah takdir negara Indonesia, jika radikalime bertumbuh subur? Barangkali, kaum radikalis akan menjadi perampok ideologi negara. Setelah mereka mencabik-cabik keyakinan agama, giliran darah pancasila yang akan dicabik-cabik. Cabikan ini, membuat Indonesia dianggap menjadi negara berpenyakit.

Indonesia mengalami sakit berat. Ada segelincir orang menabur penyakit dalam tubuh manusia Indonesia. Sang penabur itu adalah Radikalisme. Disposisi batin seorang radikalis adalah berusaha untuk menang. Menang dalam ideiologi dan pendapatnya. Ia merasa bahwa eksistensinya benar dan sah, secara nalar dan batinya. Ia tidak peduli kisah dibalik perbedaan jenis manusia dan keyakinannya. 

Ia berorasi suci, dengan tak gentar mengucapkan bahwa di luar saya, tidak ada kebenaran.  Persoalan ideologi dan kebenaran ini, kerap kali menjadi wabah penyakit kekerassan, otoritarianisme  dan fanatik irasional. Penyakit tersebut sudah kronis. Ironisnya, ada perkataan dari naluri radikalisme tentang legalitas hukum, untuk membunuh dan melakukan kekerasan. 

Radikalisme, apabila tidak ditangani dengan baik, akan menjadi perampok ideologi negara.  Bom Sarinah, merupakan satu kasus yang mengenapi  hal itu. Untuk mengembalikan keutuhan negara, manusia Indonesia harus menengok sejarah panjang perjuangan bangsa.  Di situ akan ditemukan kristalilasi nilai moral dan ideologi pancasila.

Pancasila menyerukan kesatuan yang utuh, sebagai warga negara. Namun,  ideologi pancasila kerap tidak diaplikasikan sebagai tangga menuju kebaikan bersama. 

Orang lebih mengutamakan kebaikan kelompoknya, golongannya, agamanya dan kesukuannya. Tidak dapat disangkal, jiwa nasionalisme sangat berkurang.  Karena itu, mari kita menggalang lagi persatuan dan kesatuan bangsa di bawah panji pancasila. 

Sejarah kemerdekaan, telah mencetuskan banyak rasa dan pikiran yang sama, dalam membangun spirit kebersamaan, senasib dan sepenanggungan.

 Oleh:  Ricky Richard Sehajun
×
Berita Terbaru Update