-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Revolusi Industri; Urgensitas Mahasiswa sebagai Agent of Change

Kamis, 30 Januari 2020 | 20:30 WIB Last Updated 2020-01-30T13:54:45Z
Revolusi Industri; Urgensitas Mahasiswa sebagai Agent of Change
Ilustrasi: Tvetindonesia

Oleh: Vinsensius Indra Servin

Prolog

Proses modernisasi yang kian hari kian berubah menuntut manusia untuk terus memperbaharui diri dengan inovasi-inovasi baru. Inovasi-inovasi baru yang dimaksud adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berlaju menuju revolusi 5.0. 

Perkembangan yang secara drastis ini menuntun mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) untuk mendalami keahlian atau profesi dengan kreatifitas yang berdaya saing global. Menggali potensi keahlian menjadi kekuatan untuk menghadapi revolusi 4.0 yang sedang berlaga saat ini. 

Jika kita menarik benang merah antar peran mahasiswa Indonesia sejak era penjajahan dengan mahasiswa era milenial bahwa urgensitas mahasiswa sangatlah menentukan kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia. 

Mahasiswa Indonesia era penjajahan adalah mahasiswa yang pandai berbahasa asing, kritis, berjiwa kepemimpinan dan mampu menggentarkan dunia, lalu bagaimana urgensitas mahasiswa era milenial sebagai agent of change di jaman sekarang.  

Maka untuk menjawabi pertanyaan ini penulis coba mengkaji secara mendalam peran mahasiswa dalam menyikapi perubahan revolusi industri di era modernisasi ini dengan judul REVOLUSI INDUSTRI; URGENSITAS MAHASISWA SEBAGAI AGENT OF CHANGE. 

Malalui tulisan ini mahasiswa diminta untuk mampu mengaktualisasikan diri sebagai agent of change. Harus mampu menjawabi setiap tantangan gelobal. Harus mampu menemukan inovasi-inovasi baru dan harus mampu mengetarkan dunia dengan kreatifitas-kreatifitas baru. 

Isi 

Revolusi industri saat ini telah membawa perubahan besar-besaran di berbagai bidang kehidupan manusia seperti manufaktur, transportasi, pertanian, teknologi serta berbagai bidang lainnya. 

Kemajuan ini tentunya telah membawa sejuta perubahan dalam berbagai bidang kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. 

Semisal dari revolusi pertama kali pada abad ke-18 yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap, kemudian ditemukannya kelistrikan (elektrifikasi) pada revolusi kedua, lalu ditemukannya komputer pada revolusi ketiga dan keempat ditemukan internet dan teknologi digital, menunjukan bahwa transparansi revolusi sangat tampak dalam regulasi dinamika kehidupan manusia.

Maka dengan adanya inovasi-inovasi baru ini tentu problematika dalam masyarakat tak dapat dielakan lagi. Baik itu dalam bidang  ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, moral dan dalam berbagai bidang lainnya. 

Misalnya dalam bidang ekonomi seperti pergeseran fungional bank sebagai Insuransi, Invesment dan Income dengan munculnya bank berbasis online. Sehingga kebutuhan tenaga manusia pun mulai berkurang dan diganti dengan alat digital. Maka tingkat kemiskinan dan pengangguran mulai meningkat. 

Dalam bidang pendidikan, mulai menglangsirnya nilai moralitas pendidikan itu sendiri dengan munculnya belajar berbasis online. Sehingga tingkah laku peserta didik mulai melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, misalnya tawuran antara pelajar, seks bebas, narkoba  dan berbagai macam hal lain. 

Dalam bidang sosial munculnya kriminalitas berbasis online seperti prostitusi, porno dan yang sedang trending saat ini yaitu kasus grooming terhadap anak. Dalam bidang budaya dan bidang-bidang yang lain pun telah menjadi korban dari revolusi ini.

Revolusi  yang pertama kali ditemukan oleh Profesor Klaus Scwab ini memang telah mengingatkan kepada manusia dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution” bahwa revolusi 4.0 secara fundamental dapat mengubah cara hidup manusia dan polarisasi kerja. Hal ini dengan adanya peran teknologi di berbagai aspek kehidupan manusia. 

Memang seyogianya revolusi ini mempermudahkan pekerjaan manusia menjadi lebih efisien dan efektif. Atau dengan kata lain dapat membawa keuntungan yang sangat besar untuk manusia. 

Namun realita menunjukan bahwa teknologi ini telah mengambil alih peran kehidupan manusia sehingga menciptakan persoalan baru dalam tatanan masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi dengan kurangnya pemahaman maupun skill dari manusia itu sendiri, khususnya manusia Indonesia. 

Maka dari berbagai macam rentetan persoalan  di tengah kemajuan teknologi ini, memicu inovatif dan kreatif mahasiswa Indonesia sebagai agent perubahan (agent of change) untuk ikut bersaing secara global dalam menjawabi revolusi 4.0. 

Oleh karena itu urgensitas mahasiswa dengan berbagai softskill sangat diharapkan oleh bangsa dan negara ini. Hal ini tentunya tidak terlepas dari meperdalamkan keahlian/profesi dan kreatifitas mahasiswa dalam inovasi baru. 

Mantan wakil presiden, Jusuf Kalla dalam pidato utama CEO Forum: Embracing Industri 4.0 Op-portunity di Jakarta (Kompas 11/12/2018) bahwa industri 4.0 sedang mengguncang Indonesia belakangan ini. 

Sektor ekonomi menjadi  back roun bahwa pergerakan teknologi sedang berputar di bumi Indoensia, dan apabila Indoensia telah menguasainya maka ekonomi di Indonesia akan lebih baik. Selain membicarakan pergerakan teknologi di Indonesia beliau juga menyinggung peran mahasiswa dalam menyikapi revolusi 4.0 ini bahwasanya jangan sanpai terhanyut dan ketinggalan kreta dari negara lain. 

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Mohamad Nasir selaku mantan  Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengatakan bahwa mahasiswa merupakan peran utama dalam menghapi revolusi 4.0. Pergunakan kesempatan ini untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang akademik dan bidang-bidang yang lain yang menjadi keahliannya, serta kreatif dalam menggali inovasi-inovasi baru.  

Lagi-lagi kedua pernyataan ini adalah kontribusi yang kuat bagi mahasiswa untuk selalu meng-eksis-kan dirinya dalam bingkai ke-inovatif-an dan ke-kereatif-an serta mampu berdaya saing global. 

Menurut Mohamat Nasir ada berbagai macam softskill yang dapat diasah oleh mahasiswa di era revolusi industry 4.0 yaitu kemampua dalam berbahasa asing, kemampuan dalam memecahkan masalah, public speaking, berpikir kritis, dan serta kepemimpinan. 

Epilog 

Untuk mengakhiri tulisan sederhana ini penulis coba mengkralifikasi sistem pendidikan yang diterapkan mentri pendidikan saat ini. 

Dalam dunia pendidikan di Indonesia Nadiem selaku mentri pendidikan memberikan kebijakan baru yakni mengapus Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)/Ujian Nasional  berbasis Lembar Jawaban Komputer (UNLJK) dengan memberi kepercayaan sepenuhnya kepada sekolah/instansi terkait untuk membuat soal dan menentukan kelulusan peserta didik. 

Hal ini jika dilihat dari sudut padang kompotisi (compotition) sangatlah keliru karena tidak memicu siswa untuk bersaing secara akademik dalam suatu pembelajaran, dan membuat semangat belajar siswa menurun namun jika dilihat dari sudut pandang pedagogik malah ini yang dibutuhkan dunia saat ini. Lalu pertanyaannya mengapa?

Pertama, intisari pembelajaran pada hakekatnya adalah long life iducations (belajar seumur hidup). Belajar bukan hanya untuk menjawabi soal UNBK atau sejenisnya yang menuntun para peserta didik menghafal dan bukan memahami. 

Sehingga pada suatu titik tertentu materi yang dipelajari di sekolah hanya untuk menjawabi UNBK dan bukan untuk hidup karena sifarnya menghafal dan hanya untuk mendapat nilai.

Kedua, belajar bukan untuk mendapatkan nilai. Mungkin semua orang Indonesia punya persepsi yang sama tentang belajar, yakni ingin mendapat nilai yang bagus. Sehingga para peserta didik berusaha sedemikian rupa untuk memperoleh nilai yang bagus. 

Bahkan sikap curang pun tak menjadi masalah yang terpenting nilai bagus. Inilalah persoalan yang sedang kita hadapi saat ini bahwasanya Ideks Prestasi Komulatif (IPK) melebihi segalanya. Padahal esensi dari sebuah pembelajaran adalah menghasilkan peserta didik yang berketuhanan, beraklak mulia, berkomputen, inovatif, kreatif dan berdaya saing global. 

Tetapi jika dilihat dari dua pandangan di atas yang merupakan persepsi tetang hekakat pendidikan maka pendidikan di Indonesia pada dasarnya belum berjalan dengan mulus karena tidak menghasilkan pendidik-pendidik yang berketuhanan, beraklak mulia, berkompoten, inovatif, kreatif dan berdaya saing global, bahkan sistem pendidikan yang mengutamakan nilai itu adalah sistem pendidikan yang mencedrai moralitas bangsa, karena pendidikan itu selalu memboncengi kecurangan-kecurangan demi mendapat nilai yang bagus. 

Kebijakan baru yang dibuat oleh mentri pendidikan ini merupakan upaya untuk menjawabi tantangan global dan revolusi industri saat ini yakni mengahasilkan peserta didik yang kreatif, inovatif dan berdaya saing global. 

Sebab dunia saat ini tidak membutuhkan IPK melainkan membutuhkan generasi-generasi yang mampu menghasilkan sesuatu, yang mampu menciptakan sesuatu dan yang mempu bersaing secara global. Kualitas generasi bukan terletak pada nilai bagus atau tidaknya melainkan terletak pada keahlian yang mampu menciptakan inovasi-inovasi baru.   
×
Berita Terbaru Update