-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SANG MUSAFIR

Jumat, 24 Januari 2020 | 14:28 WIB Last Updated 2020-01-24T07:28:48Z
SANG MUSAFIR
Ilustrasi dari liputanislam

Oleh: Agustinus M. Samuel
Siswa SMAK St. Stefanus ketang

Denting-denting musik berdengung perlahan. Begitupun waktu berjalan melangkah dengan alunan dentingan bunyinya. Aku bergegas ke rumah pangung, sebuah gubuk peraduan sore ini, gubuk yang sederhana, tempat dimana akan ku baringkan sejenak tubuh-ku yang sudah letih ini. 

Suasana malam, pekat berkabut tebal, suara jengkrik dan binatang malam menjadi penyejuk tidur-ku, dan menghantarkan Aku ke dalam alam bawah sadar-ku. Aku pun  tertidur pulas. Tat kala Aku mengimpikan suatu kehidupan yang bebas dari tekanan.

Di sini aku terpana menatap ruang kosong tempat yang pernah terlintas sebuah perjalanan waktu. Dari tatapan mataku yang kosong terpampang dan tergambar, ternyata masih ada sisa kepedihan, ternyata kisah yang-ku kenang membuat aku gelisah yang menyatu dalam mimpi.

Ke esokan paginya, aku bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Pangi yang sunguh indah , embun yang menetes membasahi rerumputan di taman gubuk tua ini yang memancarkan kesejukan dan kedamaian, walau sebentar lagi iya akan hilang dan lekas pergi, tanpa meminggalkan bekas.

" Ahhh.... Esokan pagi tetap masih ada, dan menghadirkan embun lagi, walau Ia akan pergi lagi" pikir-ku dalam hati.

Aku pun lekas berdiri an berjalan keluar untuk menikmati mentari pagi yang bersandar di punggung bukit-bukit di ufuk barat.

"Pagi yang sunguh  mendamaikan hati-ku, andai aku bisa membawanya pulang maka akan ku petik dan ku simpan di dinding kamar-ku"  pikir-ku dalam hati.

"Aku harus cepat- cepat mempersiapkan segala sesuatu demi kenyamanan perjalanan pulangku".

Di perjalanan pulang-ku, Aku pun tetal mengimpikan bahwa "Aku akan tetap hidup di tengah- tengah kampung kecil yang penuh dengan keamaian  dan sukacita. Terlebih Aku haru menjadi pembawa damai di tengah-tengah kemelaratan dan carut-marutnya kota tua ini". 

Perjalanan yang begitu panjang, Aku pun mencoba untuk beristirahat sejenak saja sambil Aku membayangkan sebuah kampung yang begitu indah dan penuh dengan kedamaian. Setelah istirahat ini aku baru melanjutkan perjalanan pulangku.

Perjalanan 5 jam yang sangat melelahkan, serentak aku lupakan ketika sesaat aku melihat hutan yang masih rindang, dan pohon hijau di sepanjang jalan ini, jiwaku kembali kuat setelah Ia hampir tak berdaya karena kelelahan. Agin sejuk, dingin menyapaku dengan lembutnya, membuat aku terpesona...

Senja pun tiba, sore yang begitu indah. Ketika kutatap fajar di ufuk barat, sejenak aku merenung dalam hati.

" kau pun juga tak setia seperti embun di pagi hari yang pergi tak sedikit punmeninggalkan bekas. Karena sebentar lagi kau pun akan pergi dan menghilang. Janganlah cepat pergi Aku ingin ditemani-mu, bahkan Aku ingin tidur dengan-mu malam ini".

Hari pun semakin larut, langit pun telah memancarkan keindahan malam dengan kerlap kerlip bintang dan rembulan, yang tampak berkilau di atas sana. 

"Aku cemburu pada malam yang menghadirkan dua sajoli yang menghiasina, seakan-akan Ia menjadi saksi janji sang binta untuk selalu setia untuk hadir menemani rembulan di kala malam tiba. Sedang Aku di sini beryeman sepi dalam kerisauan yang amat dalam".

Malam semakin larut, Aku pun tiba di depan sebuah gubuk bambu, yang kini disulap menjadi sebuah istana kecil. Ku lihat jauh, tampak Ayah dan Bunda berlari menyongsong-ku. Sejenak Ku ingat kisah gubuk tua ini yang telah  menerbitkan beribu kisah cerita dalam hidup-ku. Aku pun tersungku dihadapan Ayah dan Bunda yang ku cuntai.

"  Ayah, Bunda , Aku telah kembali, Aku rindu pada kalian".

Sekian

Ketang, 22-01- 2020
×
Berita Terbaru Update