-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SEBUAH EXEGESE PROFETIS JALANAN POLITIK ALA YESUS

Jumat, 24 Januari 2020 | 07:33 WIB Last Updated 2020-01-24T00:41:03Z
SEBUAH EXEGESE PROFETIS JALANAN POLITIK ALA YESUS
Romo Tarsy bersama para imam dan umat

Oleh: Romo Tarsy Asmat, MSF

Yesus tidak datang mengubah persoalan politik bangsa Israel. Yesus tidak membawa visi ekonomi. Tetapi Yesus datang mengubah semuanya yaitu mengubah hati manusia, mengubah cara berpikir dan cara bertindak. Inilah yang disebut restorasi radikal dan restorasi spiritual.

Karena pragmatisme politik, kelompok Farisi (sayap kanan dalam perjuangan politik Israel melawan imperium romawi) selalu berseberangan dengan Yesus. Kelompok Farisi dan pemuka agama selalu melihat penyebab persoalan ialah penetrasi dari luar, kekuasaan dan hegemoni politik. Sehingga mereka menginginkan seorang "Hero" atau mesias politik yang sevisi dengan mereka.

Tetapi dalam kenyataannya, perjuangan politik para teokrasi Yahudi melawan monarki absolut Romawi tidak lain adalah perjuangan mempertahankan "status quo" kekuasaan.

Agama dan tradisi menjadi idiologi politik bagi kaum Farisi, tetapi bagi Romawi, militeristik dan penguasaan ekonomi merupakan cara ampuh untuk memperluas kerajaan dan menguasai sebanyak-banyaknya sumber daya.

Baik Teokrasi dan Monarki absolut selalu menghasilkan kekuasaan yang diktator. Keduanya hanya berbeda formasi permainan. Yang menjadi korban tetaplah masyarakat tanpa kekuasaan.

Di tengah ketegangan seperti ini, Yesus datang membawa sebuah restorasi yang lebih radikal. Yesus menekankan perubahan spiritualitas dan hati manusia jauh berdampak pada suatu perubahan yang menyeluruh.

Kalau membaca seruan profetis para nabi Israel, mereka mengharapkan dan mendambakan perubahan spiritualitas dalam bangsa Yahudi dibandingkan meratap dan menangisi penderitaan akibat rezim yang lalim.

Seruan para nabi mengerucut pada kedatangan Tuhan sendiri yang memimpin umat-Nya. Ini adalah vision (ramalan) sekaligus credo yang terus menerus digaungkan oleh para Nabi.

Perwujudan vision dan credo para nabi ini tampak nyata dalam diri Yesus. Tetapi karena pragmatisme politik dan penderitaan yang membutakan segalanya, menjauhkan hati orang Yahudi menangkap kehadiran Allah yang dirindukan.

Allah ternyata tidak bekerja secara pragmatis mengubah penderitaan umat-Nya. Tidak terulang lagi seperti kisah penciptaan, segala sesuatu nyata oleh Sabda. Allah yang adalah Sabda memasuki misteri penyelamatan dengan cara "meragi". Ia hidup di tengah manusia, terlibat lalu perlahan-lahan menampakan Diri-Nya dalam karya dan pengajaran.

Yesus adalah Allah yang terlibat. Keterlibatan itu membawa manusia pada keadaan asali ciptaan yaitu kesempurnaan untuk-Nya. Misi keterlibatan ini justru berinti pada "pengorbanan-Nya. Ia yang mengorbankan Diri-Nya demi memulihkan ciptaan-Nya.

Inti dari karya Yesus ialah Pengorbanan-Nya. Visi pengorbanan ini, menjadi visi murid-Nya, visi pemimpin. "Servant Leader" atau pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang berani berkorban tanpa pamrih.

Tetapi dalam politik jaman now, pengorbanan adalah kebodohan. Pengorbanan selalu ditakar dalam prinsip pamrih. Saya berkorban demi apa dan mendapatkan apa?

Pemimpin-pemimpin masyarakat di daerah mayoritas Kristiani, jauh dari visi Kristus ini. Walaupun mereka dekat dengan ritus-ritus syukur dan sebagainya. Maka tidak heran, daerah-daerah Kristen di negeri ini, mandul melahirkan pemimpin bersemangat Kristiani.

Jangankan menjadi pemimpin yang "bermartir" (red : pengorbanan total) demi kepentingan publik, menjadi pemimpin melayani belum tercium aromanya. Kita boleh bangga menjadi pengikut Yesus, tetapi visi Kristus tidak kita hayati di tengah masyarakat.

Mari kita melihat dan merenungkan sekali lagi, Yesus tidak mengubah politik dan ekonomi, tetapi ia mengubah manusia, pemimpin dan masyarakatnya. Bukan politik dan ekonomi semestinya mengubah masyarakat tetapi kesadaran, hati nurani manusia yang mengubah masyarakat. Ubahlah hatimu, hati masyarakatnya ke dalam semangat cinta kasih, maka struktur sosial, politik, dan ekonomi pun akan berubah dengan sendirinya.

Apalah artinya kalau pemain politik adalah mereka yang rakus kuasa, harta dan kehormatan? Mereka hanya menegakan kepemilikan modal dan kekuasaan serta monumen harga diri mereka, tetapi mereka tidak akan mendidik masyarakatnya menjadi pemimpin atas diri mereka sendiri.

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mengubah rakyatnya menjadi pemimpin. Bukan umpan di mulut buaya, objek pembangunan.

(Tulisan ini hanyalah aroma kopi yang terlarut bersama malam, bukan sebuah exegese biblis yang serius)

Editor: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update