-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Apa yang Ditakuti dari Gereja Katolik?

Selasa, 11 Februari 2020 | 21:04 WIB Last Updated 2020-02-11T15:12:14Z
Apa yang Ditakuti dari Gereja Katolik?
Menag Fachrul Razi (Ilustrasi diambil dari jpnn.com)

Saya ikut posting, kata-kata bagus Menag ketika ia dipilih oleh Presiden Jokowi. "Saya mentri bukan untuk satu agama saja, tetapi 6 Agama di Indonesia". Pernyataan ini menjadi viral di hari-hari awal Pak Fachrul Razi menjadi Menag.

Ketiadaan Harapan

Banyak orang menaruh harapan pada Pak Fachrul ini, wajahnya yang sangar dan background-nya dari militer membuat orang bermimpi, "sang kaisar keadilan antara golongan itu datang". Jokowi dipuji! Pak Fachrul tersenyum. Ya ia Menag.

Tetapi semakin berjalannya waktu, Menag yang mantan Jendral itu semakin membelot dari kata-katanya. Ia semacam bukan Jendral yang tegas dan konsisten dengan ucapannya. Sayapun agak menyesal pernah berharap padanya. 

Jelas-jelas di jaman yang terbuka ini apapun kebijakan pejabat pasti disiarkan. Media massa baik cetak maupun online memberitakan dan menggemakan seperti Toa di atas bubungan Rumah Doa.

Keberpihakan Menag pada satu kelompok jelas sekali. Terutama dalam menangani kasus-kasus yang terkait dengan tatanan keadilan dan kebebasan mengdeklarasi dan menghayati iman. Contoh nyatanya ialah kasus pembangunan Gereja Katolik di Tanjungbalai, Karimun. Jelas-jelas semua prosedur memenuhi hukum, tetapi kok masih diribut dan didemo. Kemenag diam saja.

Apa yang Ditakuti dari Gereja Katolik?

Ketakutan apa terhadap pembangunan Gereja Katolik? Gereja Katolik tidak punya laskar, Katolik minoritas dan sebagian besar umatnya sederhana. Katolik juga tidak bekerja liar dan dengan cara yang serampangan, pun tidak menawarkan murah iman Kekristenan Katolik kepada orang-orang. "Iman itu mutiara dan emas, tidak mungkin emas dipasang dijugur babi." Kenapa takut?

"Beriman itu adalah kebebasan" pilihan hati manusia. Maka Gereja Katolik juga sadar, ada umatnya yang pindah dari Gereja Katolik, tetapi atas alasan kebebasan beriman orang yang bersangkutan, Gereja Katolik tidak mengintimidasi, persekusi, dsbnya. Melainkan para tenaga pastoral Gereja Katoliknyalah selalu berefleksi, apakah pelayanan Gereja sudah maksimal seperti Kristus yang melayani dan mencintai manusia?

Gereja Katolik tidak memaksa orang untuk bergabung dengannya. Tetapi Gereja Katolik merasa tidak bermartabat jika ia tidak melayani kemanusiaan, mendekati mereka yang tersingkir, tertindas, teraniaya siapapun dan apapun agamanya. Ini tidak bisa dihalangi oleh siapapun. Jika tidak melakukan itu, Gereja Katolik mungkar dengan dasar imannya.

Inti iman Katolik adalah Allah yang berbelaskasih dan Solider. Namun pewartaan dan karya cinta kasih tidaklah serampangan dan asal mencari folowers. Kini Gereja Katolik bukan agama yang bersemangat mencari massa meskipun berjiwa misioner. Tetapi berjiwa kesaksian Injili, cintakasih dan solidaritas.

Misi Katolik tidak identik dengan mencari umat. Misi dalam katolik adalah pastoral ala Yesus yang menjangkau sebanyak-banyak mereka yang tertindas dengan cara yang rasional, melibatkan disiplin ilmu lain. Ingat Yesus hanya memiliki 12 murid.

Di negara miskin Gereja wajib ambil bagian dalam pembangunan, pun juga di tempat-tempat yang keadilan dan kehadiran negara absend, dengan sumberdaya dan kemampuan yang secukupnya. Tetapi kalau kehadiran negara dan negaranya maju, Gereja Katolik perlahan mundur dari tugas demikian tetapi fokus pada spiritualitas kristiani.

Orang yang bergabung dengan Katolik yang jumlahnya 1,2 Miliar itu berdasarkan ketertarikan dan pilihan mereka pada iman akan Kristus yang menderita, wafat dan bangkit karena mencintai manusia.

Mewartakan cintakasih dengan cerdas dan sistematis di seluruh dunia, itulah cara kerja Katolik. Negara manapun di dunia ini dan organisasi apapun, tidak bisa menandingi cara kerja "cinta kasih" Gereja Katolik. Orang lain boleh meniru, meniru sekolahnya, meniru cara kerjanya, tetapi orang tidak bisa meniru dan mencuri spiritualitas dibalik karya Agama Katolik.

Oleh karena itu, ketakutan orang terhadap Gereja Katolik adalah Ketakutan pada belaskasih dan solidaritas. Sejak jaman dulu, lawan Gereja Katolik ialah mereka yang takut akan cintakasih dan solidaritas.

Walaupun harus diakui, Gereja Katolik tidaklah sempurna, terutama ketidaksempurnaan manusia pengikutnya, hirarki dan umatnya. Tetapi Gereja Katolik memiliki sembonyan "Eklesia semper reformanda" Gereja yang terbuka untuk pembaharuan oleh Roh Kudus. Dalam bahasa Paus Fransiskus misalnya, Gereja yang "berani terluka dan kotor" karena memihak kebenaran.

Jika Berani

Kembali kepada ketakutan dan sikap kemenag yang kurang sensitif dengan keadilan dan kebaikan bersama, sebenarnya jika menjadi menteri agama itu bebas dari agama manapun di negeri ini, maka silahkan yang menjadi Bimas Katolik itu dari Islam, Hindu, Budha dan lain-lain.

Kalau kemenag konsisten dengan pernyataannya, silakan dibuat Bimas Islam dari Katolik, Bimas Katolik dari Islam, Bimas Hindu dari Kristen, Bimas, Kristen dari Hindu, dsbnya. Nah itu lebih enak dan mantap dan kehidupan beragama di negeri ini tidak seperti ketakutan pada hantu atau binatang buas.

Di negera lain, adanya kementerian agama itu adalah potret diskriminasi. Sebab bagi mereka itu hanya kepentingan golongan tertentu dan kebebasan dipasung disana, serta agama dipolitisasi.

Kementerian agama tidak sejalan dengan rasionalitas demokrasi. Tetapi di Negeri kita, berdasarkan pada sila pertama, Pancasila dan berdasarkan ukuran sumbangsih masa lalu dalam sejarah, maka kementerian agama sebagai imbalan dan tertanam dalam kabinet negera demokrasi ini.

Jika prikemanusian Indonesia betul-betul merdeka dari ketakutan, sikap primordialisme, sukuisme, fandalisme dan infantilisme tetapi mengedepankan rasionalitas, nilai-nilai universal keagamaan dan budaya dalam kehidupan publik, maka kehadiran kementerian agama sangat bagus karena kebijakan-kebijakan dan dana pastii tidak diskriminatif dan bermanfaat bagi kemajuan manusia.

Celakanya, mental kerdil dan takut itu masih dihidupi oleh agama-agama, suku-suku, dan sebagainya sehingga dengan adanya kementerian yang mengurus agama semakin memperkuat diskriminasi antara golongan.

"Agama menjadi pendonor konflik dunia" kritik seorang sosiolog, mesti disadari oleh setiap pejabat agama dan oleh kemenag. Bangsa kita perlu keberanian dan jujur akan iman dan kebaikan, serta sumbangsih moral keagamaan, jika tidak kritik itu tamparan bagi agama-agama.

Mari kita jadi orang yang tidak takut, bersahabat dalam keanekaragaman yang patut kita jaga dan syukuri. Kemenag jangan membakar surau ini dengan bara-bara diskriminasi dan inkonsistensi. Mari tebarkan dan lakukan kebaikan, keadilan untuk Indonesia tercinta.

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update