-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Air Bersih, Alam Bersih & Pangan Bersih Semiloka Burung Indonesia

Senin, 03 Februari 2020 | 05:18 WIB Last Updated 2020-02-03T07:56:34Z
Aris Bersih, Alam Bersih & Pangan Bersih  Semiloka Burung Indonesia
Semiloka Burung Indonesia di Labuan Bajo

LABUAN BAJO-Manusia di manapun hanya dapat hidup kalau 3 hal ini terpenuhi secara teratur dan berkelanjutan dari masa ke masa yakni Air bersih, alam bersih dan pangan bersih. 

Dalam hal memenuhi kebutuhan saat ini sembari mempertimbangkan generasi yang akan datang, (pembangunan berkelanjutan) 3 pilar utama berikut ini memiliki keterkaitan satu terhadap yang lain. Pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. 

Dari 3 pilar utama tersebut, aspek lingkungan tidak boleh diabaikan jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial.

"Inilah alasan utama mengapa pembangunan berbasis ekologi dianggap penting yang diwujud-nyatakan melalui berbagai macam kegiatan konservasi. Karena itu konservasi harus menjadi bagian integral dari kegiatan pembangunan yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan konservasi.

Dewasa ini kegiatan konservasi sudah menjadi perhatian banyak orang terutama agen pembangunan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran tentang ketergantungan manusia pada layanan-layanan yang disediakan oleh alam, dimana semua itu merupakan buah dari kegiatan konservasi. 

Layanan alam dinikmati oleh semua orang, oleh semua profesi, oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu kepedulian terhadap ketersediaan, kualitas, dan keberlanjutan layanan alam harus menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah, swasta, kalangan dunia usaha, masyarakat, baik di perkotaan maupun masyarakat di pedesaan.

Di Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara timur, bentang alam Mbeliling merupakan salah satu lokasi penting untuk kegiatan konservasi. Kawasan ini selain penting untuk konservasi keragaman hayati tetapi juga penting sebagai penyedia berbagai layanan-layanan alam. 

Karena panorama yang indah dan kekayaan keragaman hayatinya bentang alam Mbeliling menjadi salah satu tempat berkunjungnya para wisatawan.

Bukan itu saja. Bentang alam Mbeliling menjadi daerah tangkapan air karena vegetasi dan kerapatan tutupan lahannya. 

Alam Mbeliling menyuplai air untuk kebutuhan warga kota Labuan Bajo maupun untuk pertanian dan rumah tangga. Bentangan alam Mbeliling adalah masa depan kita, sekaligus kunci suksesnya pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.

Jika demikian, bagaimana memastikan bahwa kegiatan konservasi bisa berlangsung di Mbeliling? Apa tantangan? Bagaimana mengatasi tantangan itu agar konservasi alam Mbeliling bisa memastikan ketersediaan dan keberlanjutan nilai-nilai pentingnya? 
Bagaimana memastikan mekanisme pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di Mbeliling? Bagaimana peran masing-masing pihak yang menerima layanan alam yang disediakan oleh bentang alam Mbeliling?

Guna menjawab semua pertanyaan itulah Burung Indonesia menyelenggarakan seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertajuk, “Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi; Langkah Menuju Pembiayaan Konservasi Berkelanjutan". 

Semiloka diselenggarakan di Meeting Room Hotel Jayakarta-Labuan Bajo, Jumat 31 Januari 2020. Peserta Semiloka terdiri dari unsur Pemerintahan Daerah, Dinas Instansi terkait, perwakilan private sector, unsur pemerintah desa, Pers dan Burung Indonesia. 

Narasumber dalam Semiloka ini yakni:
1). JokoTri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional Kementerian Keuangan RI
menyajikan materi tentang Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi, Telaahan Konsep dan Regulasinya.

2). David E. Rego, S.IP dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) mewakili Kepala Dinas DPMD Kabupaten Manggarai Barat, Mateus Ngabut, SH. mempresentasikan materi bertopik "Kebijakan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa Untuk Program Konservasi Skala Desa". 

3). Drs. Fransiskus Sales Sodo dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (DP4D) Kabupaten Manggarai Barat membedah topik Peluang Implementasi Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi di Kabupaten Manggarai Barat.

4). Tiburtius Hani dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia. Tibur Hani mempresentasikan materi tentang "Konsep Rencana Tata Guna Lahan Sebagai Dasar Perencanaan Desa Mewujudkan Desa Lestari".

Di awal Semiloka, Adi Widiyanto mewakili Direktur Eksekutif Burung Indonesia menjelaskan secara umum tentang Burung Indonesia dan Bentang Alam Mbeliling, peran Burung Indonesia dalam pendekatan Bentang Alam Mbeliling. 

Aksi Konservasi Butuh Kolaborasi

Menurut Widiyanto, bentang alam Mbeliling memerlukan aksi konservasi yang dilakukan oleh para pihak secara kolaboratif. 

"Pengembangan kota Labuan sebagai destinasi wisata suoer premium yang telah ditetapkan dalam kebijakan nasional mendorong berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah", kata Widiyanto seraya menambahkan, akan muncul banyak intervensi daripada pihak terhadap lingkungan sebagai konsekuensi logis darii produk kebijakan “destinasi wisata super premium. 

"Jika tidak diintegrasikan dalam konsep atau prinsip pembangunan berkelanjutan, maka akan membawa dampak buruk untuk lingungan di Manggarai Barat, khususnya Bentang alam Mbeliling" timpal Widiyanto.

Karena itu, Burung Indonesia mengajak para stakeholder lokal di Manggarai Barat untuk mulai berkolaborasi dalam menyusun rancangan pembangunan ke depannya. Wifiyanto juga mendorong para pihak agar konsep perencanan penganggaran berbasis ekologi menjadi konsep bersama lintas sektoral.

Closing statement di ujung Semiloka Widiyanto mengatakan, pelestarian alam bukan membebani anggaran publik. Sebab, alam itu sendiri memberi kita hidup.

"Mulailah dari mengerjakan hal-hal kecil. Pelan tapi pasti mimpi kita mewujudkan alam yang lestari akan terwujud", kata Widiyanto seraya menambahkan, Semiloka ini merupakan forum curah gagasan (brainstorming). 

Setelah itu Burung Indonesia melakukan berbagai pelatihan (TOT) menindaklanjuti poit-point penting yang dihasilkan dalam forum Semiloka hari ini.

Mbeliling dan pendekatan BAM

Hal senada ditegaskan Tiburtius Hani, Flores Programmer Manager Burung Indonesia. Dia jelaskan, konsep pendekatan pembangunan berbasis ekologi melalui konservasi Bentang alam Mbeliling, bukan terutama menyangkut luasnya lahan melainkan terutama tentang keragaman bentangan alam. Bukan pula menyangkut dimensi setitik melainkan terutama dimensi fungsional.

"Dari keragaman bentangan alam menghasilkan keragaman fungsi yang selalu berhubungan dan saling memengaruhi. Keragaman fungsi menghasilkan keragaman kepentingan. Karena itu dibutuhkan bentuk atau skema kerja sama yang efektif dalam mengelola bentang alam, sehingga semua kepentingan diakomodir", terang Tibur Hani.

Tujuan akhir dari pendekatan yang mengutamakan keragaman hayati dan aspek fungsional serta skema kerjasama efektif lintas sektor di Bentang alam Mbeliling adalah mewujudkan keharmonisan dan terintegrasi antara kepentingan ekologi (alam bersih) ekonomi (Pangan bersih) dan sosial (air bersih) baik untuk saat ini maupun untuk generasi yang akan datang.

Membuat Rancangan Anggaran Untuk Konservasi Alam

Di podium yang sama, Asisten II Setda Mabar, Marten Ban yang hadir mewakili Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch.Dula membuka Semiloka itu. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi kepada Burung Indonesia atas inisiasi memfasilitasi pertemuan para stakeholder dalam forum tersebut.

Marten menyampaikan gambaran umum terkait kewenangan pemerintahan daerah dan pemerintah desa dalam isu-isu ekologis. Dia katakan, apa pun program pemerintah baik pusat, daerah, maupun desa harus diselaraskan dalam kewenangan-kewenangan yang diberikan oleh undang-undang dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ia pun memberikan dorongan kepada pimpinan OPD lingkup pemkab Mabar untuk memprioritaskan konsep pembangunan berkelanjutan berbasis ekologi. Adalah program konservasi terhadap lingkungan hidup. 

"Kebijakan pemerintah pusat tentang status Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super premium akan diselaraskan dengan pembangunan infrastruktur yang super premium juga. Sehingga, kita yang ada di Manggarai Barat harus menerima itu dan siap untuk mengimplementasikan konsep itu", timpalnya.

Dijelaskan, dalam kebijakan tersebut, isu krusial yang diangkat juga adalah isu lingkungan hidup. Perintah pemerintah pusat untuk membenahi lingkungan hidup di Manggarai Barat sudah dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo. 

Untuk itu, semua pihak tidak hanya instansi pemerintahan, instansi swasta lainnya pun atau private sector harus merencanakan programnya dengan prioritas konservasi yang berkelanjutan. 

"Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa harus mengurangi pemenuhan kebutuhan untuk generasi yang akan datang. Karena itu, Pemda Mabar mengajak para instansi pemerintahan untuk berani membuat rancangan pembangunan yang berkelanjutan", pinta Marten Ban.

PAD Naik Tapi Minim Untuk Konservasi Alam

Hadir pula Wakil Ketua DPRD Mabar, Marselinus Jeramun dalam forum Semiloka Burung Indonesia. Dalam sambutan singkat, Marsel menjelaskan, konsep pembangunan yang sedang dijalankan sekarang ini masih dalam tataran pemerataan. 

Namun ia mengakui bahwa di Kabupaten Manggarai Barat, saat ini, perencanaan pembangunan berbasis ekologi masih sangat terbatas.

"Memang ada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari potensi lingkungan dan pariwisata tetapi porsi anggaran untuk konservasi alam sangat terbatas", kata Marsel Jeramun.

Pembangunan berkelanjutan berbasis ekologi melalui konservasi, kata Marsel, masih membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. 

Forum-forum untuk mengkomunikasikan berbagai kepentingan para pihak harus terus digiatkan untuk mendapatkan nilai atau value yang memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah ini.

"Kontribusi berbagai pihak diharapkan bersifat solutif, inovatif, kreatif", tandasnya.

Pada kesempatan itu, Marsel juga mengajak para pihak dan pemkab Mabar untuk mulai berpikir dan bertindak nyata membuat perencanaan pembangunan berkelanjutan berbasis ekologis.

"Isu ekologis bukan hanya isu sektoral yang harus ditangani oleh pihak tertentu saja tetapi menjadi isu bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak", pungkas Marsel Jeramun. (Robert Perkasa) 
×
Berita Terbaru Update