-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bangga Sebagai Katolik Ditunjukan Dalam Ketaatan

Selasa, 04 Februari 2020 | 17:35 WIB Last Updated 2020-02-04T10:35:21Z
Bangga Sebagai Katolik Ditunjukan Dalam Ketaatan
Pengurus PP GP Ansor bertemu Paus Fransiskus di Vatikan - (Twitter/@KatolikG)

Soreh hari ini saya ditanya oleh seorang anak muda; “ apa yang menjadi tanda padre bangga sebagai umat Katolik”? Saya menjawab; “bangga sebagai umat Katolik juga secara khusus sebagai seorang imam Roman Catholic, tandanya jelas yaitu “ketaatan” pada pedoman, aturan dan Magisterium Gereja”.

Apalah artinya saya bangga sebagai umat Katolik tapi masih mengedepankan “selera” pribadi. Misa yang sudah diatur dengan sedemikian bagus dan agung serta sakral, masih mau dirubah mengikuti selera dan situasi yang katanya ikut perkembangan zaman, dan inkulturasi.

Gereja tidak anti terhadap perkembangan zaman. Gereja tidak anti terhadap budaya lokal. Gereja justru mensyukuri perkembangan zaman dan budaya lokal karena menjadi jalan pewartaan iman. 

Namun bukan berarti “tunduk” pada selera pribadi yang mengatasnamakan perkembangan zaman dan inkulturasi. Gereja justru menghargai perkembangan zaman dan budaya dengan caranya sendiri yang tidak menyimpang dari nilai-nilai Injili yaitu menerangi dan bahkan mengangkatnya, misalnya dalam bentuk kotbah yang dijadikan sebagai perumpaan.

Banyak protes yang muncul misalnya menjadi Katolik terlalu sulit atau misa serta kotbahnya tidak seperti gereja sebelah dan atas nama penghargaan terhadap budaya maka apapun dimasukan dan dijalankan dalam misa kudus pertama-tama protes itu muncul karena yang kita kedepankan adalah “selera” ataupun kemauan dan kehendak pribadi. 

Gereja juga menyadari bahwa kadang ada oknum yang memang membuat kebijakan yang justru memperberat dan mempersulit imam, misalnya dengan pungutan administrasi sana-sini. Tapi bukan berarti itu menjadi kesimpulan akhir Gereja mempersulit. Tidak!

Demikian juga dengan alasan inkulturasi lantas semua hal yang tidak selaras dengan iman dan ajaran Katolik dijalankan dalam misa kudus, bagi saya itu bukan penghargaan terhadap budaya namun pelecehan terhadap budaya itu sendiri yang berawal dari “selera, kemauan dan kehendak” segelintir orang. 

Bahkan selera pribadi semakin diperkuat ketika mulai membandingkan dengan gaya ibadah dan kotbah gereja sebelah.

Sebagai umat Katolik kita memiliki janji ketaatan yang selalu kita perbaharui tiap malam Paskah yaitu janji baptis di mana kita menolak segala bentuk kerja “setan”. 

Pembaharuan janji baptis bukan sekedar ritus yang wajib dilaksanakan tetapi adalah jalan untuk memperbaharui ketaatan yang justru seringkali lebih taat pada selera pribadi daripada taat pada ajaran Yesus yang tertuang dalam Magisterium Gereja. 

Ketaatan pada Magisterium Gereja adalah ungkapan nyata akan ketaatan pada ajaran iman dan moral Yesus sendiri.

Bagaimana setan mampu kita tolak dan lawan kalau kita sendiri masih “mengijinkan” setan untuk merasuki selera kita yang berujung pada ketidaktaan Magisterium Gereja?

Sebagai imam kita memiliki kaul dan janji ketaatan pada Tuhan dan Gereja. Artinya ketaatan tidak hanya sebatas pada perutusan. Karena ketaatan pada Magisterium Gereja sebagai bentuk ketaatan pada Kristus itu juga bagian dari perutusan kita. 

Ketaatan pada pimpinan tarekat atau uskup bukan soal menyanggupi perutusan melainkan kesanggupan untuk menghidupi Magisterium Gereja sebagai bagian dari perutusan dan ketaatan mengikuti Kristus.

Pada akhir misa, kita para imam selalu mengatakan “Marilah Pergi, Kita Diutus”. Diutus untuk apa? Ya, diutus untuk taat mengikuti Kristus dengan seluruh ajaran-Nya yang kita wartakan. 

Menjadi seorang pewarta membutuhkan pengorbanan untuk setia dan pengorbanan hanya bisa bermakna pewartaan ketika ketaatan pada Kristus yang diungkapkan dalam bentuk ketaatan pada Magisterium Gereja menjadi penopangnya.

Maka Bangga Sebagai Umat dan Imam Katolik pertama-tama ditunjukan dalam bentuk ketaatan. Karena sejak awal kita dipanggil menjadi Katolik Yesus sudah mengutus kita dan menghendaki ketaatan dari kita semua; “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24).

Apa yang bisa kita banggakan, kalau Yesus yang kita banggakan, tidak kita ikuti dengan penuh ketaatan dan Sabda-Nya tidak kita hidupi dalam setiap hidup kita sebagai umat Katolik tetapi justru mengikuti “selera, kemauan dan kehendak” pribadi.

Manila: Pebrero-03-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update