-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dapatkah Kau Rasa, Kembali Mendekap Mimpi, Menembus Batas Langit

Selasa, 25 Februari 2020 | 12:45 WIB Last Updated 2020-02-25T05:45:19Z
Dapatkah Kau Rasa, Kembali Mendekap Mimpi, Menembus Batas Langit
Ilustrasi istimewah

Adanya Aku

Aku adalah bagian dari perjalanan sang waktu, 
begitu singkat dan akan tergantikan selayaknya bunga gugur dan 
akan tumbuh bunga baru tapi itu 
bukanlah aku...

Saat jarum jam menunjuk ke atas di sanalah harapanku semoga 
kau ampuni segala dosa,
seperti meluruhnya debu pada tubuh ketika terguyur ampunan-Mu

Begitupun saat menunjuk ke bawah seakan detak jantung berhenti karena 
mengingat mati, 
dalam usia tak pasti, hanya meninggalkan generasi.
bumi pun menanti...

Kemanakah arah kanan dan kiri, 
tak lain menata hati.
begitu banyak kehidupan selain diriku,
aku adalah bagian dari kisah perjalanan mereka....
karena aku tak sendirian.
simbiosis kehidupan.

Ketika aku berdiri sendiri, 
serasa diri ini tanpa arti, 
serupa debu beterbangan
menembus kegelapan malam.
akankah menemukan cahaya atau tersesat dalam gelap.
sementara mentari masih menyapa bumi.

Semoga cahaya-Mu bersinar terang dalam semesta, 
hingga perjalanan menemui titik akhir...

Dapatkah Kau Rasa

Meskipun harus aku diami lembah sunyi
hingga terdampar di pelataran sepi
tanpa ada kata-kata sapa menghampiri

Atau harus melewati jalan
terlipat di balik cahaya
tak mampu lenyapkan bahagia

Selama masih tersimpan rindu untukku
karena tak mampu kulewati
celah menghimpit dari rasa sunyi
tanpa adamu di sisi

Akankah engkau mengerti
denyut telah mendiami hati
sejauh perjalanan mentari

Hingga menemui purnama
menyinari kegelapan semesta
penumbuh puisi paling sendu

Dan hadirmu mampu
mencairkan kebekuan kutub utara
di sebelah dada paling pinta

Rasakanlah getaran terdalam
dari dasar bumi hatiku
ketika gemuruh magma rindu

Tak mampu menyimpan bara
hingga ribuan mil jaraknya
semoga dapat kau baca
di seismograf rasa

Kembali Mendekap Mimpi

Ketika malam mengurai sepi
embus angin berdalih begitu dingin
merentangkan gelap terang
sejauh putaran sunyi
merubah arah bias mentari di belahan semesta
di saat aku mencoba mengurai tanya
yang mendekam di relung dada

Ketika hadirmu hanya sebatas illusi
yang kerap kudekap dalam imaji
meluruhkan kebekuan luka di dinding hati
jatuh sebagai embun di waktu pagi
sirnakan lara lesap ke dasar bumi

Sepertinya malam tak lagi mewartakan indah purnama
atau kerlip bintang penghias kegelapan
jelaganya langit telah karamkan cahaya
tergantikan hujan membawa nada gerimis begitu ritmis
hingga menyudutkan lelap ke dalam mimpi

Biarlah nuansa malam begitu hening
di sini kembali kudekap mimpi
tentang hadirmu membawaku pergi
meninggalkan air mata
memulas senyum di bibir asa

Meskipun entah telah mengaburkan cerita
tetap kudekap begitu nyata
dan tubuh telah luruh
Mendekapmu rapuh

Menembus Batas Langit

Entah apakah itu awan
batas langit yang aku pandang
sekedar membuang jauh angan
atas segala beban yang singgah di kehidupan

Tak dapat kuuraikan
senandung lirih dalam hati
bukan luka namun begitu nyeri
bila bahagia mengapa serupa mimpi

Langit begitu cepat berubah
entah oleh embusan bayu
ataukah
salah mataku memperhatikanmu

Sejenak membiru
lalu abu-abu
terkadang berarak awan putih
lalu tersisih
tergantikan mendung seakan berkabung

Tak dapat aku baca rasamu
hanya guratan cuaca
yang membedakanmu ada dan tiada
ah kamu ,,,
semakin rancu

Oleh: Wiena Aldissy
×
Berita Terbaru Update