-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

JADILAH SEPERTI BATU KARANG DI TENGAH HIDUP YANG TAK MUDAH

Minggu, 02 Februari 2020 | 14:51 WIB Last Updated 2020-02-02T13:53:45Z
JADILAH SEPERTI BATU KARANG DI TENGAH HIDUP YANG TAK MUDAH
Batu yang dihempas ombak (Ilustrasi ini diambil dari google)

1/. Hidup yang sekarang ini tidaklah mudah untuk dijalani, karena itu jadilah seperti batu karang yang tetap keras  dan jadilah sang pemenang yang tak pernah terkalahkan. Tidak perlu resah dan gelisah, karena hidup akan indah pada waktunya.

Tersenyumlah! Karena hidup akan selalu damai, jika senyum yang kita ekspresikan bisa membawa keteduhan dalam menjalani kehidupan yang sudah Tuhan berikan. Hidup itu perjalanan sebuah waktu dalam ruang.

Aku pun merenungkan dinamika kehidupan ini. "yah..., begitulah semestinya kita memaknai perjalanan hidup kita", kataku lagi.

"Memang  kalau diartikan melalui sebuah konsep, perjalanan waktu itu proses berjalan maju atau mundur ke titik yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula, mirip seperti kita berjalan dalam ruang. Manusia yang nyata selalu berjalan dalam waktu, dalam cara segaris, dari waktu sekarang  ke masa depan".

"Albert Einstein pernah menjabarkan sebuah perjalanan melintasi waktu dalam teori relativitas. Hematnya, waktu adalah suatu yang relative, tergantung seberapa cepat objek bergerak". Tak lupa pula Aku memaknai arti dari pernyataan seorang fisikawan itu. Inilah sketsa sebuah nama.

2/. Jauh di sana, tanah Manggarai, Ruteng kota monas, ketang-Lelak lebih tepatnya, seorang lelaki muda yang tampan lahir dan mencari arti dari teka-teki hidupnya, menggandeng sekertas rupiah demi mencari tuan atas benih yang tumbuh di dalam dirinya.

Lelak tanah Congakasae pape de Mori Ame, sebuah nama kampung yang sangat kental budayanya, tempat Tuhan menabur benih-benih sabdanya, ratusan tahun yang lalu sebuah menara Gereja tempat sabda Tuhan menyatu dan masuk dalam masyarakat Lelak, berdiri angkuh dalam  sebuah perjalanan waktu, Paroki Rejeng namanya.

Di kampung ini seorang lelaki dengan tubuh mungilnya mencari remah-remah kehidupan.

 Aku adalah seorang pemudah yang terlempar jauh dan sudah ada pengadilan didalamnya. Aku akan menemukan pintuku sendiri untuk berjalan keluar dari kehidupan yang penuh derita ini. Aku pergi untuk ditinggal pergi, dan datang untuk mendulang rugi, katanya waktu itu.

Akupun tak cukup sabar untuk selalu sadar, dan tak cukup sadar untuk selalu sabar, Aku sudah kehilangan jati diriku, mati bersama dengan carut-marut dan hancur kaburnya sebuah zaman edan.

Dan ketika kau sapa aku dalam tanyamu, siapakah diriku? Aku diam seolah tiada rupa, hilang harga. "Kau tahu itu?" Aku adalah dia yang sudah hancur jiwa raganya...

Jiwaku telah terpenjarakan pad dinding-dinding kota, tergadai di meja pasar, tergilas roda jalanan, terhanyut oleh sungai sampah, dan tercemar polusi pabrik. Dan kau mestinya tau itu"!

Ragaku terbujur kaku membatu, terbakar oleh nafsu-nafsu angkara, tercabik dendam merendam, terlantar dipelantaraan, tergerus erosi dan abrasi, tersesat di angan-angan, tak tau asal dan tujuan.

Aku bersimpuh dan meminta kepada-Nya. "Yang Kuasa, buangkanlah segala kesedihanku ini  akan kehilangan jalanku, dan tunjukanlah pula bagaimana pula tujuanku".

Dan dengarlah Tuhan ku  ada saatnya nanti di mana dunia akan menceritakan padamu, bagaimana manusia akan menghukum dirinya. Karena peradapan manusia itu hanyalah pembuatan petak-petak batas yang akan memenjarakan dirinya sendiri.

3/. Ada setitik rasa yang tersimpan dalam ingatan,  menciptakan subuah  keadaan yang amat pilu dan sedih, memyoraki hati untuk menjauh lalu pergi meningalkanya.

Benar tidurlah yang berada dibalik semuanya ini, biarlah takdir itu menghampiri, walau tak dapat ku pungkiri, luka hati bertambah perih. Aku tau, ini semua jalanku Tuhan.

Walau tak dapat ku pungkiri, satu persatu masalah datang. Semangat pun mulai memudar dan menghilang.

Saya ingin bangkit, saya ingin menunjukan bahwa saya bisa menjadi yang terdepan, teratas dan terpilih. Tapi bumi seakan menarik tubuhku, membawa aku tertunduk, terdiam, jali oleh rasa yang tak karuan maknanya.

"Sekarang saya harus ke mana?"  Tanyaku dalam hati. Bingung sendiri, kecewa, marah dan benci menjadi satu. Tergumpal dalam satu wadah yang tak seharusnya sekacau ini.

"Saya ingin pergi, tapi kemana?" "Saya ingin kembali, tapi kepada siapa?" Langkah saya terjerat. Tujuan saya tak tau kemana arahnya?

Dada saya bergemuruh, ingin berteriak namun tertahan, sesak, mata yang dulu bulat indah, kini menyipit karena tangis yang tak berkesudahan. Sayu....

4/. Hari-hari terasa begitu kelam, terus dilalui. Aku duduk termenung, tanpa kusadari senja telah datang, ketika aku merenungkan kehidupanku yang serasa pahit.

Rintik air hujan membasahi dedaunan yang rindu akan kesegaran, menyapa tanah yang berdahaga, menemani hariku yang hampa tanpa jiwa, hanya ditemani hati berbalut duka dan derita.

Ringan kaki seolah tertahan di tanah, tak mau bangkit. "aku menyerah" hanya tertegun di antara keterangan senja, sambil mendengarkan lagu "bom neka mane tanah ge" (maunya waktu jangan lekas pergi atau maunya waktu jangan cepat berlalu).

Oleh: Agustinus M. Samuel
×
Berita Terbaru Update