-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kalau Plt-nya Non Katolik, Ya Harus Bersyukur Dong

Jumat, 14 Februari 2020 | 22:45 WIB Last Updated 2020-02-14T15:45:00Z
Kalau Plt-nya Non Katolik, Ya Harus Bersyukur Dong
Foto Pater Tuan Kopong

Ketika pak Menag yang selalu saya kritik mengganti Dirjen Bimas Katolik yang sudah pensiun dengan plt yang non Katolik, banyak in box yang masuk menanyakan pendapat saya. Saya tidak mau terburu-buru menanggapi.

Walau saya tahu bahwa dunia media maya menjadi gaduh dan pujian dilayangkan kepada kekuatan netizen dan medsos yang berujung pada permohonan maaf pak menteri dan langsung mengganti plt yang beragama Katolik.

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya yaitu: aturan negara RI dan SDM Katolik. Dari sisi aturan pak menang “tidak” salah karena selama belum ada orang Katolik dilingkungan Dirjen Bimas Katolik yang eselonnya sesuai aturan dapat diangkat menjadi plt maka keadaan terpaksa diangkat yang non Katolik. Artinya pengangkatan plt Dirjen Bimas Katolik yang non Katolik tentu karena tuntutan aturan dan bukan kehendak umat Katolik.

Saya lebih tertarik untuk melihat dari sisi kita sebagai umat Katolik Indonesia. Bahwa peristiwa ini seharusnya menjadi sebuah syukur bagi kita bahwa kita dihadapkan pada sebuah situasi yang selama ini mungkin tidak disadari yaitu “cuek” bahkan mungkin tidak ada kerjasama yang baik antar organisasi-organisasi Katolik, orang per orang dengan institusi Gereja dalam hal ini KWI bahkan pembinaan dan kaderisasi serta perhatian dan tanggungjawab terhadap sekolah-sekolah Teologi dan Kateketik sangat minim bahkan tidak ada.

Organisasi-organisasi Gereja Katolik tidak hanya menjadi organisasi yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran tetapi juga sejatinya menjadi ruang kaderisasi bagi para politisi dan sarjana Katolik untuk peningkatan skill dan kemampuan manajerial dan leadership di bidang-bidang birokrasi yang memang menjadi tanggung jawab orang Katolik.

Kerasulan awam tidak hanya memberikan perhatian rohani dan spiritual kepada kaum awam yang terlibat dalam dunia politik, birokrasi dan profesional melainkan juga membangun jaringan dengan para politisi Katolik di DPR dan kader-kader partai untuk membangun sistem kaderisasi yang mumpuni sehingga kita memiliki SDM yang pada saatnya mengisi kekosongan seperti yang terjadi di lingkungan Dirjen Bimas Katolik.

Kita memiliki bebeapa Fakultas Teologi dan Sekolah Tinggi Kateketik. Harus disadari bahwa pendidikan bagi kaum awam di kedua disiplin ilmu ini tidak hanya sekedar meluluskan mereka seorang guru agama atau katekis tetapi juga perlu memberikan pelatihan, pendampingan dan kaderisasi kepemimpinan dan managerial leadership sehingga mereka juga mampu bersaing mengambil posisi dan peran-peran strategis di birokrasi.

Kita tidak usah gaduh dan bahkan mungkin maaf “menghujat” pak menag tapi mari kita bertanya pada diri kita sendiri sebagai umat Katolik; “sejauh mana koordinasi dan komunikasi antara organisasi-organisasi Katolik, Dirjen Bimas Katolik, KWI, politisi dan kader partai yang beragama Katolik dalam mempersiapkan SMD untuk mengisi posisi-posisi strategis”? 

Dan juga sejauh mana komunikasi antara pihak-pihak berwenang dalam Gereja Katolik dengan pemerintah?

Maka kalau Plt-nya non Katolik, jangan salahkan siapa-siapa tetapi terima dan syukuri itu sebagai jalan Tuhan bagi kita umat Katolik untuk mengintensifkan koordinasi, komunikasi antar lembaga Katolik dengan pemerintah sekaligus jalan untuk mengintensifkan pendampingan dan kaderisasi bagi persiapan SDM kaum awam Katolik untuk mengisi posisi-posisi strategis di birokrasi.

Ya, syukuri aja apa adanya...gitu aja kok repot...

Manila, 14 Februari 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update