-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kasihilah Musuhmu dan Berdoalah bagi Mereka yang Menganiaya Kamu

Minggu, 23 Februari 2020 | 07:40 WIB Last Updated 2020-02-23T00:45:23Z
Kasihilah Musuhmu dan Berdoalah bagi Mereka yang Menganiaya Kamu
John Paul II and Mehmet ali Ağca (Gambar; google)

"Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga... " (Matius 5:44-45)

Hukum Hammurabi, sebuah hukum klasik, mengedepankan pembalasan yang setara atas pelanggaran yang seseorang lakukan: "Mata ganti mata, gigi ganti gigi" (Bdk., Mat. 5;38, Kel 21:24). 

Bahwasanya, pembalasan atas kesalahan yang seseorang lakukan haruslah dalam ukuran yang sama. Tidak kurang. Tidak lebih. Misalkan, seseorang menganiaya kamu sampai salah satu gigimu roboh, kamu berhak untuk membalas dendam dengan merobohkan salah satu giginya. Tidak lebih, tidak kurang.

Namun, Yesus mengkritisinya dengan menggarisbawahi hukum kasih: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Amat sangat sulit, bukan? Toh! Kalau kita merenungkan secara lebih dalam, melalui perkataan-Nya itu Yesus mengajarkan tidak hanya untuk melepaskan rasa dendam, tetapi juga untuk berani menderita. 

Yesus menuntut kesediaan dari dalam hati kita untuk menerima penghinaan tetapi tidak untuk menyakiti sesama. Bahwa satu-satunya cara paling efektif untuk menghentikan lingkaran setan dari segala kekerasan dan ketidakadilan adalah semangat pengampunan. 

Menanggapi kekerasan dengan kekerasan sejatinya tidak menghilangkan ketidakadilan, tetapi malah menyebabkan ketidakadilan yang lebih besar. Karenanya, hanya pengampunanlah yang mampu memutus rantai kebencian. Amat sangat sulit, bukan? 

Memang, apa yang dikatakan Yesus merupakan tantangan terberat bagi kita semua. Mengapa kita harus mencintai bahkan musuh kita dan bukannya membenci mereka? Pertama, apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi mungkin mampu membuka pikiran kita: "Satu mata untuk satu mata hanya akan berakhir membuat seluruh dunia buta." 

Seperti halnya pengajaran Yesus tentang mengasihi para musuh, gagasan Gandhi juga semata-mata menggarisbawahi bahwa kasih sayang merupakan satu-satunya kekuatan terbesar yang membawa kelestarian peradaban insani.

Kedua, Gilbert Keith Chesterton, penulis asal Inggris, pernah menulis demikian: “Kitab Suci memberi tahu kita untuk mencintai sesama dan juga mencitai para musuh kita; kemungkinan karena umumnya mereka adalah orang yang sama."

Oleh: Pater Agus Kani, CS 
×
Berita Terbaru Update