-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kebangkitan Sastra Dalam Kesederhanaan

Kamis, 06 Februari 2020 | 19:45 WIB Last Updated 2020-02-06T12:46:37Z
Kebangkitan Sastra Dalam Kesederhanaan
Ilustrasi diambil dari google

Ada rasa nikmat setelah menuangkan "kata", ada kepuasan setelah lepas dari lingkup fatamorgana pada perjalanan objek ide demi menyusun kata menjelma menjadi sebuah karya pusai (puisi bonsai). 

Inilah perasaan setiap pencari kehalusan budi pekerti lewat karya sastra, hususnya puisi, mengajak berjalan dari jalan yang lebar penuh liku dan macet, ke lorong alternatif lebih sederhana bebas hambatan.

Hal ini hanya karena "hidup" ingin sederhana, dan terus menerus berubah, mengubah keadaan prilaku kita. 

Semua apa yang kita temukan dalam proses perjalanannya dapat dijadikan sebuah cahaya, sebagai petunjuk mencapai tujuan masa depan yang penuh kebahagiaan yang tercinta. Sebagaimana dilukiskan pada sebuah karya pusai di halaman gawai yang memiliki nama akun AHMAD sebagai berikut:

INANG

Hidangkan
keseimbangan
hujan dan galian
anak anak garuda
merajai semesta

Kdr_2901020

Ada daya tarik dalam diri pencipta karya untuk hidup bermakna, serta rasa penasaran terhadap kenyataan kebenaran bahwa yang besar memang besar dan yang kecil memang kecil. 

Untuk menemukan kebijaksanaan harus bisa lepas dari perspektif yang bersifat sementara dalam putaran arus kehidupan kita sehari-hari.

Oleh karena itu, pemilihan kata berkaitan dengan topik permasalahan tersebut diberi nama /INANG/ sebagai judul karyanya. Dan di dalam kamus KBBI memiliki makna yaitu: Perempuan yang merawat (menyusui dan sebagainya) anak tuan-nya (seperti anak raja atau anak pembesar).

Berdasarkan penjelasan arti kata tersebut, maka menangkap maknanya lebih menampilkan kepada figur seorang "ibu". Karena aktifitas hidup seorang ibu memiliki makna pengasuh segalanya, senantiasa memberikan hal yang terbaik bagi semuanya. 

Sehingga daya upayanya dapat diarahkan kepada jalinan rasa cinta kasih kepada sesamanya, siapapun kita tanpa pandang bulu. Apakah sebagai "Inang pengasuh (kyai, pemuka agama lainnya, guru, pemimpin, penguasa, atau Punokawan)" singkat kata bahwa pengasuh harus bisa memegang "amanah" dengan teguh, karena itulah satu-satunya jalan mencapai tujuan harapan cita-cita masa depan bagi seluruh umat.

Kita memang bukan perintis atau pelopor disegala bidang ilmu pengetahuan. Apalagi pada bidang kesusasteraan. 

Kita lebih kepada penggeliat mencari dan menelusuri jejak pendahulu, agar hikayatnya dapat dibuat acuan sebagai risalah perkembangan zaman. 

Saat ini kita menghadapi era serba canggih dan modern. Adalah zaman milenial, segala sesuatunya lebih terbuka dan mudah didapat. Ruang waktu serta daya upaya hidup dan kehidupan telah berhasil diletakkan dalam genggaman.

Sebagai penggeliat bidang pengetahuan sastra, kali ini kita hendak membicarakan kondisi perkembangannya, Untuk itu, pada bait pertama dilukiskan dengan kata /hidangkan/ menunjukkan suatu kondisi tidak ada waktu terluang sia-sia dalam ruang kegiatan sehari-hari, terus menerus berproses tanpa mengenal lelah, menyuguhkan kemajuan ilmu pengetahuan dalam hidup dan kehidupan. 

Menunjukkan kemajuan yang menakjubkan dibidang teknologi. Meskipun pada kenyataannya tetap tidak lepas dari munculnya persoalan. Antara baik dan buruk, suka dan tidak suka akan terus berbeda, dan tetap menimbulkan perdebatan sepanjang masa.

Tanpa putus asa kita terus berjuang agar bisa menyatukan keadaan perbedaannya, ibarat menyatukan tangan kanan dan kiri demi kedamaian hati. Inilah menurut penulis yang dikatakan telah sampai mencapai nilai kebaikannya. Merupakan harapan cita-cita masa depan kita demi anak cucu kelak.

Tidak dipungkiri bahwa hidup di setiap peradaban akan selalu muncul persaingan dalam perbedaan. Pertentangan semacan ini merupakan semangat pencarian jati diri, adalah sesuatu yang pokok dalam menjalani hidupnya. Semata-mata menjaga kelangsungan hidup, dan melestarikan kehidupannya. 

Untuk itu pada bait kedua dituangkan dalam bentuk kata /keseimbangan/. Ibarat hidup mengayuh sepeda ontel, di mana keadaannya harus seimbang sebagai anamah memegang kendali.

Di sinilah perbedaan pandangan akan muncul, menjadi pokok persoalan, karena berhubungan satu sama lainnya. Jika kita bisa mengendalikan dan mengarahkan apa yang berbeda di sekitar kita, dan menerima apa adanya, maka semua akan berjalan secara harmonis penuh kebahagiaan.

Lagi-lagi, sang pencipta karya pusai ini terselip rasa sedih dan kekecewa terhadap kurikulum pendidikan yang berlaku. Tidak adanya keseimbangan antara pendidikan lahir dan kerohanian, yang diajarkan diperguruan formal. 

Seharusnya pelajaran kerohanian pemegang peranan penting, karena penekanannya pada prilaku berbudi luhur atau berahklak mulia. Sebagaimana yang diajarkan oleh pendahulu kita. 

Budi luhur dan achklak mulia dapat difaktualkan pada jam-jam lebih berimbang, dari pada sekedar belajar dalam ruangan sempit pada materi lahiriyahnya.

Puisi selain hemat kata penuh makna, telah disandangkan pula kata "neofuturisme". Mengambil istilah paham "Futurisme", yang berasal dari kata future (masa depan). Kemudian istilah ini dianut oleh paham seni dan desaint artistik, memiliki pengertian bahwa masa depan harus lebih baik dari masa lalu dan kini.

Sedangkan "neofuturisme" yang disandangkan pada pusai, oleh penggagas Bapak Sugiono MPP, merupakan kritik terhadap penganut paham "futurisme", di mana pusai memberikan solusi masalah masa depan yang akan ditemuinya.

Memajukan sastra melalui karya puisi, dan dalam tekatnya untuk memberikan solusi masalah yang ada di masa depan. Ibarat "jiwa raga" sebuah negeri, dan kau "rajanya", "akal" berperan perdana menteri yang bijaksana. 

Karena "akallah" yang bisa memberikan petunjuk dan solusi persoalan yang terjadi di dalam negeri. Persoalan yang ada bisa teratasi. Dan "akallah" yang dapat membimbing rasa menemui masa depan. 

Sebagai solusi masa depan "Apabila telah berhasil menghilangkan semua tujuan dan sasarannya, karena 'ia' telah menemui tujuan dan sampai pada sasarannya".

Dengan demikian puisi terus bergerak dan meletakkan dasar puitika dan estetikanya. Dengan kesederhanaan, maka puisi merupakan dasar hemat kata penuh makna, berpegang teguh pada prinsip tahapan proses perjalanan. 

Jika mengetahui kondisi jalannya lurus untuk apa berjalan nikung. Berliak-liuk di jalan lurus tiada guna, sebab sepatah kata lebih berarti bagi orang yang senang berjalan dari apa yang telah ia bacanya.

Era milenial merupakan budak-budak zaman terkini, gerakannya begitu cepat dan tersembunyi. Pengaruhnya merayap secara terbuka dan meluas tanpa diketahui. 

Bangsa timur, generasinya merupakan bangsa pasar mudah disusupi. Gemar melewatkan masa mudanya di tengah kegalauan etika, lebih bebas dari pada pendahulunya dalam hal bertindak, bereforia, berpakaian, menghamburkan waktu bermalas-malas.

Satu-satunya suasana kehidupan anak milenial dengan dandanan elok, gaya bicaranya yang dipakai bahasa tinggi, ungkapannya cerdas menganggap orang mudah diperdaya, dan mereka menganggapnya seorang yang bijaksana. 

Seharusnya anak muda milenial mempergunakan keadaan bisa membuat dirinya berguna, dan memanfaatkan kesempatan belajar menyibak tirai fatamorgana menjadi kenyataan mencapai kebaikannya. Jika Tuhan merahmati kehidupan mereka tentu akan menjadi era generasi baru cikal-bakal pemimpin yang baik.

Hubungan ini oleh sang pemusai dituangkan pada bait ketiga yaitu /hujan dan galian/ Melihat struktur dan rimanya memang seolah-olah tidak nampak ada hubungannya, namun penulis mencoba menangkap makna tersebut. 

Dari kesederhanaan kata penuh makna tentang "hujan dan galian", telah berperan sebagai "Rahmat Tuhan". Karena dengan turunnya "hujan", dari padanya segala sesuatu yang mati dibangkitkan, hidup kembali. 

Dari padanya tumbuhan subur. Dari padanya proses daur ulang organik berlangsung sempurna, dan pada akhirnya berkembang, bakal buahnya dapat dipetik, dan dinikmati sampai hari besok. 

Tetapi apabila keadaan hati kita tiapa peduli pada lingkungannya, dan tangan kita membabat, memotong sampai keakarnya tentu ekosistem lingkungan di dalamnya tidak akan berjalan secara alami, suatu saat, pada gilirannya hujan menjelma malaikat maut, menjelma menjadi hujan air mata.

Sedangkan kata "dan galian", ada jejak sisa keserakahan yang lalu, galian potensi sumber daya alam berlimpah, dan dari padanya ada kandungan energi yang dapat dipergunakan kemakmuran bangsa. 

Memang perlu sentuhan ilmu dan teknologi yang bijaksana, untuk terus menggali dan mengolah dengan baik. Akan tetapi bilamana jalan prosesnya tidak amanah, maka kemungkinan buruk akan menimpa, menjadi longsor, sumber lumpur tak terkendali, tumpahan minyak, banjir bandang, serta derita bencana lain yang seringkali membinasakannya.

Berdasarkan sekelumit uraian tersebut, dapat menjadi petunjuk, agar kita bisa merubah prilaku yang tidak menguntungkan pada diri sendiri, maupun tidak punya kandungan manfaat kepada lainnya. 

Setidaknya mulai saat ini kita harus bisa menemukan hidup mencintai kebijaksanaan, karena hal itu merupakan rasa kemanusiannya. Hidup dan kehidupan bisa menampilkan kesederhanaan. 

Bila hidup telah menemukan kebijaksanaannya tentu kehidupan hanya sebagai tambahan, kehilangannya tidak menjadikan diri kita bersedih. 

Kebijaksanaan atau rasa kemanusiaan merupakan bentuk kebenaran. Karenanya tidak akan menjadikan diri kita kaya raya, tetapi akan membuat diri kita bebas merdeka, berjiwa besar, serta penuh keyakinan.

Menurut penulis, bahwa seorang sastrawan harus bisa memiliki kehalusan budi pekerti yang disebut kebijaksanaan, dengan menggunakan akal sebagai anugerah Tuhan, karena dengan akallah yang bisa menuntun perasaannya menemui rasa kehalusannya. Itulah kebijaksanaan sama dengan rasa kemanusiaannya.

Sekali lagi, "kata" merupakan tanaman masa depan (future) yang mempunyai nilai hubungan universal. Oleh karena itu pusai sebagai gagasan baru, meletakkan prinsip hemat kata penuh makna, mencoba menampilkan kehidupan yang sederhana, bebas, berjiwa besar, serta penuh keyakinan tentang neofuturismenya. 

Meskipun saat ini tampil masih seumur jagung, masa pertumbuhannya tidak lepas dari kritik-kritik yang tajam, namun tidak menyusutkan niat baik. Justru dengan keadaan ini mengkristalkan tekat untuk terus berjuang menyampaikan nilai kebaikannya. 

Setidaknya pusai bisa menjadi bentuk sumbangsih anak bangsa, dan memberikan semangat bagi kemajuan perkembangan sastra di tanah air. Hidup dan kehidupan terus bergerak dan serba terbarukan. Tidak mungkin berhenti karena kita berbeda, karena kita tidak mau menerima, atau karena kita apatis dan antipati kepada sesuatu yang tidak berkesesuaian dengan keinginan.

Tidak kawan! Pusai tampil sederhana, hemat kata penuh makna. Sebagai mana layaknya kata "hidup", akan menjadi pokok segala yang ada. 

Begitu pula dengan kata "niat" bisa mewakili segala tujuan hidup itu sendiri, lepas dari kungkungan budak-budak peradaban era milenial saat ini. Apalagi dengan sebuah kata "kesempatan", merupakan limpahan rahmat hikmah luar biasa, menyia-nyiakannya sama dengan membinasakan masa depannya. 

Ketiga contoh kata tersebut "hidup, niat, dan kesempatan" memiliki beberapa unsur sebagai syarat dalam merealisasikan aktifitasnya. Dan unsur yang dikandung harus terpenuhi, agar nilai tindakannya tidak sia-sia.

Sebuah contoh bahwa satu kata dapat menggenggam alam semesta, lahir maupun batin, dan sampai hari ini dan sampai kapanpun, kata itu kekal abadi yaitu kata "NIAT". Dengan contoh itu kita bisa membayangkan unsur apa saja yang di kandung dalam makna kata tersebut!? Kemudian bisa mencoba menuangkan jika telah menemukan kata yang tepat. Dan pusai sebagai pilihannya.

Sebagai kalimat puisi terus berusaha mengkentalkan makna, tidak perlu boros kata dan bertele-tele, maka pusai memberikan solusi. Sebagai gambaran kalimat contoh sebagai berikut:

Aku hidup hari ini
Menggenggam niat dalam hati
Kesempatan meraih sukses
Demi masa depanku nanti

Contoh kalimat puisi tersebut, bila kita jadikan pusai sebagai berikut:

Hidupku kini
Menggenggam niat
Kesempatan sukses
Masa depanku

Andaikata kita bisa belajar dari rintisan dan pelopor dalam perkembangan kesusasteraan dan segala bidang ilmu pengetahuan tentang hidup dan kehidupan, tentu sifat antipati kepada sesuatu yang ada tidaklah mungkin terjadi. 

Kebijaksanaan dari orang-orang terdahulu mengajari kita untuk giat mencari jalan keluar dari suatu persoalan, memperhalus jiwa, serta terus semangat belajar menerima apa adanya yang telah diadakan.

Kita bangsa Timur, tidak serta merta tunduk dan diperlakukan seenaknya sendiri oleh bangsa lain. Meskipun kehidupan di era milenial sekarang ini berkiblat kepadanya Bangsa Barat. 

Kemajuan teknologi berkembang begitu pesat, dan kita sebagai bangsa Timur tidaklah lebih rendah dari bangsa Barat. Pada dasarnya perkembangan, bangsa Timur telah banyak memberikan sumbangsih demi keadilan semua Bangsa. 

Selanjutnya kita sebagai bangsa Indonesia sudah selayaknya bangkit dari keterpurukan moral, setelah kran demokrasi dibuka paksa. Tidak seharusnya menjadi bebas beringas tanpa aturan main yang jelas. 

Berbusana ilmu pengetahuan cemerlang, namun prilakunya melucuti pakaiannya sendiri. Periode ini sungguh menyesakkan dada bagi para pemangku idealisme dan rasa nasionalisme. 

Kaum Agamawan, Budayawan, Sastrawan, Cendikiawan telah tercemari oleh air politik. Berita dekrit kehidupan berbangsa tidak menuntun pada kebaikan, justru menjadi liar seperti hidup di hutan rimba.

Sesungguhnya hidup itu sendiri keadaannya ada di puncak paling tinggi, jalannya sulit dijangkau namun ia sebagai tempat tujuan mencapai masa depan. 

Barang siapa bisa melihat dunia dan melintasinya dari lubang jarum, maka ialah yang berhak mendapatkan karunia Tuhan Yang Maha Pengasih serta Penyayang, atas jerih payahnya berada di masa depan.

Guruda adalah bangsa burung sebagai simbul suatu bangsa yang tinggi, kepak sayapnya membentang luas, selalu bercita-cita berada pada ketinggian, dan keluasan pandangan menjangkau masa depannya. 

Memberikan motifasi kepada setiap generasi, agar selalu gigih berjuang menggapai ketinggian cita-citanya. 

Oleh karena itu, keadaan ini dituangkan pada bait keempat yaitu /anak-anak garuda/ kepada generasi muda sebagai generasi bangsa burung menaruh harapan besar untuk mengelola negeri tercinta dengan amanah.

Terbanglah tinggi dalam meraih cita-cita. Karena untuk mencapai itu semua tidaklah mungkin hanya berpangku tangan. Duduk manis di warung kopi dengan jemari menombol keyboot game!? 

Bertanyalah setiap saat kepada diri sendiri, seperti apa nasib diri ini ke depannya!? Memang perjalanan proses menentukan hasil, tanpa bersusah payah membekali diri dengan kebijaksanaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak mungkin mencapai tujuan cita-cita. 

Hal tersebut merupakan sepak terjang untuk merubah nasib diri lebih baik, dengan memperlihatkan nilai moral yang baik pula. Pembelajaran moral ternyata lebih ampuh ketimbang benteng politik. Dan yang menyolok pada kenyataan prilaku politik telah mempertontonkan budaya prilaku arogan dan memperjual belikan agama. 

Demi memenuhi ambisi pribadinya, mengisi hari hidupnya dengan menghianati janjinya sendiri, dan yang lebih miris tega mendorong saudaranya sendiri ke jurang penderitaan. Sedangkan sang kritikus tak ubahnya tikus yang depresi.

Dengan demikian, untuk mengisi hari-hari kedepan, sebagai sosok yang bangkit dari suasana ranum, maka anak muda cemerlang yang telah memegang cahaya rahmat kebijaksanaan, dengan rasa kemanusiaan sudah waktunya untuk menggantikan generasi tua yang sudah dalam suasana pikun. 

Masalah yang ada gagal membawanya lolos dari peristiwa yang terjadi, suatu kesalahan peristiwa kebohohongan yang menghebohkan dan fatalitas yang tidak terduga sebelumnya. 

Karakternya meletakkan Uang Rupiah dan Perempuan merupakan bagian dari pencapaian moralnya, dan menganggap faktor penentu meraih martabat dengan mengahalalkan segala cara. Tidak berpikir sebagai faktor kehati-hatian yang bisa membuat seseorang menang dan mendapatkan keduanya.

Mengilhami peristiwa nan lalu, generasi muda milenial, bangkitlah, tanam kembali moralitas yang tersembunyi di balik kerudung kegelapan. 

Dan kisah ini telah terpahat di perjalanan keimanan si alim, yang terkelabui oleh kesalahan memandang gemerlapnya cahaya mentari, dan pada saat ini waktunya mereka sedang dirundung hisap atas ulah wejangannya sendiri.

Dengan kembalinya kekuasaan yang membebaskan mengeluarkan pendapat, maka suatu kesempatan bagi generasi muda milenial bangsa Indonesia untuk menunjukkan kekuatan pada dunia di bidangnya masing-masing. 

Kesampingkan peristiwa yang lalu, lupakan masalah yang menghambat perjalanan. Kepalkan tangan dan berteriaklah sekeras mungkin, lalu katakan "kemiskinan sudah bukanlah kengerian lagi, kematian bukanlah kecemasan lagi, karena kebijaksanaan ilmu pengetahuan yang diperoleh memberikan kekuatan semesta untuk bertahan lama".

Kobaran semangat ini oleh sang pemusai dituangkan pada bait kelima yaitu /merajai semesta/. Pergaulan semacam ini akan berlangsung terus-menerus, sampai pada akhirnya dapat merasakan keharmonisan dalam hidup kebersamaan. 

Manusia terhadap manusia lainnya, dan manusia kepada lingkungannya. Ikatan ini merupakan jalinan cinta kasih kepada seluruh ciptaan Sang Maha Agung Tuhan Semesta Alam. Sehingga amanah melestarikan lingkungan memegang peran utama, demi kelangsungan hidup dan kehidupan itu sendiri.

Sebagai akhir penjelasan ini, bahwa Pusai sejauh ini masih dalam masa kontroversi terhadap keberadaannya, suatu hal kewajaran bila ada yang berbeda pandangan. 

Dan sesuatu yang baru perlu banyak masukan demi kedewasaannya. Sebagaimana kritik yang telah dituangkan pada laman gawai dengan nama akun "Rumingkang taya karingrang (Penyair Gila Cianjur)" dalam statusnya yang di unggah pada tanggal 31 Januari 2020, jam 04,38.WIB, sebagai berikut :

"PUSAI (Puisi Bonsai) hemat kata itu, mau di begini mau di begitupun tetep saja cuma menghasilkan karya picisan. Titik masalahnya ada pada "Hemat kata itu sendiri" yang sadar atau tidak, membuat si pencipta terjebak dalam kesederhanaan dan keringanan tantangan dalam penciptaan karyanya itu.

Saya jamin, PUSAI akan tenggelam oleh kesederhaanya sendiri."

Andai kata! sebelum segala sesuatunya tidak mendahulukan antisipati terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya dimengerti maksud dan tujuannya, tentu bisa duduk bersama saling memberikan masukan baik.

Saya menanggapi status itu dengan tersenyum karena kata "di" !

Tetapi, tidak apa-apa, sebab baik buruk keadaan komen seseorang adalah hak setiap orang, bagi kita marilah belajar mendahulukan kewajiban untuk memberikan haknya orang lain. 

Kritikan tersebut hanya bersifat cibiran, tidak layak disebut kritikan karena memang belum menyampaikan solusinya. Hanya merupakan cambuk bagi para pemusai, agar bisa menunjukkan eksistensinya. Bahwa setiap kata memiliki kandungan unsur yang harus terpenuhi manakala dituangkan.

Akhirnya saya menyimpulkan karya pusai tersebut, kata kunci neofuturismenya ada pada "Inang yang amanah".

Sekian, semoga bermanfaat.

Oleh: Edi Kuswantono
×
Berita Terbaru Update