-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KEMBALI MEMPERTANYAKAN IZIN INVESTASI TAMAN NASIONAL KOMODO

Kamis, 20 Februari 2020 | 05:19 WIB Last Updated 2020-02-19T22:19:55Z
KEMBALI MEMPERTANYAKAN IZIN INVESTASI TAMAN NASIONAL KOMODO
Komodo (Ilustrasi; moondoggiesmusic)

Pada Rabu (19/2/2020), untuk kedua kalinya Komisi IV DPR RI mengadakan Rapat Kerja dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya. Dalam pertemuan kali ini, saya kembali menyuarakan persoalan izin investaai di Taman Nasional Komodo (TNK) yang beberapa hari lalu menuai demonstrasi masyarakat Manggarai Barat.

PERTAMA, PEMBERIAN IZIN INVESTASI. KLHK memberikan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) kepada dua perusahaan, yaitu PT SKL seluas 21,1 hektar di Pulau Rinca dan PT KWE seluas 151,94 hektar di Pulau Komodo dan 274,13 hektar di Pulau Padar. Saya mempertanyakan apa yang mendasari pemberian izin terhadap dua perusahaan tersebut untuk membuka usaha di ruang hidup komodo.

Dalam pandangan saya, investasi dan konservasi adalah dua hal yang berbeda, sehingga tidak mudah untuk disatukan. Apakah KLHK bisa menjamin investasi yang masuk tidak akan merusak keberlangsungan hidup komodo? Di sisi lain, apakah sudah ada kajian akademis yang komprehensif-interdisipliner terkait berbagai aspek mengenai TNK, seperti aspek ekologis, ekonomis, antropologis, dan sosiologis.

Saya memberikan seruan tegas kepada KLHK agar tidak tunduk kepada investor. KLHK harus sangat berhati-hati dalam memasukkan investasi di wilayah konservasi seperti TNK.

KEDUA, ALIH FUNGSI HUTAN BOWO SIE. Hutan Bowo Sie merupakan hutan tutupan Kota Labuan Bajo yang beralih fungsi menjadi kawasan pariwisata. Hutan seluas 400 hektar ini dikelola oleh Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo dan dibagi kepada pihak swasta.

Pernah terjadi banjir di Labuan Bajo akibat alih fungsi Hutan Bowo Sie. Yang kemudian saya tanyakan adalah apa yang menjadi dasar kajian pemerintah dalam mengubah status fungsi lahan Hutan Bowo Sie? Pasalnya, akan menjadi sangat tidak baik bagi pengembangan ekonomi apabila destinasi wisata kelas dunia seperti Labuan Bajo terkena banjir.*

Oleh: Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si
Sumber: Fanpage Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si
×
Berita Terbaru Update