-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Suara Kebenaran Murid Kristus Berujung Penjara (Letkol Aloysius, Aku Bersamamu)

Selasa, 25 Februari 2020 | 21:57 WIB Last Updated 2020-02-25T15:03:21Z
Ketika Suara Kebenaran Murid Kristus Berujung Penjara  (Letkol Aloysius, Aku Bersamamu)
Gambar; Ikatolik

Karena suara kebenaran dan keadilan yang adalah suara kenabian yang pantas dan wajib disuarakan oleh pengikut Kristus apapun status dan profesinya, penjara menjadi hukuman terakhir untuk mencuci tangan dari persoalan pembangunan dan renovasi total gereja Katolik St. Joseph Karimun, Keuskupan Pangkal Pinang.

Sebagai seorang pengikut Kristus, dimanapun dan kapanpun serta apapun profesinya memiliki kewajiban moral dan iman untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran, menjadi garam dan terang dunia (bdk, Mat 5:13-16). Pak Aloysius menyadari sungguh bahwa di atas segala jabatan dan aturan yang melekat dalam dirinya tidak bisa memadamkan terang iman dalam dirinya untuk mewartakan Kristus dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Yang memperihatinkan adalah suara kenabian pak Aloysius justru dibungkam dengan undang-undang atau peraturan yang tidak adil dan semena-mena. Betul bahwa pak Aloysius terikat karena corps, aturan dan undang-undang. Tapi di mana letak kesalahan pak Aloysius? Pak Aloysius salah ketika ia mencaci dan menghujat pak Jokowi atau Kapolri dan Panglima TNI serta kementrian terkait.

Dalam suratnya pak Aloysius mewakili suara minor yang selama ini tersandera oleh diskriminasi oknum-oknum intoleran. Suara pak Aloysius adalah rintihan suara minor di lorong-lorong sunyi yang jauh dari kata adil termasuk jauh dari kehadiran negara dan hukum yang melindungi perjuangan kaum minor.

Yang menyedihkan adalah orang seperti pak Aloysius yang menyuarakan keadilan dan kebenaran justru dikenai hukuman sedang mereka yang secara terang-terangan melakukan tindakan intoleran justru dibela oleh menteri agama, Fachrul Razi. Bahwa peristiwa pengahalangan pembangunan gereja St. Joseph Karimun bukan tindakan intoleran (bdk. Menag: Kisruh Gereja di Karimun Bukan Masalah Intoleransi, Berita Satu, Selasa, 18 Februari 2020).

Mereka yang setiap saat secara berjemaah mencaci dan menghujat bahkan memfitnah presiden dan terang-terangan mengorasikan jatuhkan Jokowi kalian biarkan mereka menyuarakan kebencian dan fitnah, tetapi pak Aloysius yang menyuarakan suara kenabian dari imannya sebagai terang dunia justru dihukum.

Kenyataan yang dialami oleh pak Aloysius juga mirip dengan kenyataan pahit yang menimpa saudara Romesko Purba, ketua panitia pembangunan gereja St. Joseph Karimun yang dilaporkan kelompok massa intoleran ke pihak polisi.

Hukuman yang diterima pak Aloysius sebagai konsekuensi dan resiko sebagai murid Kristus yang menyuarakan keadilan dan kebenaran mempertegas kenyataan bahwa hukum dan negara hanya hadir untuk segelintir kelompok dan tidak pernah hadir, bahkan gagal memberikan rasa damai, aman dan keadilan bagi kelompok minor.

Miris dan menyedihkan!! Ketika tindakan intoleran secara terang benderang menimpa gereja St. Joseph Karimun dianggap bukan sebagai tindakan intoleran, tetapi suara keadilan dan kebenaran untuk meminta kehadiran negara dan hukum yang adil bagi kaum minor justru dianggap sebagai pembangkangan hanya karena terikat jabatan dan tugas yang melekat dalam diri pak Aloysius.

Kenyataan pahit ini justru menjadi berkat bagi para pengikut Kristus bahwa kebenaran dan keadilan tak akan pernah padam meski berujung pada salib dalam hal ini penjara bagi pak Aloysius. Sekaligus dengan hukuman yang diterima oleh pak Aloysius semakin memperjelas kepada seantero nusantara bahwa negara dengan perangkat hukumnya tidak hadir, bahkan gagal memberikan perlindungan hukum, rasa aman dan adil bagi kaum minor.

Dan saya yakin, pak Aloysius juga para pengikut Kristus lainnya tidak akan pernah membenci negara dan hukum yang tak adil tetapi mendoakan dan mengampuni dalam sepenggal doa; “ Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Pak Letkol Aloysius, terimakasih telah menjadi inspirasi bagi saya bahwa menjadi murid Kristus memang harus sampai menderita. Aku bersamamu dalam doa-doaku pam Letkol.

Manila: 25 Februari 2020
Pater Tuan Kopong MSF
Editor: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update