-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah Perantau Anak Mbala-Naga ke Jepang, Pengusaha Jamur Tiram di Labuan Bajo

Senin, 03 Februari 2020 | 05:39 WIB Last Updated 2020-02-02T22:48:07Z
Kisah Perantau Anak Mbala-Naga ke Jepang, Pengusaha Jamur Tiram di Labuan Bajo
 Kisah inspirasi tentang perjalanan seorang Sem Gizigoy, pelaku usaha Jamur Tiram di kota Labuan Bajo

LABUAN BAJO-Setelah tamat SDK Naga 1988 merantau ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Pergi tanpa bercita-cita meninggalkan kampung halaman, Mbala-Naga nun jauh dari keramaian. Dulu terisolir. Tak satupun infrastruktur publik yang menyentuh kampung yang membentang permai di tengah lembah hijau itu

Di Bima, ia mulai merajut mimpi. Melanjutkan pendidikan di salah satu SLTP yang ada di kota Bima. Tamat SMP, ia masuk SMA Negeri 1 Bima, salah satu sekolah terfavorit ketika itu. Di SMAN 1 Bima inilah ia belajar banyak hal hingga meraih prestasi akademik yang mumpuni. 

Bersamaan dengan itu, gairah cintanya mulai panas membara. Tapi sayang, di kala benih-benih asmara tumbuh bersemi, ia dan 6 siswa berprestasi lainnya dibawa ke kota Mataram. Di kota itu mereka di karantina sambil belajar bahasa Jepang selama 3 bulan.. 

Dari Mataram, ia dan 3 temannya dikirim lagi ke Balai Latihan Kerja (BLK) di kota Bandung, Di kota kembang itulah naluri enterpreneurnya digembleng oleh instruktur orang Jepang. Setetes keringatnya dihargai dengan mata uang Jepang, Yen. sejak ditempa di BLK kota Bandung. 

Setelah dinyatakan lulus, ia dan 2 temannya dikirim ke Jepang. Tepatnya di kota Yatsuka Tokyo, Jepang. Di kota Yatsuka ia dan ratusan peserta lainnya dari berbagai negara mengikuti pendidikan dan latihan yang disebut Training kensusei (pemula). Selama 2 bulan di kota Yatsuka ia belajar bahasa Jepang dan budaya masyarakat Jepang. Dan mulai saat itu ia mendapat penghasilan 12 juta sebulan. 

Bekerja selama 3 tahun magang di Jepang, terasa cukup baginya untuk kembali ke Indonesia sembari mengantongi modal usaha sebesar Rp300 juta. 

Tiba di Indonesia, ia dipekerjakan di PT.Kanzeng di kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah perusahaan Jepang yang menjajal bisnis spare part mobil dan sepeda motor. 

Hasil jerih payahnya di kota Yatsuka plus gaji yang didapatkan di PT Kanzeng di Semarang hingga membeli sebuah rumah di kota Bima, NTB. Kendati demikian, hidup terus membujang. Masak sendiri. Makan sendiri. Cuci sendiri di kota Semarang. 

Gemerlap Tokyo dan Semarang, tidak kuasa mengaburkan kadar dan gairah cintanya pada gadis manis lembah kota Bima, NTB. Ia pun membuka album kenangan masa penuh wangi bunga semenjak bangku SMAN 1 Bima. Dalam album kenangan itulah, sesosok wajah cantik tertambat anggun menghiasi dinding kamarnya.

Bima-Tokyo-Semarang hanya jauh di mata dan peta tapi dekat di hati. Itulah cinta. Sebagai insan yang bercinta, rindu tentu saja ada bahkan menggebu. Tetapi ia punya trik untuk menghalau kerinduan itu. Sekali dalam 3 bulan mengirim surat cinta dari Tokyo. Kadangkala melalui sambungan telepon apartemen di kota Yatsuka, Jepang. 

Rindunya menyiksa batin lantaran nama yang satu ini. Najema. Gadis kerudung putih kota Bima terbayang selalu. Harga mati. Ia pun menikahi Najema pada tahun 2003.

Itulah sinopsis kisah inspirasi tentang perjalanan seorang Sem Gizigoy, pelaku usaha Jamur Tiram di kota Labuan Bajo. Satu-satunya pengusaha muda yang kini sedang menjajal bisnis Jamur Tiram di kota wisata super premium.  (Robert Perkasa)
×
Berita Terbaru Update