-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah Perantau Anak Mbala-Naga ke Jepang, 3 Tahun Belajar Etos Kerja Orang Jepang (bagian-2)

Senin, 03 Februari 2020 | 13:33 WIB Last Updated 2020-02-03T06:33:44Z
Kisah Perantau Anak Mbala-Naga ke Jepang, 3 Tahun Belajar Etos Kerja Orang Jepang (bagian-2)
Budidaya jamur tiram

LABUAN BAJO-Sem Gizigoy. Pelajar SMA Negeri 1 Bima, NTB asal kampung Mbala-Naga, desa Mata Wae, kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Mengenyam pendidikan menengah pada salah satu sekolah terfavorit di kota Mbjo. 

Di sekolah tersebut, Sem memilih jurusan  IPA. Belajar tekun tapi tak memiliki cita-cita setinggi langit. Di kelasnya, ia masuk kategori 10 besar siswa berprestasi. 

Saat duduk dibangku kelas III SMAN 1, Pemerintah kabupaten Bima mendatangi sekolah-sekolah di kota itu mencari murid-murid berprestasi.  Ia bersama ratusan siswa lainnya yang direkrut  kemudian dibimbing selama setahun. 

Pada Maret 2008 ia mengikuti ujian tes. Hasilnya, dari ratusan peserta, Sem Gizigoy bersama 6 siswa lainnya lulus kemudian  direkomendasi oleh Pemkab Bima mengikuti program latihan kerja/Magang ke luar negeri. Program ini kerjasama Depnaker Republik Indonesia dengan otoritas Jepang.  

"Saya masuk 10 besar siswa berprestasi di sekolah kami. Pada saat itu muncul program  ini dari Depnaker Indonesia  melalui Dinas Nakertrans kabupaten Bima. Mereka datang ke kami mencari siswa berprestasi. Dari ratusan siswa yang direkrut, hanya 7 orang yang lulus, termasuk saya. Kami  angkatan 14 kemudian direkomendasikan oleh pemkab Bima lalu dikirim ke Mataram", tutur Sem Gizigoy mengenang jejak perjalanan hidupnya.

Ia kisahkan, di kota  Mataram,  mereka dikarantina selama 3 bulan sambil belajar bahasa Jepang.  Dari 7 peserta, tinggal 4 orang, termasuk dia. 3 teman lainnya gagal di Mataram. Dari Mataram,  ia dan 3 temannya dikirim  lagi ke Balai Latihan Kerja  (BLK) di kota Bandung, Di kota kembang itulah naluri enterpreneurnya digembleng oleh instruktur orang Jepang.  

"Selama di Bandung, kami digembleng oleh instruktur orang Jepang. Kami belajar bahasa Jepang di BLK Bandung. Dan mulai saat itu kami diberi honor pakai mata uang Jepang, Yen. Dari 4 peserra, ada 1 teman kami yang tidak lulusl", kata Sem.

Setelah dinyatakan lulus, ia dan 2 temannya dikirim ke Jepang. Tepatnya di kota Yatsuka Tokyo

Sem berangkat ke  Jepang  tepat pada tanggal 12 Januari 2000. Ia bisa magang di Yatzuka, Tokyo berkat kerja sana pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang bidang ketenagakerjaan. 

Di kota ini, ia bergabung dengan ratusan peserta lainnya dari berbagai negara. Dari Brazil, Banglades, Filiphina, dll.  Di negeri "matahari terbit" itu ia mengikuti pendidikan dan latihan yang disebut Training kensusei (pemula). 

Selama 2 bulan di kota Yatsuka ia belajar bahasa Jepang dan budaya masyarajat Jepang. Ia belajar tentang etos kerja orang Jepang. 

"When you go to Romans, do like  Romans. When you go to Japan, do like  Japanis. (Jika Anda ke Roma berprilakulah seperti orang Roma. Jika Anda ke Jepang, berprilakulah Seperti orang Jepang", ujar Sem yang juga fasih berbahasa Jepang ini.

Sem menambahkan, di Jepang, kata 'romusha'  yang dulu di Indonesia artinya 'kerja paksa' digunakan untuk orang malas. 

Etos kerja orang Jepang luar biasa.  "3 tahun di Jepang kami sudah keliling Jepang. Hanya satu tempat yang belum kami kunjungi, yaitu kawasan Sporo Jepang.",cap Sem mengesankan.

Ia bekerja selama 3 tahun magang di Jepang hingga program itu berakhir. Ia dan 2 teman lainnya kemudian pulang ke Indonesia.  Otoritas Jepang  memberikan modal usaha sebesar Rp 300 juta. Selain itu diberi uang saku pulang ke Indonesia. 

Dikisahkan pula bahwa  selama 3 tahun di Tokyo, ia mengisi hari libur bekerja di sebuah perusahaan Jarum Tiram yang terletak tidak jauh dari Apartemen tempat dia tinggal. 

Di perusahan itu ia juga bekerja dari jam 08.00 sampai 16.00 waktu Jepang dan digaji 1500 yen sehari. Dari pengalaman bekerja di perusahaan itulah ia terinspirasi membudidayakan Jamur Tiram.

"Dekat apartemen saya di Jepang ada budidaya jamur tiram. Perusahaan besar. Inspirasi saya budidaya jamur tiram di Labuan Bajo hari ini berawal dari Jepang. Saya melihat, prospeknya di Labuam Bajo ini sangat menjanjikan", kata Sem (Robert Perkasa)
×
Berita Terbaru Update