-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Krisis Ekologi Sebagai Dampak Kebiadapan Perilaku Manusia

Jumat, 07 Februari 2020 | 09:10 WIB Last Updated 2020-02-07T02:12:23Z
Krisis Ekologi Sebagai Dampak Kebiadapan Perilaku Manusia
Gambar diambil dari media gesuri.id

Pada awalnya Tuhan menciptakan langit dan bumi sempurna adanya. Segala sesuatu telah disiapkan dan diberikan kepada manusia untuk keberlangsungan hidup. 

Di penghujung karya-Nya, Allah memproklamasikan seluruh ciptaan sungguh baik. Hal ini bisa kita temukan dalam halaman-halaman pertama kitab Kejadian. 

Semuanya diciptakan dengan memesona, dan hal-hal itu dapat dilukiskan di sebuah taman Eden, dimana keharmonisan antar alam ciptaan Tuhan mulanya mengantarkan manusia kepada sukacita menyeluruh.

Namun pada dekade terakhir ini wajah alam kita rupanya mulai merintih lantaran sebagian dirinya dirusaki oleh manusia. Manusia telah merenggut keindahan alam ciptaan ini secara tak bertuan. Alam pasti menderita. 

Keindahan alam dan segala isinya sudah menurun drastis. Semuanya kurang menampakan pesonanya. Hutan yang menjadi sumber utama kehidupan manusia telah dibakar habis guna membuka lahan untuk pemukiman dan proyek pembangunan lainnya. Singkatnya, alam sedang sakit karena ulah manusia.

Akibatnya terjadilah krisis sumber kehidupan dari alam karena akar pepohonan tidak dapat menyerap air. 

Di sisi lain penggunaan bahan kimia atau pestisida secara berlebihan juga dapat merusak kesuburan tanah. 

Kenyataan krisis ekologi lainnya dapat kita saksikan di lingkungan sekitar kita seperti banyak sampah yang berserakan, pencemaran udara karena gas karbondioksida dan gas-gas lainnya.

Selain itu,  pembuangan limbah pabrik ke laut ataupun sungai menyebabkan kematian makhluk hidup lainnya serta menipisnya lapisan ozon berdampak pada proses percepatan penuaan. Itu semua merupakan bentuk-bentuk kebiadapan atau tindakan tuna adab dari manusia.

Sikap tuna adab adalah sikap yang apatis atau cacat terhadap kebaikan budi pekerti, kesopanan dan akhlak. Penyebab atau akar permasalahannya yakni sikap tuna adab (untuk tidak mengatakan tidak beradab). 

Kebiadapan atau sikap tuna adap itu ditandai dengan sikap serakah, tak peduli dan sewenang-wenang terhadap bumi sebagai rumah bersama. Krisis ekologi akan secara perlahan menghancurkan manusia sebagai sebab akibat dari relasi yang terjalin antara alam ciptaan dan manusia itu sendiri.


Berhadapan dengan sikap tuna adap ekologis ini, kita semua ditantang untuk mengembangkan peradaban ekologis dengan kesadaran moral sebagai bentuk tanggungjawab dalam merawat dan menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan. 

Peradaban ekologis harus dimulai dengan pertobatan ekologis, kembali pada jalan Tuhan dan mengikuti instruksi awal kisah penciptaan yang menghadirkan manusia juga sebagai subjek, penanggungjawab untuk segala sesuatu yang telah Tuhan percayakan kepada manusia. 

Tanggungjawab yang diminta dari manusia menyangkut pelestarian kondisi lingkungan hidup yang sudah ada, sekaligus memperbaiki kondisi alam yang telah rusak. Semua dapat terlaksana dengan baik, benar dan indah apabila kita dengan kerendahan hati mau membuka diri untuk melihat dan merasakan secara langsung jeritan dan rasa sakit dari alam ciptaan-Nya.

Jadi janganlah kita merusak alam yang indah ini tetapi berusaha untuk mencintai dan menjaganya guna tercipta hubungan yang harmonis sebagai wujud rumah bersama yang damai.

Mencintai alam berarti mencinta Tuhan karena alam boleh dikatakan manivestasi dari kehadiran-Nya.
Dan merusak alam berarti tidak menghargai hasil karya Allah. Oleh karena itu, kita diajak untuk menghargai Allah melalui alam, buah karya-Nya. 

Lentang, Februari 2020

Oleh: Chel Che
×
Berita Terbaru Update