-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mabar Itu Bukan Hanya Labuan Bajo (Catatan Jelang HUT Mabar Versi Pemda)

Senin, 24 Februari 2020 | 16:55 WIB Last Updated 2020-02-24T09:55:17Z
Mabar Itu Bukan Hanya Labuan Bajo (Catatan Jelang HUT Mabar Versi Pemda)
Salah satu tempat terindah di Labuan Bajo (Ilustrasi; blog.reservasi.com)

Oleh: Sil Joni*

Kemeriahan atraksi dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Mabar,  begitu terasa hari-hari ini. Mulai dari pelaksanaan aneka 'mata lomba' dan pertandingan hingga pawai yang digelar menjelang hari puncak yang diklaim oleh rezim ini jatuh pada tanggal 25 Februari. 

Kita bersyukur sebab Mabar yang kini genap berusia 17 tahun itu, bertambah seksi, manis, dan cantik. Saya sangat yakin bahwa Pemda dan para penggemarnya akan dengan penuh semangat 'membentangkan' litani perubahan yang terjadi dalam kurun waktu 17 tahun itu. Ada yang menepuk dada lantaran 'kontribusinya' dalam membangun Mabar ini, sangat sifnifikan. Tegasnya, di mata pemerintah dan stafnya, Mabar sudah mengalami kemajuan yang berarti.

Klaim keberhasilan semacam itu, saya kira sah-sah saja jika kita memiliki 'alat ukur' yang kredibel untuk mengambil sebuah kesimpulan. Boleh jadi, kesuksesan versi Pemda itu berangkat dari situasi dan kondisi yang terjadi di Labuan Bajo dan sekitarnya.

Jika Labuan Bajo dijadikan 'sampel', maka Pemda dan juga publik Mabar layak berbangga. Sudah tidak terhitung lagi 'variabel perubahan' yang bisa dijadikan indikator klaim kemajuan tersebut. Ada banyak proyek fisik dan infrastruktur baik dalam skala lokal, nasional dan bahkan internasional yang sudah, sedang, dan akan dibangun di kota ini. 

Kita semua tahu bahwa perhatian pemerintah pusat terhadap pariwisata Labuan Bajo begitu istimewa. Labuan Bajo sudah ditetapkan oleh kementrian pariwisata sebagai salah satu dari empat 'destinasi super prioritas' di Indonesia. Bahkah, yang paling fenomenal adalah Pempus mencanangkan Labuan Bajo sebagai 'destinasi super premium'. Penetapan itu berimplikasi pada pemercepatan proses perkembangan dan kemajuan aktivitas industri turisme yang berdampak pada peningkatan mutu kemaslahatan publik Mabar.

Wajah kota Labuan Bajo sebagai dampak dari 'intervensi politik pempus' itu, memang sudah sangat 'berubah'. Itu sebuah fakta yang tak bisa diingkari. Kita hanya bisa bersyukur dan mengapresiasi kerja keras dan kerja cerdas Pempus itu. Pertumbuhan hotel berbintang dan jasa akomodasi pariwisata lainnya, tak terbendung lagi. Bandara Komodo sebentar lagi akan menjadi Bandara Internasional. Begitu juga dengan 'dermaga niaga pertama' yang tidak lama lagi akan 'hadir di kota' ini. Tegasnya, Labuan Bajo sedang bergerak menuju kota pariwisata bertaraf internasional.

Namun, sebetulnya kita tidak sedang 'merayakan HUT kota Labuan Bajo. Mabar tidak hanya berbicara menyangkut kemajuan ibukotanya saja. Situasi Labuan Bajo dengan segala 'dinamika pembangunannya' tidak bisa dijadikan rujukan untuk menilai bahwa Mabar telah mengalami kemajuan. Lanskap kota ini jelas berbanding terbalik dengan panorama yang agak dekil, suram, dan bopeng' di berbagai sudut kabupaten ini.

Atas dasar itu, rasanya tidak terlalu fair menjadikan Labuan Bajo sebagai 'titik tolak dan titik tuju' dari segala refleksi dan proyeksi di hari jadi Mabar yang ke-17 ini. Mari arahkan sejenak pandangan dan perhatian kita pada kondisi 'tubuh politik' Mabar ini di wilayah kedalaman.

Kita mesti mengakui dengan jujur bahwa 'utang politik kesejahteraan publik' dari Pemda masih sangat besar. Cukup sulit untuk mengatakah Pemda sudah bekerja maksimal dalam rentang waktu 17 tahun itu. Masih terlalu banyak desa atau kampung yang tergolong miskin dan terisolir. 

Angka kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, gizi buruk, dan penyakitan belum tuntas ditekan. Belum lagi jika kita berbicara tentang infrastruktur dasar seperti jalan raya, listrik, dan air minum bersih. Masih terlalu banyak warga yang hidup dalam kondisi tanpa fasilitas publik yang layak semacam itu.

Labuan Bajo yang dibangga-banggakan itu pun masih menyimpan 'cerita negatif' yang tak pernah terurai dengan baik. Bukankah krisis air minum bersih seolah menjadi penyakit klasik dan permanen di sini? Isu sampah juga tak kalah 'suramnya' jika kita membahas lebih komprehensif tentang perkembangan kota ini. 

Demikian juga dengan problem lain seperti 'hewan piaraan yang berkeliaran di area umum', penataan kota yang amburadul, ruang publik yang sempit, konflik tanah yang kian ekskalatif, dll yang tentu saja membutuhkan penanganan yang lebih serius dari Pemda.

Usia kabupaten ini, jika ditilik dari sisi psikologi perkembangan, sudah masuk pada fase remaja yang matang, the sweet seventeen, 17 tahun. Namun, hanya sebagian kecil dari wilayah ini (Labuan Bajo dan sekitarnya) yang terlihat manis dan indah. 

Pekerjaan rumah kita terus menumpuk untuk menuntaskan proyek kesejahteraan publik sebagai manifestasi dari idealisme pembentukan Kabupaten Mabar itu sendiri. Entah masih berapa tahun lagi 'pelbagai tanggung jawab politik' itu ditunaikan secara optimal?

Pemda bisa saja berdalih bahwa 'membangun Mabar' ke arah yang lebih berkualitas itu, tidak semudah membalikan telapak tangan. Semuanya harus mengikuti alur dan proses. Kita membutuhkan waktu dan energi politik yang lebih besar lagi. 

Boleh jadi 'catatan kritis publik' di hari jadi Mabar ini, tidak digubris sebab hanya sebuah 'suara dari kawasan pinggiran' yang tidak mengerti dinamika desain dan implementasi kebijakan publik dalam tubuh pemerintahan.

Tetapi, saya kira, kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik alasan normatif yang sudah usang itu. Pemda mempunyai 'tanggung jawab etis' untuk menfasilitasi dan mengkreasi ruang agar publik bisa mengolah sumberdaya yang ada untuk peningkatan kualitas kehidupannya. 

Publik sudah memberikan 'kewenangan politis yang penuh' untuk menata kehidupan bersama seefektif mungkin sehingga idealisme perubahan kuantitatif dan kualitatif itu, segera terwujud di sini dan kini.

Kita berharap peringatan HUT Mabar yang ke-17 ini tidak hanya bersifat seremonial dan euforistis, tetapi sebagai momentum untuk merefleksikan secara intensif 'posisi dan kondisi politik kabupaten' ini. 

Melaui permenungan yang jernih dan obyektif kita bisa membuat semacam proyeksi perihal 'langkah-langkah politik solutif' guna menjawabi realitas patologis seperti yang dipaparkan sebelumnya.

Akhirnya, dalam dan melalui momen Peringatan HUT ini, kita kembali 'terjaga' untuk mendonasikan potensi terbaik kita demi penggapaian impian bersama, terwujudnya masyarakat Mabar yang adil, makmur, dan sejahtera. 

Kita ucapkan profisiat atas usia 17 tahun ini dengan segala pencapaian dan kegagalannya. Mari kibarkan terus 'panji optimisme' bahwa Mabar pasti lebih elok di hari esok. Terima kasih berlimpah kepada para eksponen pejuang kabupaten ini, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Jasa mereka terlampau besar untuk dilupakan begitu saja. Ad Multos Annos!

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update