-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Melintasi Rego: Kuteropong "Watu Timbang Raung" dari Pesawat Terbang

Jumat, 21 Februari 2020 | 05:12 WIB Last Updated 2020-02-20T22:28:58Z
Melintasi Rego: Kuteropong "Watu Timbang Raung" dari Pesawat Terbang
Gambar watu timbang raung; kompas.com

Tak terasa, pesawat yang kami tumpangi dari Ende, mencium kampung Rego Kecamatan Macang Pacar-Manggarai. Meski samar-samar, tokoh Beo (=kampung) Rego, sudah kupastikan, Kengko-Rego, sering kulalui ketika masih duduk di SMA. 

Tatkala ke Ruteng, terkadang saya ke Reo dulu untuk menjenguk 'kae' (kakak John Sodo sekeluarga) yang bertugas di sana. Nah, kalau ke Reo, praktis harus melewati KIengko-Rego.

Pesawat merendah, lalu kutoleh ke sebelah Barat, kuteropong Watu Timbang Raung. Ingin rasanya, mau memotret, tapi teringat larangan pramugari. 

Akhirnya, terpaksa diurungkan. Meski begitu,  penggelandangan imajinasiku merambat ke cerita legenda Watu Timbang Raung. Batu yang punya kisah-kasih sedih. Kisah itu, masih terngiang  jelas dalam telinga dan tersimpan indah dalam relung hatiku.

Di tahun 1978, kepada saya diceritakan almarhum Niko Simi, bahwa Watu Timbang itu merupakan batu yang punya kisah. 

Dulu, demikian Almarhum Niko adik kandung kae John Sodoi, ada seorang petani yang tidak bisa membayar utang padinya. Hingga pemilik padi merasa jengkel. Pasalnya, sudah bertahun-tahun, tidak dibayar oleh petani yang berambut panjang, tetapi dia seorang laki-laki itu.

Kemarahan pemilik padi sampai puncaknya, akhirnya si petani berambut panjang itu dilaporkan kepada Tua adat setempat. Kata sepakat, tidak tercapai dalam urusan utang-piutang tersebut. 

Pemilik padi akhirnya memberi solusi, padi tidak usah dibayar, yang terpenting, si berambut panjang, memanjat 'watu" (batu) hingga sampai di atas. Lalu, terus ke ujung bagian barat batu tersebut yang bentuknya seperti meja kecil. "Dia harus duduk di sana, lalu harus 'rono' (= celang: membersihkan rambut dengan isi kelapa yang berminyak).

Ujungnya, diterima , utang padi selesai , jika si rambut panjang itu mau. Hari H-nya tiba, si rambut panjang itu pun naik, dengan membawa 'leke' (tempurung) kelapa yang sudah diisi dengan kelapa yang sudah dikunyah. Sisir dan cermin dibawa pula. 

Ketika tiba di puncak dia terus ke ujung barat watu yang berbentuk meja tadi. Apa yang disepakati dilaksanakannya.Tapi selama melakukan semua yang sudah ditentukan, dia tidak mau melihat ke bawah. Pasalnya, jika dia lihat ke bawah, pasti langsung jatuh akibat dari gravitasi bumi. Maklum tinggi batu tidak main-main, piluhan meter.

Begitu selesai rono, tiba-tiba air matanya jatuh di kedua belah pipinya. Ia sedih,," Gara - gara miskin, akhirnya tidak bisa membayar urang". 

Air matanya yang banyak itu, jatuh, hingga kini, di bagian bawah batu itu ada air. Banyak orang yang menangis ketika pelaksanaan pembayaran utang padi itu, Batu  itu kemudian diberi nama "Watu Timbang Raung' artinya Batu tempat mengadili orang yang berutang. Makna sederhananya adalah : watu = batu, timbang = menimbang; Raung = utang.

Cerita ini, terbawa hingga saya terbang menuju Labuanbajo. Begitu pesawat mencium bandara Komdo, cerita tersebut memudar dalam otakku. Keluargaku yang jemput berteriiak, "Pua datang!"  Mana oleh-oleh Amang" tanya yang lainnya. Aku pun pasang senyum ketika mereka merangkulku dengan mesra.*)

*) Oleh Usman Ganggang
Penulis lahir di Bambor-Kempo, Manggarai Barat. Kini berdomisili di Kota Kesultanan Bima, NTB.
×
Berita Terbaru Update