-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Memprofanisasi 'yang Sakral'? (Tanggapan atas Wacana Mendirikan 'Patung Tuhan Yesus' di Labuan Bajo)

Rabu, 26 Februari 2020 | 16:38 WIB Last Updated 2020-02-26T09:57:52Z
Memprofanisasi 'yang Sakral'? (Tanggapan atas Wacana Mendirikan 'Patung Tuhan Yesus' di Labuan Bajo)
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Media Radarntt.co, Selasa (25/2/2020) melansir pernyataan Bupati Manggarai Barat (Mabar), Agustinus Ch. Dulla tentang 'dukungannya' untuk mengembangkan spot wisata religi di destinasi super premium ini. 

Selain Gereja Tua Rekas dan relikwi (rangka) dari pastor paroki pertama di gereja Rekas, pemerintah daerah (pemda) sudah memikirkan untuk mendirikan 'Patung Tuhan Yesus' di Kota Labuan Bajo. Wilayah Golo Koe dan puncak Pramuka masih dikaji lebih lanjut untuk dipilih menjadi 'lokasi ideal' pembangunan patung itu.

Gagasan hebat ini sebetulnya sebuah tanggapan atas 'tantangan' yang disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Nono Sampono ketika berkunjung ke Labuan Bajo beberapa hari yang lalu. 

Nono meminta pemerintah pusat (pempus) dan pemda Mabar untuk menambahkan spot wisata religi di destinasi super premium ini. Secara eksplisit dan lugas Nono mendorong Pemda untuk membangun 'Patung Tuhan Yesus' sehingga kesan Folres sebagai pulau bermayoritas Katolik semakin terasa. 

Jika di Bali, unsur Hinduisme cukup menonjol, maka di Flores khususnya di Labuan Bajo pengembangan wisata religi bernuansa kekatolikan perlu dikembangkan. Pernyataan afirmatif bupati Mabar terhadap 'anjuran' itu tertuang indah dalam judul berita; "Gusti Dulla: Patung Tuhan Yesus sangat Dibutuhkan di Labuan Bajo".

Berita itu sudah disebarkan ke berbagai kanal diskusi publik dan seketika menjadi viral (trending topic), setidaknya dalam jagat maya di level lokal kita. Saya menangkap kesan bahwa 'antusiame publik' terhadap wacana itu begitu luar biasa. Bahkan ada yang 'tidak sabar lagi' menunggu terwujudnya rencana raksasa itu dan secara sukarela mendonasikan apa saja demi keberhasilan pembangunan 'simbol kekatolikan' itu.

Seperti biasa, sebuah kebijakan publik, pasti mendapatkan respons yang variatif dan tidak jarang menuai kontroversi dan polemik di tengah masyarakat. Demikian pun, diskursus 'pembangunan patung Tuhan Yesus' di Labuan Bajo yang digelindingkan oleh Nono Sampono dan diamini oleh Bupati Dulla, memantik sebuah polemik seru warga maya saat ini. Publik terbelah dalam dua kutup pandangan yang bersifat antagonistis.

Umumnyna publik Mabar 'sangat mendukung' ide itu. Jika dibuat 'referendum atau voting', saya sangat yakin, kubu pro pasti tampil sebagai pemenang. Kendati demikian, suara kritis dari kelompok kontra juga, perlu dipertimbangkan secara matang oleh para pembuat kebijakan (policy maker). Bagaimana pun juga, catatan kritis mereka tentu dilatari oleh argumentasi yang rasional dan berbobot. Dimensi 'dialektika kreatif' dalam mendesain dan mengimplementasi sebuah kebijakan, mendapat penegasannya di sini.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk 'mempertajam pertentangan antara dua kubu' di mana posisi intelektual saya dinyatakan secara tegas. Saya juga tidak berambisi untuk menawarkan sintesis guna 'melerai' gagasan yang saling bertentangan tersebut. Tulisan ini hanya sebuah potret penyingkap duduk perkara perihal 'logika' di balik ide pembangunan patung itu.

Religi dan Pariwisata

Dari sisi semantik, sebenarnya antara religi dan pariwisata merupakan 'dua entitas' berbeda yang tidak mudah disatukan. Agama selalu mengacu pada aktivitas yang bernuansa sakral (suci). Sementara, berwisata umumnya sebuah kegiatan perjalanan yang bersifat santai, senang-senang, dan rekreatif. 

Unsur sekularitas/profanitas begitu kuat dalam kegiatan wisata. Apakah mungkin aktivitas wisata mengambil lokus dalam ruang kudus? Bolehkah kita 'bersenang-senang, bersantai-ria', ketika memaduki 'area yang suci'?

Namun, rasanya tidak ada yang tidak mungkin dalam zaman yang ditandai dengan globalisasi dan sekularisme semua dimensi kehidupan seperti sekarang ini. Garis demarkasi antara yang kudus dan yang profan semakin kabur. 

Segalanya bisa 'dirasionalisasi' seturut logika kepentingan dari manusia itu sendiri. Pemaknaan terhadap sebuah 'tempat/simbol/ruang (yang dulu dianggap suci) sangat bergantung pada 'kebutuhan pragmatis' yang hendak diburu.

Untuk kemajuan industri wisata misalnya, kita rela 'membiarkan' tempat-tempat suci menjadi 'arena rekreasi (baca: kepuasan inderawi) bagi wisatawan. Kita 'tega' menjual 'simbol-simbol' iman itu untuk memenuhi 'kesenangan' sesaat para wisatawan. 

Rupanya, logika ekonomisme (memburu untung) sudah merasuk dalam pikiran kita sehingga mata hati menjadi buta untuk 'merawat kesucian' dari tempat atau simbol tersebut.

Frase 'wisata religi' tidak tanpa risiko (negatif) dalam pemaknaan dan aplikasinya. Sudah jelas bahwa 'unsur wisata' lebih dominan ketimbang religi dalam penerapannya. Religi hanya sebagai 'atribut asesoris' untuk menarik minat wisatawan.

Patung Tuhan Yesus: Simbol Iman atau Obyek Wisata?

Dari penjelasan ringkas di atas, saya coba menganalisis tema 'mendirikan Patung Tuhan Yesus' di kota Labuan Bajo. Intensi dan motivasi pembangunan patung itu, jika mengacu pada pernyataan Nono Sampono dan Gusti Dulla, adalah memperkaya opsi spot wisata berkelas serentak 'memaknai' predikat Labuan Bajo sebagai 'destinasi super premium'. Tegasnya patung itu bakal 'disulap' menjadi salah satu spot wisata religi di sini.

Pertanyaan kita adalah apakah 'patung itu' masih dianggap 'simbol kesucian' ketika dijadikan 'area terbuka' untuk bersenang-senang dan rekreasi? Apa sebenarnya yang 'mesti' dilakukan oleh orang beriman katolik terhadap patung itu? Apakah kita 'ikut menikmati keuntungan' dengan cara membiarkan semua kalangan masuk dalam kawasan itu? Apakah patung itu masih berfungsi sebagai 'sarana penguatan iman kristani' atau sekedar obyek pemuas kesenangan belaka?

Karena itu, sebelum kita mengambil sikap untuk 'menolak atau mendukung' gagasan pembangunan patung itu, pemda perlu berdiskusi secara intensif dengan para 'tokoh katolik' dan tokoh budaya perihal 'arah pemanfaatan patung itu nanti. Kita mesti mendapat penjelasan yang detail 'soal agenda' menghadirkan spot wisata religi tersebut.

Jika tujuan utamanya hanya untuk 'memburu dollar', saya kira kehadiran patung itu, memang penting, tetapi tidak terlalu urgen. Tetapi, seandainya Pemda dan para tokoh agama Katolik melihat bahwa fenomen kemerosotan iman begitu menguat di sini sehingga perlu upaya alternatif untuk menghidupkan iman umat, maka rencana tersebut layak diapresiasi. 

Tentu, harus bisa dipastikan bahwa area di mana patung itu berdiri menjadi 'oase iman' bagi penganut katolik. Lokasi itu menjadi 'tempat ziarah' guna mendapatkan penghiburan rohani yang besar.

Saya sendiri tidak mau terjebak dengan alasan yang dangkal dalam mendirikan patung itu, seperti 'penonjolan identitas kekatolikan akan kota ini' dan lokasi wisata religi. Identitas kekatolikan itu tidak identik dengan atribut, tetapi 'penghayatan konkret' dari ajaran agama itu sendiri.

Akhirnya, kita menunggu 'rencana lanjutan' dari wacana besar itu sekaligus memberikan masukan positif agar kehadiran patung itu tidak bersifat kontraproduktif bagi praksis iman katolik itu sendiri. Selamat dan profisiat kepada Pemda Mabar yang berani melontarkan ide brilian ini. 

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.

Tulisan ini sudah dimuat di floresnews.net
×
Berita Terbaru Update