-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mencinta Sebuah Panggilan Sejati

Jumat, 14 Februari 2020 | 09:19 WIB Last Updated 2020-02-14T06:51:42Z
Mencinta Sebuah Panggilan Sejati
Cinta (Gambar; uviupi)

Mencintai merupakan pengalaman sehari-hari manusia. Sebagai pengalaman sehari-hari, mencintai selalu mengandung arti terlibat. Artinya aku dipanggil untuk mencintai yang lain. Yang lain itu aku anggap sebagai diriku yang lain. Yang oleh kehadirannya memampukan aku untuk terus menerus membuka diri dan mengarahkan diri kepadanya. 

Cinta model yang demikian oleh seorang filosof Yunani Klasik bernama Empedokles menyebutnya sebagai cinta yang menyatukan. Cinta menyatukan. Ia bukan menceraikan. Maka cinta yang demikian mesti dihayati dalam pengalaman sehari-hari, yakni pengalaman perjumpaanku dengan sesamaku.

Setiap manusia mendambakan cinta dalam hidupnya. Dambaan akan cinta itu menunjukan bahwa cinta itu sebuah energi yang bersifat menyerukan atau panggilan. Mengapa dikatakan demikian? 

Armada Riyanto dalam bukunya Menjadi Mencintai mengatakan bahwa “Cinta adalah itu yang dirindukan semua orang. Segala manusia merindukannya, mengharapkannya, jatuh bangun mewujudkannya dan menghidupinya. 

Cinta adalah kerinduan manusia. Cinta identik dengan kehidupan itu sendiri. Semua yang memandangnya bangkit dari keterpurukan. Semua yang memeluknya seolah seperti menyeberangi kematian kepada kehidupan (Armada Riyanto, 2013, 157).” 

Gambaran Cinta yang dikatakan Armada memantik rasa kagum manusia. Ternyata cinta itu begitu dasyat. Bayangkan bagaimana seandainya manusia tidak mempunyai Cinta. Apakah manusia bisa mengecap kebahagiaan, kebenaran, kebaikan, keindahan dan lain sebagainya. 

Cinta merupakan gambaran kehadiran manusia. Adanya manusia tidak pernah terlepas dari cinta. Cinta itu melekat pada manusia. Dengan kata lain, Cinta adalah dasar dari segala yang ada. Hal itu nampak dalam kisah penciptaan. Di sana digambarkan cinta yang begitu kreatif. Cinta itu membuat segalanya mengada dan menjadi. 

Mencintai mengandung pula panggilan kepada kesempurnaan. Perjalanan kepada kesempurnaan tidak bisa melalui jalan lain selain daripada jalan Cinta. Sebab segala sesuatu ada karena Cinta dan dalam Cinta. 

Maka sebagai tanggapan atas Cinta itu manusia pun berjalan dalam jalan yang sama yaitu jalan Cinta. Dan Cinta tidak lain ialah Yesus Kristus sendiri sang Guru Sejati. Ia yang telah datang dalam Cinta dan mati pun karena Cinta. Maka jika jalan yang sama ditempuh oleh Sang Guru. 

Sebagai murid sudah sepatutnya jalan yang sama digunakan. “Sebab hanya Cinta yang merombak kematian menjadi kehidupan. Cinta menghalau kabut kegelapan dan memenuhinya dengan cahaya terang (Armada Riyanto, 2013, 168).”

Kita diajak untuk belajar mencintai seperti Sang Guru. Cinta sang Guru itu cinta yang membebaskan, menghidupkan, mengubah dan merangkul. Keunggulan cinta Sang Guru terletak pada kekuatannya yang mampu mengubah manusia. Cinta itu lahir dari sebuah persahabatan.  

Persahabatan mengandung relasi dan komunikasi timbal balik. Artinya persahabatan itu lahir dari perjumpaanku dengan Sang Guru.  

Persahabatan Tuhan dan Manusia hanya dimungkinkan ketika hubungan antarsesama manusia adalah relasi sikap-sikap penolakan atas kemunafikan, kebencian, dan balas dendam. 

Relasi persahabatan menjadi mungkin ketika dominasi kepalsuan dan manipulasi berhenti. Persahabatan itu mungkin, ketika keseharian adalah kebenaran; ketika kebersamaan adalah revelasi keadilan. 

Persahabatan dengan Tuhan terjadi ketika yang lemah, luka, derita mendapat perawatan dan penemanan. Persahabatan itu ialah ketika aku membuka tangan menyambut siapa pun dan belajar menjadi sahabat bagi siapa saja, terutama yang membutuhkan (Armada Riyanto, 2017:35).”

Persahabatan yang demikian tentu merupakan sebuah persahabatan yang lahir dari cinta itu sendiri. Cinta merupakan roh pershabatan. Dengan demkian dari artian itu dapat dikatakan bahwa mencintai merupakan sebuah panggilan untuk menghargai yang lain. 

Mencintai paling luhur lahir dari kenyataan persahabatan manusia dengan Tuhan. Persahabatanku dengan Tuhan mengimbauku untuk mengarahakan hidupku bagi yang lain.  

Persahabatan itu kemudian mengantar manusia untuk menghargai yang lain. Di sinilah letak keagungan cinta. Cinta itu bukan sebuah aksara belaka. Cinta yang sempurna apabila manusia berani untuk melakukan sesuatu untuk orang lain. 

Oleh: Patrisius Epin Du, SMM 
Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Widya Sasana Malang, tinggal di seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan Malang.
×
Berita Terbaru Update