-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mgr. Siprianus Hormat dan Saya: Sebuah 'Kairos' Perjumpaan

Sabtu, 29 Februari 2020 | 14:27 WIB Last Updated 2020-02-29T07:39:00Z
Mgr. Siprianus Hormat dan Saya: Sebuah 'Kairos' Perjumpaan
Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr. Sipri Hormat, Pr

Oleh: Sil Joni*

Hampir semua media lokal secara serempak menurunkan berita seputar suasana 'kedatangan Uskup Ruteng terpilih, Mgr. Siprianus Hormat' di tanah wisata, Labuan Bajo pada Hari Juma't, (28/2/2020). Diberitakan bahwa Mgr. Sipri disambut secara adat baik di ruang tunggu Bandara Komodo, maupun di Kevikepan Labuan Bajo. Tidak hanya itu, 'perjamuan malam' bersama bupati Mabar di rumah jabatan bupati, juga tidak luput dari perhatian juru warta. Dari pemberitaan itu, kita menangkap kesan besarnya antusiasme dan optimisme umat dalam menyambut sang gembala dan terlebih menyongsong wajah Gereja Lokal (Keuskupan Ruteng) di bawah kepemimpinan beliau.

Saya sendiri, sebetulnya pada hari itu, tidak pernah tahu kalau Uskup Sipri 'tiba' di Labuan Bajo dan disambut secara meriah oleh umat dan para klerus di sini. Secara kebetulan, setelah santap siang, seorang teman, mengajak saya ke Bandara Komodo untuk 'menyaksikan' acara penjemputan dan penerimaan Yang Mulia Uskup Siprianus. Mendengar 'nama itu', saya begitu bergairah dan tanpa basa-basi bergerak menuju Bandara. Pasalnya, uskup Sipri dan saya mempunyai 'kenangan perjumpaan' yang sangat berkesan  ketika kami pernah menenun sejarah di STFK Ledalero dengan status yang berbeda. Uskup Sipri sebagai dosen dan staf pembina di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret dan saya sebagai mahasiswa awam (non frater) yang 'bertapa' di bawah kaki bukit Ledalero alias Wairpelit.

Nostalgia 'saat-saat penuh rahmat (kairos) kisah perjumpaan di 'bukit Sandar Matahari (arti Ledalero dalam bahasa setempat) belasan tahun lalu 'kembali terlintas' dan memotivasi saya untuk 'bersua wajah' dengan sang Uskup di bumi Mabar, tentu dengan latar tempat, waktu, dan suasana yang berbeda. Ternyata, kairos perjumpaan itu tak pernah redup. Mgr. Sipri tetap tampil sebagai pribadi yang ramah, simpatik, rendah hati, murah senyum, dan berwibawa. Beliau 'tetap' mengenal 'wajah salah satu mantan mahasiswanya, yang sekarang terlihat 'kurus' dan menua. Sebuah ingatan yang mengalirkan rasa bahagia. Beranda tengah rumah Kevikepan Labuan Bajo menjadi 'tempat bersejarah' perihal perjumpaan penuh rahmat untuk kedua kalinya dengan 'sosok gembala' yang sangat saya kagumi.

Atas dasar itulah, saya merasa perlu untuk mengabadikan momen perjumpaan itu melaui jepretan lensa naratif mini ini. Selain itu, tentu goresan ini sebagai sebuah 'persembahan' yang mungkin tak berarti bagi Mgr. Siprianus dari saya, yang pernah 'mengembara di bukit Logos' dan sekarang menjadi 'guru kecil' di sebuah sekolah vokasi, SMK Stella Maris.

Sebagai catatan, tulisan ini sebenarnya pernah dimuat dalam laman fb kami dan media daring komodopos.com. Tetapi, mengingat nafas dasar tulisan itu, bercerita tentang 'perjumpaan penuh rahmat' antara Uskup Sipri dan saya, maka ada baiknya jika tulisan itu diterbitkan lagi dengan beberapa catatan perbaikan dan tambahan.

Desas-desus seputar 'siapa' yang menduduki 'takhta Keuskupan Ruteng', sudah terjawab hari ini, Rabu, 13/11/2019. Pihak otoritas Vatikan (pusat Gereja Katolik Roma) secara resmi mengumumkan Rm. Dr. Siprianus Hormat, Pr sebagai Uskup Ruteng yang baru. Yang Mulia, Mgr. Siprianus Hormat, ditunjuk Vatikan untuk menempati 'takhta yang lowong' pasca-pengunduran diri Mgr. Hubertus Leteng dua tahun yang lalu.

Tulisan ini merupakan ekspresi penghormatan secara pribadi terhadap uskup baru tersebut. Kebetulan, Mgr. Sipri pernah menjadi salah satu dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, di mana saat itu saya menjadi salah satu mahasiswanya. Secara pribadi, saya 'mengenal' Mgr. Sipri ketika beliau mengajar 'mata kuliah' Moral Seksualitas untuk para mahasiswa semester VII, tahun 2007.

Sebetulnya, Rm. Sipri, demikian sapaan akrab dari sang uskup, tak punya cukup waktu untuk mengenal secara mendalam para mahasiswa non-frater (awam) seperti saya kala itu. Selain sebagai dosen, beliau juga merupakan salah satu pendaping atau staf formator untuk para calon imam diosisan di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Praktisnya, dengan posisi dan beban tugas seperti itu, tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengenal mahasiswa bukan frater yang tinggal di komunitas Ritapiret, apalagi mahasiswa awam seperti saya.

Namun, saya termasuk 'mahasiswa beruntung' yang bisa 'mencuri perhatian' beliau di tengah kesibukannya sebagai dosen di STFK, dosen tamu di STKIP St. Paulus Ruteng (sekarang Universitas Katolik St. Paulus) dan staf formator para calon pastor di Seminari Ritapiret.

Rm. Sipri mulai 'mengenal nama saya', dari seorang 'rekan mahasiswa' yang sedang menggarap skripsi. Pembimbing skripsinya adalah Rm. Sipri sendiri. Rekan mahasiswa ini 'mengalami kesulitan' dalam merampungkan tulisan tersebut. Tulisan itu 'dinilai belum matang' oleh Rm. Sipri meski sudah dikoreksi berkali-kali. Rasa 'frustrasi' mulai terlihat dalam diri mahasiswa itu. Entah mengapa, si mahasiswa berdiskusi dengan saya perihal persoalan itu seraya meminta kesediaan saya untuk 'mengoreksi' tulisan tersebut.

Tidak mudah memang untuk 'meluruskan maksud' dan merapihkan logika dan metodologi penulisan dalan naskah mentah skripsi dari rekan mahasiswa itu. Tetapi, puji Tuhan, perbaikannya rampung juga. Itulah 'teks terakhir' yang ditunjuk ke dosen pembimbing sebelum karya ilmiah itu diuji. Rm. Sipri bertanya kira-kira 'siapa aktor intelektual' di balik naskah skripsi yang 'sudah final itu'. Si rekan mahasiswa menyebut nama saya.  Dalam sebuah obrolan di lorong kuliah, Rm. Sipri dan saya untuk pertama kalinya terlibat dalam sebuah perbincangan yang akrab, khususnya tentang 'riwayat penulisan dan bantuan dari Rm. Sipri dalam keseluruhan proses penulisan skripsi dari rekan mahasiswa tadi.

Sejak saat itu, Rm. Sipri selalu 'merekomendasikan saya' untuk membantu beberapa mahasiswa awam yang skripsinya dibimbing oleh beliau. Saya tidak ingat dngan pasti ada berapa mahasiswa awam yang saya bantu dalam menyelesaikan proses penulisan skripsi mereka.

Tetapi, anehnya saya sendiri 'kurang bergairah' untuk menggodok tulisan saya sendiri. Saya mengidap semacam 'rasa kurang percaya diri' ketika berurusan dengan proses penulisan skripsi saya sendiri. Efeknya adalah saya 'telat' dua tahun meraih gelar sarjana filsafat (S. Fil).

Adalah Rm. Siprianus Hormat, Pr yang sekarang menjadi uskup Ruteng, yang 'menyelamatkan saya' dari situasi krisis itu. Saya tidak tahu seperti apa 'riwayat akhir perjalanan akademik' saya di STFK seandainya Rm. Sipri 'apatis' dengan kondisi negatif yang saya hadapi saat itu.

Enam bulan (satu semester) menjelang 'deadline' untuk dinyatakan drop out, Rm. Sipri 'mencari tahu' mengapa saya belum tinggalkan STFK. Ternyata alasan utamanya adalah skripsi 'belum digarap sama sekali'. Rm. Sipri pun memperlihatkan empatinya dengan bersedia menjadi 'pembimbing proses penggodokan skripsi' itu.

Praktisnya, saya memanfaatkan waktu 3 (tiga bulan) untuk merampungkan skripsi itu. Saya menyerahkan naskah yang 'sudah jadi'. Skripsi itu tidak dikoreksi 'satu huruf pun' oleh Rm. Sipri. Beliau hanya mendorong saya untuk segera mempersiapkan diri mempertanggungjawabkan skripsi itu di depan dewan penguji STFK Ledalero. Dengan itu, saya 'lolos' dari lubang jarum ancaman DO dari STFK. Skripsi itu mendapat nilai A. Saya lulus dari STFK dengan predikat cum laude (terpuji). Predikat sebagai 'wisudawan terbaik' tidak diraih dengan mudah. Perjalanannya cukup panjang dan berliku-liku.

Nama Rm. Sipri tentu menjadi orang paling berjasa dalam mengakhiri pengembaraan akademik saya di 'bukit sandar mata hari' (arti ledalero dalam bahasa setempat) itu. Itulah mengapa di momen pemilihannya sebagai Uskup Ruteng, saya mempersembahkan sebuah 'tulisan spesial' untuknya. Saya sadar bahwa 'goresan ini' tentu terlalu miskin untuk sekadar dianggap sebagai 'satu bentuk ucapan terima kasih' kepada sang Uskup terpilih. Kasih yang diperlihatkan Rm. Sipri tentu jauh lebih luas dan dalam untuk disimplifikasi dalam permenungan mini ini.

Namun, hanya dengan 'kerja sederhana' semacam inilah yang bisa saya buat untuk mencurahkan 'rasa penghormatan saya' terhadap kebaikan sang Uskup itu. Saya tidak terlalu 'terkejut' ketika nama Rm. Siprianus Hormat, Pr ditunjuk oleh Vatikan sebagai Uskup Ruteng. Dengan spontan saya berguman, "Rm. Sipri sangat pantas mendapatkan kepercayaan sebagai 'Hamba Yahwe' di Keuskupan Ruteng ini". Saya sangat yakin bahwa 'mata hati Vatikan' tidak keliru untuk menerjemahkan keinginan Tuhan dalam memilih Rm. Sipri memangku jabatan rohani, Uskup di Keuskupan Ruteng.

Kita tentu mengucapkan profisiat dan selamat bertugas kepada yang mulia, Mgr. Siprianus Hormat, Pr sebagai 'penggembala' umat Allah (Gereja) di Keuskupan Ruteng. Sudah lama domba-dombamu, umat Katolik di sini, menantikan tuntunan sang gembala menuju 'padang rumput iman' yang hijau dan segar. Jadilah gembala yang rendah hati dan setia mengabdi pada kehendak Tuhan.

Akhirnya, sebagai seorang mantan murid yang pernah 'merasakan pancaran cintamu', dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih 'pertolonganmu' persis di saat saya kehilangan motivasi, kreasi, dan spirit akademik di STFK Ledalero 10 tahun lalu. Kini, sang guru dipercayakan Tuhan untuk menjadi 'Uskup' di keuskupan Ruteng. Tentu, sebuah kepercayaan yang patut disyukuri dan ditunaikan dalam bentuk tanggung jawab pelayanan tampa pamrih. Saya sangat yakin bahwa dengan bekal keterbukaan, sikap rendah hati, kedisiplinan, solidaritas, empati, kematangan emosi dan spiritual, Mgr. Sipri, bisa merespons kepercayaan Tuhan itu secara baik.

*Penulis adalah alumnus STFK Ledalero. Tinggal di Labuan Bajo.
Tulisan ini sudah dimuat di floresnews.net
×
Berita Terbaru Update