-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Orang Katolik Indonesia “Dididik” Allah Melalui Dua Menteri Agama Berlatar Belakang Militer

Kamis, 13 Februari 2020 | 00:19 WIB Last Updated 2020-02-12T17:20:17Z
Orang Katolik Indonesia “Dididik” Allah Melalui Dua Menteri Agama Berlatar Belakang Militer
Foto Gereja di Karimun diambil dari  melekpolitik.com

Kita semua masih ingat kan? Siapa itu letnan jenderal TNI H. Alamsjah ratu perwiranegara yang lahir di Kotabumi, Lampung Utara, Lampung, 25 desember 1925.

Dalam kabinet pembangunan iii (1978-1983) ratu Alamsjah diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai menteri agama. Tahukah anda, apa yang ia lakukan pada masa jabatannya sebagai menteri agama?

Ia membuat orang kristen, khususnya orang (gereja) katolik kecewa bahkan “marah” besar karena ia mengeluarkan SK No. 70 /1978 tentang tata cara penyiaran agama dan SK No. 77/1978 tentang bantuan luar negeri terhadap lembaga keagamanaan.

Orang kristen pada umumya (Katolik dan Protestan) merasa “denyut nadi kehidupan” bagi dinamika hidup menggereja mereka, dipotong secara sadis dengan adanya dua SK Menag ini.

Orang Kristen, khususnya orang (gereja) Katolik yang selama ini, dibantu oleh donatur luar negeri, tiba-tiba kelabakan karena semuanya pasti akan dihentikan mendadak. Matilah.........

Tapi sadar tidak? Justeru dua SK menag ini merupakan blessing indisquise (rahmat di balik petaka) bagi orang (gereja) Katolik Indonesia.

Gara-gara SK Menag ini, gereja Katolik Indonesia mulai terinspirasi untuk berpikir bagaimana menghidupi dengan konsisten, konsep paroki mandiri dan keuskupan mandiri.

Gereja Katolik justeru dibantu untuk menjadi gereja yang bermartbat, tidak harus terus-menerus mengemis tenaga misionaris dan uang dari luar negeri.

Negara seakan melihat, bahwa sudah saatnya gereja Katolik Indonesia harus mandiri dan menjaga martabatnya dalam membina umat Katolik, yang diharapkan dapat berperan dalam kehidupan bernegara.

Gereja Katolik Indonesia tidak harus menjadi “gereja pengemis” yang hanya menurunkan citra dan martabatnya sendiri, sebagai lembaga spiritual dengan tradisinya yang luhur.

Dan terbukti. Coba lihat, sekarang ini gereja Katolik Indonesia mampu mandiri dalam bidang pelayanan apapun, khususnya bidang finansial dan tenaga pastoral (imam, biarawan-biarawati).

Nah........sekarang, dalam kabinet Presiden Jokowi ini, terpilih lagi seorang menteri agama juga dari militer, pak Fachrul Razi, kelahiran aceh yang lumayan dalam iman Islamnya.

Dia baru menjabat. Tetapi baru lewat 100 hari lebih, pak menteri sudah membuat keputusan “kontroversial” yang menyebabkan orang Katolik marah “besar” dengan mengangkat pejabat Dirjen Bimas Katolik seorang Islam, M. Nur Kholis Setiawan. Heheh....kasihan sekali orang Katolik. Sial apa ya?

Tunggu dulu. Jangan emosi. Lagi-lagi mungkin ini moment blessing indisquise. Menurut saya, ini adalah kesempatan Allah tegas mendidik dan membentuk orang (gereja) Katolik Indonesia.

Orang (gereja) Katolik seakan ditantang oleh pak menteri agama, dengan pertanyaan menohok: bagaimana perhatian terhadap kualitas kaderisasi orang Katolik Indonesia?

Bagaimana gereja katolik indonesia mengkaderkan generasi mudanya untuk memimpin dalam bidang politik dan mungkin dalam bidang kehidupan yang lainnya?

Saya kira, jangan cepat persalahkan pak menteri. Orang (gereja) Katolik, perlu rendah hati belajar dari sejarah masa lalu.

Nampak orang (gereja) Katolik seperti baru bangun dari “mimpi tidurnya” ketika disentil atau dihadapkan pada moment-moment yang membuat mereka kaget-kaget dan lalu marah-marah.

Nah.....baiklah kita rendah hati, bertanya: sejauhmana gereja Katolik Indonesia memperhatikan visi kader yang dapat dinyatakan melalui pembinaan terhadap kaum mudanya, yang terbingkai dalam OKP seperti: PMKRI, Pemuda Katolik, OMK, dll?

Apakah gereja Katolik sungguh peduli dengan pengkaderan orang mudanya, agar kelak mereka mampu berperan dalam kehidupan politik, kehidupan berbangsa dan bernegara?

Kalau ternyata visi kader, tidak atau belum terlalu menjadi perhatian dalam proses pembinaan dalam tingkatan paroki, keuskupan dan KWI, maka maaf ya... Jangan marah, kalau ternyata Allah sendiri “turun tangan” mendidik orang (gereja) Katolik melalui tangan “orang lain” yang nampak menyakitkan, tetapi pada akhirnya kita insaf dan lalu mau berubah menjadi lebih baik dan lebih bermutu.

Jadi, secara historis, mestinya orang (gereja) Katolik berterima kasih kepada dua menteri yang datang dari militer ini, yang justru membuat orang Katolik sadar akan “pedagogi Allah” agar mereka berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan penuh rasa tanggungjawab.

Baiklah, orang (gereja) Katolik Indonesia rendah hati sambil konsisten merenungkan bahwa, bukan tidak mungkin, Allah sedang membentuk hidup mereka, agar lebih bernas dan bermutu sebagai umat beriman dalam membangun negeri tercinta ini.**

Surabaya, 11 februari 2020

P. Fritz Meko, SVD
×
Berita Terbaru Update